Fakta-fakta keterkaitan jaringan terorisme JAD dan ISIS

jaringan teroris
Fakta-fakta keterkaitan jaringan terorisme JAD dan ISIS. (foto/tempo.co)

Terkini.id – Jamaah Ansharut Daulah (JAD) diduga mendalangi aksi teror di kota Surabaya dengan melakukan pengeboman bunuh diri di tiga gereja sekaligus.

Penyerangan yang dilakukan sekeluarga ini dituduh sebagai tindakan pengecut dan biadab karena mengikutsertakan kematian dua anak perempuan pelaku.

Akibat dari teror ini, beberapa korban berjatuhan dan jumlahnya terus bertambah dari waktu ke waktu. Pertanyaan pun muncul, siapakah kelompok JAD ini? Dan apakah hubungan mereka dengan ISIS?

Bernama lain Jamaah Anshorut Daulah Khilafah Nusantara (JADKN), kelompok ini didirikan pada tahun 2015. Jamaah Ansharut Daulah terdiri dari sekitar 24 orang dan terpecah menjadi beberapa faksi, termasuk kelompok Jamaah Ansharut Tauhid (JAT).

Menurut catatan Global Security, JAD mendukung ideologi ISIS serta membantu ISIS dalam menyebarkan teror di Indonesia. Pendiri dari JAD adalah Aman Abdurahman yang sekarang sedang berada di balik jeruji dan sempat berada di bentrokan Mako Brimob, Kelapa Dua pada hari Rabu malam kemarin, 9 Mei 2018.

Sempat dikenal sebagai guru agama syariat Islam murni, Abdurahman digadang-gadang sebagai otak di balik banyak aksi teror di Indonesia, termasuk pengeboman di Sarinah pada tanggal 14 Januari 2016.

Dari keterangan saksi, Aman Abdurahman merupakan salah satu orang yang paling mengerti ajaran ISIS. Aman bahkan menuliskan buku tawhid yang dijadikan buku panduan bagi kelompok teroris yang juga digunakan oleh JAD.

Dari beberapa cabang yang dibukanya, baru cabang JAD Surabaya yang melakukan serangan. Hasil identifikasi membuktikan bahwa pelaku pengeboman Gereja Pusat Pentekosta Surabaya adalah Dita Supriyanto, Ketua JAD Surabaya.

Pada malam harinya, dua pelaku lain melakukan bom bunuh diri dengan beridentitas Ikhwan Nurul Salam dan Ahmad Sukri di Kampung Melayu.

Melalui jaringan internet, pembuatan bom dengan mudah didapatkan oleh para teroris JAD terutama dengan online training pemberian Bahrun Naim, seseorang yang diduga sebagai Koordinator ISIS menurut laporan Merdeka.

Guna mendukung penyebaran mereka, JAD menggunakan doktrin Takfiri yang disebarkan melalui jejaring sosial. Doktrin Takfiri mengharamkan segala sesuatu yang tidak berasal dari Tuhan.

“Sehingga muslim yang dianggap tidak sepaham dengan mereka dianggap kafir,” kata Tito pada tanggal 26 Mei tahun lalu.

Melalui ajaran mereka, polisi pun dianggap sebagai kafir harbi yang dianggap memusuhi Allah, Rasulullah, dan kaum Muslimin sehingga mereka dijadikan sebagai target JAD.

Dalam kejadian ini, ISIS terkait secara tidak langsung menurut dugaan Kapolri, Tito Karnavian.

“Di peta negara luar, ISIS saat ini sedang terpojok, karena itu mereka menginstruksikan jaringannya untuk melalukan serangan,” jelasnya dilansir dari Kompas.

Menurut laporan Reuters, ISIS sudah mengklaim serangan Surabaya tersebut melalui agen pemberitaan mereka walau tanpa memberikan bukti yang lebih lanjut.

Meski begitu, ISIS sudah lama mengalirkan dana ke militan JAD guna penyebaran teror di Indonesia. Pada tanggal 10 Januari 2017,  JAD ditetapkan sebagai Specially Designated Global Terrorist yang menjadikan kelompok radikal tersebut diawasi secara ketat oleh Amerika Serikat.

Berita Terkait
Komentar
Terkini