Gakkum KLHK Sulawesi Amankan Perdagangan Satwa Dilindungi

Tulisan ini adalah kiriman dari Citizen, isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.
Laporkan tulisan
Labi-Labi Moncong Babi

Terkini.id, Makassar- Perdagangan satwa dilindungi berhasil diamankan Tim SPORC Brigade Anoa, Seksi Wilayah I Makassar, Balai  Pengamanan dan Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan Wilayah Sulawesi bersama Polhut BBKSDA Sulsel.  Tersangka berinisial LA dan labi-labi moncong babi (carettochelys insculpta) 1.301 ekor dalam keadaan hidup dan 32 ekor dalam keadaan mati berhasil disita dari dalam Ruko Pasar Baru jalan Kima Raya I No.1 Daya Kecamatan Biringkanaya Makassar. Minggu (18/10/2020) malam.

Pelaku LA saat ini diamankan di Markas Komando SPORC Brigade Anoa Maros. Selain Labi-Labi Moncong Babi Tim juga menyita 15 Box Plastik, dan 2 unit telepon seluler.

Keberhasilan operasi berawal dari laporan intelejen Polhut BBKSDA Sulsel, kemudian Tim SPORC Brigade Anoa mengintai dan membuntuti adanya aktivitas LA beralamat di Desa Kaca, Kecamatan Marioriawa, Kebupaten Soppeng.

Tim mencurigai LA menyimpan dan memperniagakan labi-labi moncong babi, satwa yang dilindungi undang-undang. Tim menangkap LA, Minggu, 18 Oktober 2020 malam dan menyita barang bukti yang disimpan di Ruko Pasar Baru Daya Makassar.

Tim SPORC Brigade Anoa sudah lama memantau peredaran Labi-Labi Moncong Babi berasal dari Timika Papua, menuju Kendari melalui jalur laut menggunakan kapal tradisional dibawa ke Pelabuhan Bajoe hingga dibawa ke Pasar Baru Daya Makassar.

Menarik untuk Anda:

Kemudian Tim, bekerjasama dengan pemerhati lingkungan, berpura-pura sebagai pembeli, sebelumnya LA ditangkap. Saat ini penyidik telah meningkatkan prosesnya ke tingkat penyelidikan. Pada hari Selasa, 20 Oktober 2020, telah dilakukan penahanan di Rutan Polda Sulsel selama 20 hari.

Tersangka dijerat Pasal 40, Ayat 2 dan/atau Ayat 4 jo Pasal 21 Ayat 2 huruf a Undang-Undang Nomor 5 tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemya, dengan ancaman pidana penjara paling lama 5 tahun dan denda Rp. 100 juta.

“Kami mengapresiasi warga masyarakat yang turut berperan aktif mengamati, dan melaporkan perdagangan ilegal tumbuhan, dan satwa liar yang dilindungi berdasarkan peraturan di Indonesia ini,” pungkas Kepala Balai Gakkum Sulawesi, Dodi Kurniawan.

 

 

Konten Bersponsor

Mungkin Anda Suka

Forum Awardee BU Indotim Salurkan Bantuan Untuktuk Korban Gempa Sulbar

Jangan Lewatkan Webinar ‘Smart Digital Citizenship’ Peran Teknologi Dalam Melawan Disinformasi

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar