Empat alasan mengapa gempuran tenaga asing bukan masalah serius

ilustrasi tenaga asing

Terkini.id – Masuknya ribuan tenaga asing untuk bekerja di Indonesia beredar luas melalui media sosial.

Tenaga asing khususnya dari negeri Tiongkok yang bekerja di kawasan industri di Morowali, Sulawesi Tengah, paling banyak dikabarkan.

Disebutkan, ada sekitar 3.000 tenaga asing yang bekerja di wilayah tersebut, dan umumnya bekerja di perusahaan-perusahaan tambang di daerah itu.

Kementerian Tenaga Kerja mencatat, total tenaga asing asal Tiongkok di seluruh wilayah di Indonesia saat ini mencapai hingga 36 ribu orang.

Kalangan pekerja protes, karena masih banyak tenaga kerja Indonesia yang belum punya pekerjaan. Ditambah lagi, pemerintah mengeluarkan perpres yang mempermudah tenaga asing bekerja di Indonesia.

Tetapi ada sisi-sisi lain yang tidak terungkap, sehingga kabar-kabar itu tidak berimbang.

Tenaga asing digaji dari investasi asing

Inti dari kebijakan kemudahan tenaga kerja asing masuk dan bekerja di Indonesia adalah membuat investasi asing tetap terjaga, sehingga uang dari hasil investasi asing yang masuk bisa berputar di Indonesia, dan memacu perekonomian.

Umumnya, tenaga asing bekerja di sebuah proyek atau perusahaan hasil investasi asing. Artinya Indonesia tidak rugi, karena gajinya dari luar negeri. Tentu berbeda jika tenaga asing tersebut digaji dari hasil keringat orang-orang Indonesia.

Menurut Menteri Perindustrian,  jika perpres kemudahan tenaga asing bekerja tidak dikeluarkan, dikhawatirkan investor banyak yang kabur.

Banyak tenaga asing, tapi tenaga kerja Indonesia jauh lebih banyak

Presiden Joko Widodo, menjelaskan, tenaga kerja asing asal Tiongkok berat untuk bekerja di Indonesia, karena standar gaji mereka jauh lebih tinggi. Mereka juga mengisi bidang pekerjaan yang tidak disanggupi oleh banyak pekerja lokal Indonesia.

“Mereka (Tenaga asing) yang bekerja di sini itu cuma untuk bidang tertentu. Jadi kalau ada 100 tenaga kerja Indonesia, mungkin ada satu tenaga kerja asing yang ahli,” jelas Jokowi kepada wartawan.

Sebagai contoh, investasi industri tambang di Morowali, memang menyerap tenaga kerja dari Tiongkok dalam jumlah besar, hingga sekitar 3.000 orang. Namun, industri tersebut juga menyerap hingga 25 ribu tenaga lokal.

Dengan uang dari investor asing dalam jumlah besar yang digelontorkan ke Indonesia, daerah tetap diuntungkan. Daripada investor tersebut memilih berinvestasi ke negara lain, peluang pekerjaan untuk 25 ribu tenaga lokal pun bisa hilang.

Bandingkan dengan jumlah TKI di luar negeri

Salah satu ukuran untuk memahami besarnya jumlah tenaga kerja asing dari Tiongkok, adalah membandingkan tenaga Indonesia yang bekerja di negeri tirai bambu tersebut.

Menteri Tenaga Kerja, Hanif Dakhiri, menyebutkan, tenaga kerja Indonesia yang bekerja di China, adalah sebanyak 170 ribu di Hong Kong, 200 ribu di Taiwan, dan 20.000 di Makau. Sedangkan tenaga kerja China di Indonesia, totalnya cuma 36 4ibu orang.

Era Industri 4.0

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyebutkan, kita harus mendorong investasi di era revolusi industri keempat ini, atau biasa disebut industri 4.0, yang banyak terkait dengan digitalisasi

“Pekerjaan dalam era digitalisasi itu disimpan di dalam negeri. Tidak dikerjakan di luar negeri. Terutama untuk pengembangan software dan lainnya,” kata dia.

Jika para ekspatriat atau tenaga kerja asing tersebut tidak diberi kemudahan, misalnya pengurusan perpanjangan visa, Investor juga merasa kesulitan. Sehingga, para tenaga asing pulang ke negaranya, dan investor memindahkan proyeknya ke negara lain. Padahal, jika proyek tersebut di dalam negeri, banyak sektor lain yang digerakkan.

Komentar

Rekomendasi

Lawan Penyebaran Covid-19, MYKO Tutup 4 Restoran untuk Sementara Waktu

Dukung Imbauan Pemerintah, MYKO Sementara Waktu Tak Terima Acara Wedding

Begini Cara MYKO Cegah Penyebaran Covid-19 di Area Hotel

Bos XL Axiata, Allan Bonke Mengundurkan Diri di Tengah Wabah Corona

REI Minta Cicilan KPR Ditunda karena Corona, OJK: Sudah Dibuat Ketentuannya

6 Hal Ini Perlu Dilakukan UKM Menghadapi Kecemasan Ekonomi Karena Virus Corona

Indonesia Ekspor Masker Besar-besaran ke China hingga Singapura, Pantas Langka

Kabin Lebih Luas, Masyarakat Indonesia Gemari MPV Wuling Confero S

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar