Fondasi Bangunan yang Cocok untuk Tanah yang Berpotensi Terjadi Likuifaksi

Bencana Sulteng

Terkini.id, Palu – Bencana gempa bumi di Sulawesi Tengah, berakibat pada Likuifaksi yang menimpa wilayah Petobo dan Balaroa di Palu.

Untuk diketahui, likuifaksi merupakan peristiwa yang ditandai dengan tanah yang kehilangan kekuatannya dan berubah menjadi lumpur.

Saat ini tercatat ada 1.747 rumah di Balaroa dan 744 rumah di Petobo yang ‘ditelan’ lumpur. Diduga, ratusan orang juga ikut terhisap di bawah lumpur tersebut.

Penyebab Likuifaksi

Kepala Badan Geologi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Rudy Suhendar menjelaskan, likuifaksi terjadi disebabkan kawasan yang berada di Petobo dan Balaroa berada di tanah aluvium atau tanah ‘muda’.

“Bahasa geologinya tanah yang masih muda. Hitungan mudanya ratusan tahun,” kata Rudy seperti dilansir dari idntimes.com, beberapa waktu lalu.

Menarik untuk Anda:

Karena guncangan, akibatnya terjadi lepasnya daya dukung tanah. Rudi menyebutkan potensi tanah yang mengalami likuifaksi akan menjadi lebih besar, jika lapisan pasirnya lebih tebal.

“Tanah kan ada beberapa lapisan, ada lapisan pasir. Itu tergantung ketebalan, ada 25 sentimeter, ada 60 sentimeter, dan sebagainya,” ujar dia.

Ketika tanah tersebut berpasir, dan relatif tidak terlalu padat serta memiliki elevasi air tanah yang tinggi (jenuh air), maka berisiko likuifaksi.

Jika tanah dengan ciri-ciri itu terkena gempa, air akan mengisi ruang antar-partikel tanah berpasir, sehingga kekuatan interlocking antar-partikel hilang.

Rudy mengimbau masyarakat Palu tidak khawatir terjadinya likuifaksi ulang. Seandainya pun terjadi lagi potensi gempa dan likuifaksi, dampaknya tidak akan sebesar dibandingkan yang terjadi pada Jumat 28 September lalu.

Bangunan Fondasi untuk Likuifaksi

Erly Bahsan, dari Departemen Teknik Sipil Universitas Indonesia, menyebutkan, untuk mengidentifikasi tanah yang berpotensi likuifaksi dilakukan berbagai metode.

Misalnya dengan mengebor tanah, lalu mengambil sampel untuk mengecek tingkat kepadatannya melalui laboratorium.

“Untuk itu, penggunaan fondasi yang dangkal (fondasi telapak) tidak direkomendasikan pada tanah engan potensi likufaksi yang tinggi. Kecuali dilakukan perbaikan tanah untuk menghilangkan kondisi likuifaksi tersebut,” terang dia.

Perbaikan tanah dilakukan dengan melakukan pemadatan, penggunaan vibro replacement method, hingga menurunkan muka air tanah dengan drainase.

Karena itu, pihaknya cuma merekomendasikan penggunaan tiang baja dengan mempertimbangkan kelenturan dan daktiltas sistem fondasi. Hal ini karena tiang baja tentu punya sifat yang elastis dibanding beton.

Konten Bersponsor

Mungkin Anda Suka

3 Provinsi Diminta Terlibat dalam Kepemilikan Saham PT Vale

Denny Siregar Dipolisikan Gegara Pasang Foto Santri Cilik Calon Teroris

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar