Fatayat NU dan Dinkes Sulsel Kampanye Cegah Masalah Stunting

Fatayat NU dan Dinkes Sulsel Kampanye Cegah Masalah Stunting

Terkini.id, Makassar – Pengurus Pusat organisasi otonom perempuan Fatayat NU menggelar acara orientasi Germas dan Stunting (tinggi badan anak di bawah rata-rata) di hotel Lariz, Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu-Kamis 21-22 November 2018.
Program ini merupakan kerja sama Pusat Promosi Kesehatan Kemenkes RI dan Fatayat NU ini berfokus pada Gerakan Masyarakat Sehat dan Pencegahan Stunting.

Acara tersebut dihadiri oleh Pejabat Kementerian Kesehatan RI Dirjen Pusat Promosi Kesehatan, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulsel dan Sekretaris Umum PP Fatayat NU, Margareth Aliyatul Maimunah.

“Fatayat NU bergerak untuk pencegahan stunting sejak tahun 2012 lalu melakukan deklarasi Barisan Nasional Cegah Stunting yang diprakarsai oleh anggota atau kader Fatayat di berbagai level” ujar Margareth.

Sebagai organisasi perempuan berbasis sosial keagamaan, Fatayat NU melakukan advokasi dengan banyak pihak. Dengan tokoh-tokoh lintas agama, eksekutif, legislatif, CSR dan bersama ormas-ormas lain.

“Upaya lain yang dilakukan adalah hearing dengan komisi-komisi di DPR RI. Harapannya ya mereka bisa membantu dari segi kebijakan sekaligus kepada beberapa Kementerian agar dapat di support secara maksimal dari segi program” imbuhnya.

Sulawesi Selatan memasuki tahun ketiga bagi Fatayat NU Wilayah Sulsel menjadi kepanjangan tangan dari Kementerian Kesehatan yang menjadi wilayah pertama yang melakukan gerakan masyarakat hidup sehat pada tahun 2016.

“Tahun 2016 menjadi organisasi perempuan pertama di Sulsel yang menjadi mitra pemerintah pusat dalam program Germas” jelas Nurul Ulfah, Ketua Wilayah Fatayat Sulsel.

Sementara itu, menurut Bayu Aji, pejabat Kemenkes dari Dirjend Promosi Kesehatan menyatakan selama ini Fatayat NU memiliki andil yang besar terhadap sosialisasi program-program pemerintah kepada masyarakat. “Karena Fatayat memiliki basis massa yang solid sampai akar rumput sehingga memudahkan kami menyadarlan masyarakat tentang germas ini”

Sebagaimana diketahui, angka stunting di Indonesia masih bertengger di angka 37,2 persen skala nasional. Di lokal Sulawesi Selatan beberapa kabupaten masih menduduki zona merah angka stunting. Empat yang tertinggi berdasarkan hasil PSG 2017 adalah Enrekang 45.9 persen; Tana Toraja 43 persen; Toraja Utara 42,4 persen; dan Pangkep 41,9 persen.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan, Bahtiar Baso mengatakan bahwa program-program prioritas untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat Sulsel terus digalakkan. Secara kuratif direncanakan pembangunan rumah sakit regional di beberapa titik kabupaten yang aksesnya masih sulit. Pengadaan mobil ambulans skala besar serta tunjangan biaya pendidikan bagi mahasiswa kedokteran spesialis.

“Langkah percepatan yang dilakukan pemerintah adalah terus menggalakkan intervensi 1000 hak pasien keluarga (HPK), karena di masa itu adalah kuncinya,” jelasnya.

Namun, disadari bahwa penyebab sensitif dari stunting adalah faktor-faktor lain sebanyak 70 persen. Di antaranya kebersihan lingkungan, pola asuh, sanitasi, paparan asap rokok, dan lain-lain turut menyumbang tingginya angka stunting dan bersifat jangka panjang.

Selain itu banyaknya angka perkawinan anak di beberapa kabupaten di Sulsel manjadi penyumbang besar tingginya angka stunting. Akibatnya, mata rantai kemiskinan dan stunting itu sendiri makin susah diputus.

“Nah, ini Fatayat bisa melakukan. Mengedukasi masyarakat untuk pencegahan stunting. Makanya saya ajak terus ayo Fatayat bantu kami pemerintah biar tercapai tujuan kita bersama dan beban pemerintah bisa jadi lebih ringan,” pungkasnya.

Berita Terkait
Komentar
Terkini
News

Atasi Kebakaran TPA Sampah Antang, Pemkot Kerahkan SKPD

Terkini.id,Makassar  -Pemerintah Kota Makassar nenyatakan pihaknya mengerahkan sejumlah SKPD terkai untuk disiagakan guna membantu dan mengatasi dampak kebakaran TPA Sampah Antang Kelurahan Tamangngapa Kecamatan