Film Susi Susanti: Penuh Haru, Membakar Semangat Nasionalisme

Terkini.id, Makassar – Jika ingin membangkitkan semangat nasionalisme dan rasa cinta tanah air, nontonlah film Susi Susanti: Love All.

Film yang mengangkat kisah sang legendaris Bulu Tangkis Indonesia Susi Susanti resmi tayang di sejumlah bioskop sejak 24 Oktober 2019 lalu.

Lewat biopik Susi Susanti, sutradara Sim F menjelaskan berbagai hal menarik: tentang sikap heroik, nasionalisme, hingga fakta tentang diskriminasi rezim orde baru terhadap masyarakat Tionghoa.

Salah satu adegan penting yang tidak lepas dari film tersebut adalah saat wanita keturunan Tionghoa itu menangis menghormat bendera di ajang Olimpiade Barcelona 1992.

Daniel Mananta yang sebelumnya juga memproduseri film Basuki Tjahaja Purnama dalam A Man Called Ahok (2018), menjadi produser pertama yang mengangkat kisah Susi ke dalam layar lebar.

Daniel bersama sutradara Sim F, memilih artis Laura Basuki untuk memerankan sosok Susi Susanti.

Sum F sukses menunjukkan bahwa Susi Susanti (Laura Basuki) bukan sekadar legenda bulu tangkis. Susi juga adalah pemersatu bangsa.

Adegan itu misalnya ditunjukkan saat tim Bulutangkis Indonesia bertanding dalam di Thomas Uber 1998 di Hong Kong. Saat itu, kerusuhan sedang terjadi di Indonesia dan berbuntut pada penjarahan rumah-rumah dan ruko warga Tionghoa.

Diceritakan, keluarga Susi Susanti di kampungnya harus mengungsi karena perusuh menyasar banyak warga Tionghoa.

Bukan cuma itu, Susi Susanti serta pelatih dan beberapa warga Tinghoa belum resmi menjadi warga Indonesia, lantaran Pemerintah Orde Baru saat itu tak kunjung menerbitkan Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia (SBKRI) untuk Susi dan keluarganya.

Meski dengan status belum menjadi warga negara dan keluarganya dalam bahaya, nyatanya Susi tetap menunjukkan jiwa nasionalismenya, memupuk semangat timnya untuk menjadi juara dalam ajang Thomas Uber 1998 di Hong Kong.

Makna 0-0 yang Berarti ‘Love All’

Film Susi Susanti juga sarat dengan pesan-pesan moral tentang kehidupan.

Salah satunya adalah pesan ayah kepada Susi Susanti tentang makna filosofis skor 0-0 yang dibaca ‘Love All’ oleh wasit.

Bahwa dalam bulu tangkis, kita harus mencintai semuanya, termasuk kepada lawan.

“Selain itu, untuk bisa menjadi hebat, lawanmu juga harus kuat. Kalau lawanmu payah, tidak hebat. Lawanmu harus kuat supaya kamu bisa mengalahkannya dan menjadi orang yang hebat,” pesan sang ayah, Risad Haditono (Ong Siong Lie) yang diperankan Iszur Muchtar).

Berita Terkait
Komentar
Terkini