Peringatan! Gara-gara Kredit ke China, Sri Lanka Bangkrut, Sri Mulyani Sebut Utang Indonesia Masih Aman? Sudah Rp7000 Triliun Bos

Terkini.id, Jakarta – Negara Sri Lanka utang ke China senilai US$ 8 miliar yang dikucurkan melalui skema Belt and Road Initiative atau BRI untuk proyek infrastruktur yang dinilai gagal.

Kini, gara-gara kredit ke China, Sri Lanka tak sanggup bayar hingga akhirnya dilanda krisis. Melihat krisis Sri Lanka itu, Indonesia pun tengah disorot. Sri Mulyani sebagai Bendahara Negara adalah eksekutor yang paling tahu soal keamanan kas dan utang Indonesia.

China memang ringan tangan kepada negara miskin dan berkembang, contohnya Sri Lanka. Beijing memberi utang yang jika ditotal sudah mencapai seperenam dari keseluruhan utang luar negeri Sri Lanka.

Baca Juga: Apa Faktor Utama yang Menyebabkan Sri Langka Bangkrut? Begini Penjelasannya

Dan kini, Kolombo sudah dalam kondisi memprihatinkan. Sebagian proyek dinilai tak memberi manfaat ekonomi bagi negaranya.

Pemerintahan Xi-Jinping tentu tak mau ambil rugi. Boleh jadi ‘China ada maunya’ dari setiap bantuan yang diberikan. Kelihatan, China meminta jatah ekspor produk mereka ke Sri Lanka senilai US$ 3,5 miliar.

Baca Juga: Siap Jadi Capres, Cak Imin Lirik Sri Mulyani sebagai Cawapres

“Dari awal, kecerobohan meminjam dari China buat infrastruktur yang tak menguntungkan membuat negara itu di titik ini,” tulis CNBC Indonesia pada Minggu, 17 April 2022, dari laporan Hong Kong Pos.

Diketahui Pemerintah Sri Lanka meminta tolong kepada Beijing agar merestrukturisasi utang. Namun, si tangan besi China, enggan mengabulkannya sehingga Sri Lanka makin terbebani hingga harus mengalami kebangkrutan alias krisis.

Dan negeri Ceylon itu mengalami kemerosotan terparah sejak merdeka di 1948. Bahkan ribuan warganya berunjuk rasa meminta pemerintah sekarang tahu diri untuk mundur.

Baca Juga: Siap Jadi Capres, Cak Imin Lirik Sri Mulyani sebagai Cawapres

Sri Mulyani soal Utang Indonesia

Terhitung, hingga akhir Februari 2022, posisi utang pemerintah sebesar Rp7.014,58 triliun atau setara 40,17 persen terhadap produk domestik bruto atau PDB.

“Rasio utang kita relatif rendah baik diukur dari negara ASEAN, G20 atau seluruh dunia,” tulis CNBC Indonesia mengutip penjelasan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati usai rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan, Rabu, 13 April 2022.

Seperti diketahui, Indonesia merupakan salah satu penerima dana pinjaman dari China. Data Statistik Utang Luar Negeri Indonesia atau SULNI periode Februari 2022 menerangkan bahwa China merupakan pemberi utang terbesar keempat bagi Indonesia setelah Singapura, Amerika Serikat, dan Jepang.

Indonesia utang ke China tercatat US$ 20,78 miliar per Februari 2022. Bahkan dari bulan sebelumnya naik 0,76 persen (month-on-month/mtm). Namun, ULN dari Singapura turun 0,75 persen, dari AS turun 0,22 persen, dan Jepang turun 0,91 persen.

Namun demikian, Sri Mulyani mengaku untuk menjaga secara hati-hati agar Indonesia tidak termasuk daftar negara yang kesulitan melunasi utangnya.

“Kita menjaga secara hati-hati dan prudent karena kita lihat tekanan seluruh dunia meningkat,” tegas mantan Bos Bank Dunia itu.

Bagikan