Filosofi Ustad Abdul Somad Ini Pantas Diterapkan Selama Pilkada

Ustad Abdul Somad
Ustad Abdul Somad

Terkini.id – Ustad Abdul Somad dalam ceramahnya soal pilkada damai menjelaskan filosofi yang harus dipahami masyarakat dalam melaksanakan Pilkada.

Filosofi ini disebut filosofi sungai. Belajar dari sungai. Calon Kepala Daerah dan semua tim sukses, pendukung, dan simpatisan perlu membaca filosofi ini. Agar tidak tersesat karena Pilkada.

Berikut filosofi sungai Ustad Abdul Somad (UAS) yang bisa jadi pegangan selama Pilkada berlangsung :

1.Sungai jangan sampai kotor, butek, hitam, dan beku

Hulu sungai meski bersih. Kalau proses Pilkada diawali dengan cara kotor, dan money politik rusaklah hilir sungai.

Beberapa cara tidak elok yang sering ditemukan dalam Pilkada antara lain politik beras, bagi-bagi sembako, dan membagikan sarung bertuliskan nama dan nomor calon. Sampai orang yang sembahyang di belakang sarung kampanye pun tidak khusyuk.

Agar Pilkada langsung, umum, bebas, dan rahasia terwujud, UAS menyarankan pemilih yang beragama Islam melakukan salat istikharah. Meminta petunjuk kepada Tuhan Yang Maha Esa.

“Yang sogok dan menyogok sama-sama masuk neraka,” katanya.

Menurut UAS, masyarakat sekarang sudah cerdas. Diberikan uang Rp 50 ribu ditolak, Rp 500 ribu juga ditolak. Kalau Rp 5 juta juga harus ditolak.

Tentang makan duit haram dalam Pilkada, semua ulama sepakat. Asal dimakan duit haram, dibawa pulang ke rumah. Kemudian ditanak jadi nasi, disuap dalam mulut berubah jadi setetes darah, masuk ke tangkai jantung, menyembur naik ke otak, otak pun jadi kotor.

Ubun-ubun penuh dosa karena makanan haram.

Tak terkabul doa umat karena empat sebab. Makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan makanan haram yang disuap ke mulut anak yatim piatu yang bersih.

“Insyaallah selamat kita dari money politic,” ujar UAS.

UAS mengatakan, jika air sungai membeku, ikan dan buaya tidak akan terlihat. Sampan bisa terbalik. Jika hulu sampai hilir kotor, maka laut pun tercemar.

2.Kalau takut kena air, jangan bermain di tepi sungai

Risiko bermain di tepi sungai adalah basah. Berani main basah, artinya berani ikut bertarung. Siap menang dan siap kalah. Menang dalam keadaan kepala mendongak, kalah juga dalam keadaan kepala mendongak. Kita semua sudah berpartisipasi mencari pemimpin negeri yang terbaik.

Jangan mengejek yang kalah. Tidak usah bertanya-tanya lagi, mau kalah mau menang jangan diungkit. Karena hal itu akan melukai hati. Orang yang biasa ke masjid, kalah menang tetap ke masjid. Acara nikah, dan takziah tetap hadir. Kalau salat tetap kita salami.

Kalau bisul berjerawat jangan cerita, karena galah patah bisa disambung, kaca retak bisa direkat.

Hati sakit kemana obat akan dicari.

Jangan siram bensin di ladang kering, memercik api terbakar, tapi bawalah kesejukan.

27 Juni 2018, sejumlah daerah di Indonesia akan memilih pemimpin yang akan menentukan masa depan sebuah daerah.

Jangan hujan sehari hilang kemarau setahun.

Hidup adalah berani mengambil risiko, risiko muda adalah tua, cantik risikonya buruk,  masyhur terkenal akan hilang, Pilkada akan ada menang dan kalah.

Mental harus kuat, tidak boleh ada stres, jangan stroke, tidak mati muda. Semua bilang ini permainan saja.

Kita hanya berusaha, masyarakat yang datang memilih tetap berpahala karena sudah berkontribusi. Tidak menyalahkan diri, jangan salahkan orang lain, tim sukses, apalagi orang sekampung. Tapi berkata tidak ada kuasa selain kuasa Allah SWT.

3.Sungai hanyalah alat, tapi tujuannya laut lepas

Pilkada hanyalah sarana memilih pemimpin, tapi tujuannya mendapatkan pemimpin terbaik.

Saat mencoblos, saat itu anda sedang bersaksi: memilih orang ini setelah aku baca, aku renung, istikharah layak memimpin kehidupan rakyat lima tahun ke depan.

Bismillah, jangan lama-lama.

Maukah Anda ditunjukkan dosa terbesar diantara dosa terbesar ? Syirik mempersekutukan Allah, durhaka kepada orang tua, dan memberikan kesaksian palsu.

Kita bangga punya calon pemimpin berkualitas, tapi tetap harus awasi, mata harus tajam. Karena kejahatan ada bukan karena ada niat, tapi karena ada kesempatan, waspadalah.

Pilkada adalah wasilah, jalan. Ada yang datang jalan kaki, naik ojek,  tidak dibayar untuk datang mencoblos.

Ketika paham kewajiban sebagai warga negara, ke depan akan datang memilih memimpin yang baik adalah juga ibadah. Menurut ijtihad saya ini yang baik, jika ada perbedaan kita lapang dada.

Jangan sampai antar pengurus masjid rusak, antar keluarga bersinggungan. Maaf lebih tinggi dari marah.

4.Perahu yang buat ombak besar akan berefek kepada orang di tepi sungai

Warga yang mengendarai kapal besar dengan kencang, terancam tidak bisa lewat lagi di sungai yang sama untuk kedua kalinya.

Apapun tindakan kita akan ada efeknya. Pikir dulu pendapatan sesal kemudian tiada berguna.

Kenapa Anda tidak berpikir, kenapa tidak gunakan akal pikiran. Ada satu neraka khusus untuk orang yang tidak pernah mau berpikir. Namanya Neraka Sair.

Mari sama-sama berdoa diberikan pemimpin yang adil.

5.Lemah sendiri di sungai

Kapal besar lewat di sungai, kapal kecil akan terombang-ambing. Dengan perahu besar kita selamat. Naiklah sampan yang besar. Berjemaah, insyaallah selamat.

Serigala hanya akan menerkam kambing yang memisahkan diri dari jemaah. Salat berjemaah, puasa berjemaah, maka dalam hal Pilkada harus berjemaah. Beramai-ramai, dalam dunia demokrasi satu orang satu suara, dan suara terbanyak adalah suara Tuhan. Yang paling banyak itulah yang menang.

Jadi pilih yang terbenar, terbaik, dan terbagus. Maka selamatlah kita dari kehancuran.

Berita Terkait
Komentar
Terkini