Gara-gara Karet Rp17.000, Kakek Samirin Dilapor Tanpa Ampun Bridgestone lalu Dibui

Terkini.id, Simalungun – Seorang pria paruh baya di Sumatera Utara, yakni Kakek Samirin mendapat hukuman bui selama 2 bulan 4 hari karena divonis mengambil sisa getah karet di perkebunan milik Bridgestone di Sumatera Utara (Sumut).

Akibat perbuatan kakek usia 69 tahun tersebut, perusahaan asal Jepang itu mengalami kerugian Rp 17.480.

“Kami merujuk pada laporan berita terbaru mengenai insiden yang melibatkan pencurian getah karet oleh seseorang yang terjadi di lokasi PT Bridgestone SRE (BSRE) sebagai akibat dari pencurian getah karet,” terang GM Legal Bridgestone Indonesia, Arko Kanadianto seperti dikutip dari detikcom.

BSRE merupakan perusahaan yang berfokus pada pengelolaan perkebunan karet di Sumatera.

“BSRE melaporkan insiden tersebut ke pihak berwenang setempat untuk mengambil tindakan yang tepat sesuai dengan hukum yang berlaku,” terang Arko lagi.

Menarik untuk Anda:

Terpisah dari BSRE, Bridgestone juga memiliki entitas berbeda bernama PT Bridgestone Tire Indonesia (BSIN) yang mengoperasikan perusahaan manufaktur dan penjualan ban.

PT Bridgestone Tire Indonesia (BSIN) berfokus pada pasar domestik dan ekspor. BSIN memiliki dua pabrik ban yang berlokasi di Bekasi dan Karawang, dengan produk yang menggunakan bahan baku yang diperoleh dari berbagai sumber.

“Bridgestone, sebagai perusahaan, mematuhi dan mengikuti hukum serta peraturan setempat di semua wilayah operasi kami, termasuk Indonesia,” ujar Arko lagi.

Seperti diketahui, kasus tersebut terjadi pada 17 Juli 2019 petang. Kala itu, kakek Samirin baru saja menggembala lembu di Nagori Dolok Ulu Kecamatan Tapian Dolok Kabupaten Simalungun.

Setelah melakukan itu, kakek Samirin mengumpulkan sisa getah rembung/karet yang tersisa. Sisa getah itu dia masukkan ke kantong kresek.

Di saat yang sama, lewat petugas perkebunan yang sedang berpatroli. Samirin lalu dibawa ke kantor Security Perkebunan PT Bridgestone SRE Dolok Maringir. Kemudian menimbang getah dan hasilnya seberat 1,9 kg. Bila diuangkan seharga Rp 17.480.

Tanpa ampun, perusahaan melaporkan Samirin ke kepolisian. Dalam proses di kepolisian, Samirin tidak ditahan. Namun dengan teganya, jaksa menahan Samirin saat ia mulai disidangkan di PN Simalungun. Bahkan kepada majelis hakim, jaksa menuntut agar Samirin dihukum 10 bulan penjara.

Pada Rabu (15/1) kemarin, PN Simalungun menjatuhkan hukuman 2 bulan dan 4 hari penjara. Atas hukuman itu, Samirin langsung bebas hari itu juga.

Konten Bersponsor

Mungkin Anda Suka

Pemerintah Tetapkan Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2021, Ini Daftarnya

Sri Mulyani Tambah Rp 3,5 T Anggaran Covid-19, Termasuk untuk Sewa Hotel Isolasi Mandiri

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar