Garuda Bangkrut: Lolos Dari Gugatan PKPU PT My Indo Airlines, Terjerat Lagi Dengan PT Mitra Buana Koorporindo

Terkini.id, Makassar – Setelah gugatan PKPU pemohon yaitu PT My Indo Airlines ditolak Majelis Hakim dan meloloskan Garuda dari status pailit. Garuda kembali digugat oleh PT Mitra Buana Koorporindo pada hari Jumat 22 Oktober 2021.

Utang PT. Garuda Indonesia tercatat sudah mencapai Rp. 70 Triliun (US$ 4,9 Miliar) akibat pengeluaran yang menumpuk selama puluhan tahun tanpa adanya penanganan.

Sebelumnya, PT My Indo Airlines mengajukan gugatan PKPU terhadap Garuda Indonesia atas kesepakatan kargo dengan klaim kurang dari US$ 700.539 (Rp. 9,912,626,850). Sidang tersebut telah berlangsung sebanyak 9 kali sejak bulan Juli lalu.

Hakim Ketua Heru Hanindyo yang membacakan putusan sidang menyebut, utang pihak kreditur tidak dapat dibuktikan secara sederhana seperti syarat pelaksanaan PKPU. Dengan demikian, permohonan tersebut ditolak. Meskipun pihak PT My Indo Airlines belum mengajukan banding.

Selanjutnya, PT Mitra Buana Koorporindo, sebuah perusahaan yang menyediakan jasa IT, melayangkan gugatan dengan nomor perkara 425/Pdt.Sus-PKPU/2021/PN Niaga Jkt.Pst terkait penunggakan pembayaran sebesar Rp. 4,78 Miliar.

Dalam Registrasi dan Layanan Online Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, status perkara sudah memasuki tahap penunjukan juru sita. Tetapi gugatan Mitra Buana Koorporindo tidak didetailkan secara rinci.

Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra, mengatakan masih menunggu panggilan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Tuntutan bertubi-tubi yang dilayangkan pada PT Garuda Indonesia menjadi kendala saat tengah fokus pada restrukturisasi .

Diapun menegaskan bahwa manajemen Garuda Indonesia tetap berupaya memperbaiki kinerja keuangan perseroan melalui restrukturisasi.

Bagian dari restrukturisasi tersebut adalah negosiasi dengan para kreditur dan lessor. Staf Khusus Menteri BUMN , Arya Sinulingga,  berharap agar negosiasi tersebut dapat berlangsung cepat agar tidak memperparah keadaan maskapai.

“Kalau negosiasinya tidak tercapai maka kita akan tutup (PT GIAA)” tambah Arya Sinulingga kepada BBC News Indonesia.

Pemerintahpun sudah menegaskan bahwa tidak akan membantu dalam hal menyuntikkan modal negara untuk menutup utang PT Garuda. Hal ini dikarenakan pemerintah sedang memfokuskan anggaran untuk pemulihan ekonomi pada masa pandemi.

Bagaimanakah masa depan maskapai penerbangan kebanggaan Indonesia? Akankah kita akan masih memiliki maskapai flag carrier (penerbangan nasional)?

Bagikan