Fakta-fakta yang menunjukkan Ekonomi Indonesia sulit tumbuh di atas 5,1 persen

Kepala Ekonom PT Samuel Aset Management, Lana Soelistianingsih, menjadi pembicara terkait Ekonomi Indonesia dalam gathering Jurnalis Sulawesi Selatan, di Hotel Papandayan, Bandung, Jumat 27 April 2018.

Terkini.id, Bandung – Kepala Ekonom PT Samuel Aset Management, Lana Soelistianingsih, tidak yakin dengan target pemerintah untuk memacu pertumbuhan ekonomi hingga 5,4 persen tahun 2018.

“Pemerintah sudah memasang target 5,4 persen (pertumbuhan ekonomi). Saya tidak yakin,” ujar Lana, saat menjadi pembicara terkait Ekonomi Indonesia dalam gathering Jurnalis Sulawesi Selatan, di Hotel Papandayan, Bandung, Jumat 27 April 2018.

Lana memprediksi, pertumbuhan ekonomi Indonesia cuma berkisar di angka 5,1 persen. “Kecuali jika pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa tembus 5,4 persen di triwulan pertama secara year-on-year (yoy), mungkin bisa,” ujar dia.

Beberapa faktor penting yang mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia, yakni daya beli, fiskal, hingga perbankan.

“Nah, yang menjadi masalah berat ini adalah di daya beli. Daya beli masyarakat ini banyak dipengaruhi oleh digitalisasi ekonomi,” katanya.

Faktanya, Product Domestic Bruto atau PDB Indonesia sekitar 60 persen dipengaruhi oleh belanja rumah tangga atau yang bersifat konsumtif: belanja di supermarket, mall, liburan, dan paling banyak adalah pembelian kuota internet dan gadget.

“Tingginya pekerjaan nonformal seperti gojek mempengaruhi daya beli. Pengemudi gojek dengan pendapatan tidak pasti, tentunya akan menahan belanja,” jelas dia.

Di era digitalisasi ini, juga banyak pekerjaan yang terdisrupsi karena perannya tergantikan oleh mesin.

“Sebagai contoh, dulu perusahaan garment mempekerjakan sampai 9 orang untuk menggunting baju. Sekarang, dengan mesin komputer, cukup satu unit mesin dan satu orang operatornya. Tinggal tekan tombol, pilih ukuran L atau XL, mesinnya jalan,” terangnya.

Saat ini, sejumlah perusahaan ritel di Indonesia melaporkan daya keuangan yang tidak bagus.

“Rokok Sampoerna kemarin sahamnya turun, Bank Mandiri turun, Astra dan Unilever juga sama,” katanya.

Fakta itu menunjukkan IHSG Indonesia melemah jauh, dan pelemahan nilai rupiah hampir tembus Rp 14 ribu per dolar AS.

Pada kesempatan tersebut, turut hadir Direktur Bank Indonesia Sulsel, Dwityapoetra S Besar.

Komentar

Rekomendasi

Jiwasraya dan Window Dressing

Dream Tour-Batik Air Buka Penerbangan Makassar-Jeddah, Bidik 20.000 Jemaah Per Bulan

Edhy Prabowo Genjot Rencana Ekspor Benih Lobster: Saya Tidak Akan Mundur

2020, BI Prediksi Ekonomi Sulsel Bakal Lebih Baik dari Tahun Ini

Sasar Pengguna Milenial dan Generasi Z, Indosat  Gandeng  Snapchat

Masih Banyak Pelaku UMKM di Makassar Belum Tahu Cara Promosi lewat Online

Ajak Anak-Anak Cinta Uang Logam, BI Gelar Gerakan Peduli Koin

Literasi Ekonomi dan Keuangan Syariah Justru Tumbuh Pesat di Barat

Kabar Gembira, Ada Program Khusus dari Astra Motor Makassar untuk Mitra Grab

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar