Dulu Urus Ban Mobil, Kini Sukses Jadi Desainer Aksesoris Kelas Dunia

Perancang Aksesoris kelas dunia, Rinaldy A Yunardi

Terkini.id, JakartaMenyandang nama Rinaldy A Yunardi sebuah anugerah baginya karena memiliki bakat alami yang diberikan Tuhan kepadanya. Karyanya telah menembus pasar Hollywood dan dunia.

Sebut saja, penyanyi dan aktris papan atas dunia seperti Taylor Swift, Beyonce, Nicki Minaj, Madonna, Kyle Jenner, Christina Aguilera, Katy Perry dan masih banyak lagi mungkin sudah tak terhitung jumlahnya.

Namun, dengan kesuksesan itu ternyata ada kisah perjuangan dan jerih payah yang pernah ia lakukan hingga akhirnya ia banyak mendapatkan penghargaan kelas dunia atas karyanya.

“Aku tidak pernah berpikir atau bercita-cita, mimpi pun enggak. Coba membayangkan 24 tahun yang lalu dunia fesyen kan belum keliatan, lalu bagaimana saya bisa masuk kedunia fesyen? ini kan kalau dulu kan temen ditanya pengen jadi apa, jadi ini jadi itu mereka sudah punya tujuan, kalau saya lulus ingin kerja saja,” kesan Rinaldy.

Tak Lanjut Sekolah dan Bekerja di Perusahaan Ban

Menarik untuk Anda:

Rinaldy muda saat ditanya oleh sang mama Apakah dirinya ingin melanjutkan ke perguruan tinggi, ia memilih untuk langsung bekerja karena tak ingin menyusahkan sang kakak yang telah menjadi tulang punggung keluarga.

“Pernah ditanya sama orang tua, mau apa setelah lulus SMA?, Kuliah?, aduh saya mah tau diri orangnya, kan Almarhum Papa dulu sudah pensiun terus kakak aku yang punya pabrik elektronik. Dia yang menjadi tulang punggung keluarga,” cerita pria yang akrab disapa Yungyung ini saat ditemui jakarta.terkini.id di Showroom miliknya di Pluit, Jakarta Utara.

Alasannya ia menolak juga karena ia sadar diri karena sang kakak sangat berjasa di keluarganya. Lalu Yungyung merasa dalam hal pendidikan ia merupakan siswa yang biasa saja meski saat di bangku SMA ia pernah mendapat peringkat ke-4 dikelasnya.

Setelah lulus sekolah, ia memutuskan untuk bekerja untuk membantu ekonomi keluarga agar meringankan beban sang kakak. Setelah itu, ia diajak seorang teman untuk bekerja bersamanya di sebuah perusahaan ban mobil.

“Setelah lulus sekolah, saya diajak temen untuk kerja di perusahaan ban mobil bagian marketing official, yang dimana kerjanya terima telepon, catat orderan,” katanya.

Meski bekerja di bidang yang tidak diminatinya, namun Rinaldy sangat bersyukur atas pelajaran hidup dan pengalaman yang berharga pada masa itu.

“Itu suatu pengalaman yang indah dimana saya belajar banyak untuk sabar dalam  menghadapi  banyak orang yang hingga kini ia pakai ilmunya saat bertemu dengan para pelanggannya,” jelasnya.

“Kesabaran itu yang saya pelajari dulu. Jadi itulah. Lakukan dan cintai apa yang kamu lakukan.  Saya juga tidak bisa cinta dengan pekerjaan saya saat itu tapi kan itu moda untuk saya,” lanjutnya.

Dulu itu,kata dia bahagia banget dipindahin di bagian Kreditur Depitur, bagian kasir segala macamnya  sampai pajak. Itu semua akhirnya jadi modal bagi dirinya.

“Dari situ banyak pengalaman yang bisa saya ambil bagaimana saya menjalani pekerjaan selama dua tahun lebih itu,” kenangnya.

Iseng Berubah Designer Fashion Art of Accessories

Nasibnya bertemu dengan seorang Designer Bridal, Kim Tong membuat Yungyung mengenal sebuah Tiara cantik. Dan Ia memutuskan untuk mengikuti Kim Tong. Di saat itulah Ia mulai mencintai Tiara. Bergelut dalam fashion bridal, Yungyung mulai berteman dengan para pemilik bisnis bridal house dan salon karena pada saat itu istilah sosialita belum ada.

“Kalau sekarang mah namanya sosialita kalau dulu mah belom ada. Dulu mah bridal house, salon. Nah kenalin deh Tiara itu. Banyak yang pakai juga istilahnya kita menyewakan juga. Saya waktu itu hanya promosi dari mulut aja enggak seperti sekarang udah canggih,” katanya.

Ia juga mengaku sangat buta semua hal tentang Tiara. Dan ia mengatakan penikmat fashion dalam negeri tidak sebesar saat ini. Dan dikarenakan suatu hal Yungyung memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya.

“Dulu saya enggak tahu apa-apa tentang Tiara, tekniknya gimana buatnya, jadi modal mulut aja saya tawarin ke temen-temen. Dulu mah susah, dulu kan orang enggak percaya sama desiner Indonesia mereka mah taunya beli di luar. Jadi karena Bride House tidak berkembang banyak dan designnya juga enggak banyak. Selain itu, crown itu mahal dan import kan ya jadi enggak bertahan lama saya akhirnya hanya  setengah tahun saya mengikuti Alm. Kim Tong,” kenangnya lagi.

Yungyung mengaku sangat ingat betul bagaimana takdir membawanya hingga menjadi seperti ini setelah ia berhenti bekerja dengan Kim Tong, Yungyung mendapatkan pekerjaan lewat sang kakak. Pada suatu siang, Ia memutuskan untuk tidak makan siang dengan rekan kerjanya. Ia lebih memilih pergi ke pabrik milik kakaknya itu. Dan hal itu menjadi awal karirnya.

“Saya inget pada jam 12 siang. Saya enggak istirahat. Saya main di pabriknya, ada apaan sih gitu. Lalu Saya coba utak-atik, kabel, akrilik  dan potong-potong stereofoam. Lalu kok jadi kaya viktoria gitu kok lucu banget. Saat itu, Saya lupa tanggalnya, karena iseng, saya juga enggak tahu bisa tau-tau jadi seperti ini,”ceritanya.

Menurutnya bakat ini merupakan berkah dan kasih Tuhan, karena ia merasa tidak pernah belajar design tapi dapat menciptakan karya yang luar biasa. “Dan akhirnya saya berhasil membuat tiara dengan Swarovski, lalu saya  tawari  ke Sebastian, Didi lalu ke  bridal house miliki Yohanes,” urainya.

Setelah itu, ia mengungkapkan Tiara miliknya laku dipasaran.

“Meledak di situ. Dari situ Saya percaya diri bahwa karya saya bisa menghasilkan uang,” ungkapnya.

Meski banyak yang melirik karyanya, perjuangan Yungyung  tak hanya sampai situ untuk mencapai kesuksesan. Dengan ojek yang ia sewa untuk seharian, Yungyung menawari produk tiaranya dari satu salon ke salon lain.

“Itu masih kerja sama kakak, jadi pas weekend, aku belanja bahan-bahan, lalu kirim pesanan. Kerjain tiap malam pesanannya,” katanya.

Tidak hanya Tiara, Rinaldy kemudian membuat berbagai macam aksesori seperti kalung, gelang, cincin, dan hiasan kepala dengan ragam bahan material tidak biasa, antara lain akrilik, kawat, paper clay, ijuk, tali, bulu, kertas, rambut, kayu, dan lain-lain.

Rinaldy menyebutkan nama profesinya adalah desainer fashion art accessories, karena merupakan karya seni dengan menyertakan sentuhan hati yang cenderung mengarah ke fesyen daripada perhiasan semata.

Anggap Guru Seorang Panutan Hidup

Hampir 25 tahun Rinaldy berkarya, kini ia merasa lebih pantas untuk membagikan ilmunya kepada generasi penerus fashion Indonesia, khususnya fashion aksesoris.

Ia mengaku bukanlah orang yang tertutup namun dahulu ia merasa belum layak untuk melabeli dirinya sebagai “pengajar”.

Ia mengatakan, bukan lahir dari seorang guru dan merasa dahulu belum layak untuk itu.

“Kalau dulu saya masih belum mau membagikan apa yang saya punya, bukan karena saya pelit. Karena saya merasa diri saya belum saatnya jadi guru ya, kan sementara saya belajar dari nol. Dan saya bukan seorang yang belajar yang dari guru juga, Apakah pantas saya menjadi seorang guru?,” terangnya.

Jika melihat ke belakang, saat itu ia merasa mendapatkan uang dengan mengajar fashion mungkin sangat mudah namun ia merasa belum layak dan sedangkan dahulu ia masih belum banyak pengalaman.

Masih kata dia. dulu semua cari duit gampang, ayok saya ajarin, tapi kan apakah saya pantas? Beberapa tahun udah sok ngajarin orang, kan itukan jadi guru harus dihargai, enggak asal beberapa tahun udah bisa bilang mau ajarin orang, kan jadi guru itu panutan. Dari panutan itu bukan hasil karya, tapi dari mana orang ini dan bagaimana guru saya ini jadi seorang designer.

”Guru Itu panutan. Misalnya, saya ingin mengenal Rinaldy itu seperti apa bagaimana ia mendapatkan dan memperjuangkan ilmunya. Bukan karena Rinaldy terkenal karena Tiara ini ayo ngajari orang lain, udah terkenal nih di dunia, contohnya saya baru terkenal baru setahun, itu instan sekali. itu akan menjadi rusakkan,” lanjutnya.

Kini setelah berpuluh tahun, ia mulai menerima tawaran jika ada yang memintanya untuk mengisi workshop. Namun, jika memang harus mengajarkan seseorang, ia tak ingin menciptakan seorang “Rinaldy A. Yunardi” tapi menciptakan bakat alami orang itu sendiri.

“Saat ini kalau misalnya ada sekolah fashion yang butuh Saya untuk berbagi ilmu lewat workshop. Saya iyain, seminggu sekali tapi saya tidak mengajarkan teknik, saya mengajarkan apa yang ada diri murid itu, karena itu lebih berat,” tegasnya.

“Jadi kalau saya mengajari yang seperti saya, akan banyaklah designer seperti saya. Saya ingin mengajari seseorang agar menjadi designer dengan apa yang adanya dirinya, khas dirinya sendiri bukan seperti Rinaldy,” terangnya.

Tak ingin Pensiun dan Ingin Punya Museum sendiri

Sebagai seorang masterpiece di dunia fashion, Rinaldy mengaku tak ingin berhenti dari dunia yang telah membesarkan namanya ini. Ia mengungkapkan ingin terus berkarya dan keinginan terbesarnya ia ingin memiliki museum atas karyanya sendiri.

“Saya tidak ingin pensiun. Saya hanya memohon sama Tuhan agar diberi kesehatan agar bisa terus berkarya. Dan saya ingin Indonesia punya museum fashion sendiri dengan memiliki museum karya- karya seperti Itang Yunasz, Didi Budiardjo pun bisa dipajang,” pungkasnya.

“Dan juga  baju karya Iwan Tirta yang udah enggak ada juga harus dipajang. Atau Kim Tong tuh yang ngedesain baju pengantinnya Susi Susanti nah harus ada tuh dipajang.  Hal itu akan memperlihatkan pada generasi mendatang dan dunia tentang sejarah  mode fashion di Indonesia,dan ya disampingnya bisalah museum kecil untuk saya,”ungkapnya tertawa.

Selain itu, Yungyung pun berpesan agar designer muda Indonesia lebih bakat yang ia miliki dengan sepenuh hati. Dan ia juga sangat berpesan untuk lebih mempertahankan dan menjaga mode fashion Indonesia.

“Bila mana jika ingin terjun ke dunia mode Indonesia cintailah dengan sepenuh hatimu dan jadikan fashion ini bagian dari hidup dan harus mempertahankan, menjaga fashion Indonesia lebih dan lebih baik lagi,” pesannya.

Dan menurut Rinaldy yang paling penting adalah konsekuensi. Hal itu terlihat, bagaimana seseorang  menjadi designer, bagaimana seorang designer mengambil title ini untuk hidup dan masa depan fashion Indonesia.

“Jadi bukan egois. Intinya jangan asal dan buatlah karya sesuai apa yang murni dari diri dan tak keluar dari kultur Indonesia,” imbuhnya.

Dan disamping itu, menurutnya, peran media juga sangat penting untuk kemajuan fashion tanah air.

“Saya berpesan jangan asal menyiarkan berita yang tidak pantas untuk diberitakan karena berita yang baik dan berkualitas menjadikan fashion Indonesia indah di mata dunia,” tutupnya.

Konten Bersponsor

Mungkin Anda Suka

Kerjanya Pungut Sampah, Pria Ini Bangun Perusahaan Rp 4 Triliun

Pernah Bangkrut, Kini Om Baldan Bangun Kembali Usahanya Lewat Galeridigital.com

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar