Gender dalam Perspektif Sosial-Budaya dan Pembangunan Manusia

Dalam kehidupan ekonomi, politik dan sosial-budaya, perempuan memiliki peran yang lebih rendah daripada laki-laki. Sebagai contoh, Indonesia baru saja selesai dengan pemilihan umum dan pemilihan legislatif, tetapi keterlibatan perempuan masih sangat rendah (hanya sekitar 20,5 persen atau 118 kursi dari 575 total kursi di parlemen). / Istimewa

Gender dalam Perspektif Sosial-Budaya dan Pembangunan Manusia

Oleh Mariana KST Langngi

Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk yang sangat besar menempati urutan keempat dunia. Menurut survei populasi 2015, populasi Indonesia pada 2019 diproyeksikan mencapai 266,91 juta. Menurut jenis kelamin, jumlah itu terdiri dari 134 juta pria dan 132,89 juta wanita.

Perbandingan jumlah pria dan wanita yang hampir sama tidak serta merta menjadikan peran dan keterlibatan pria dan wanita dalam kehidupan sosial di masyarakat memiliki porsi yang sama. Masalah tentang kesetaraan gender masih merupakan masalah khusus yang tidak dipahami secara luas oleh masyarakat.

Dalam kehidupan ekonomi, politik dan sosial-budaya, perempuan memiliki peran yang lebih rendah daripada laki-laki. Sebagai contoh, Indonesia baru saja selesai dengan pemilihan umum dan pemilihan legislatif, tetapi keterlibatan perempuan masih sangat rendah (hanya sekitar 20,5 persen atau 118 kursi dari 575 total kursi di parlemen).

Dalam sistem reproduksi sosial, pasar tenaga kerja, keuangan, dan pembangunan terkait budaya beberapa daerah di Indonesia, juga masih menempatkan perempuan sebagai pelengkap laki-laki atau selalu dikesampingkan dalam proses pengambilan keputusan terkait pembangunan sosial, ekonomi, dan politik.

Berbicara tentang kesetaraan gender, tidak terlepas dari peran laki-laki maupun perempuan. Banyak masyarakat yang belum memahami pengertian gender yang sebenarnya. Sehingga banyak diskusi tentang gender di berbagai platform media sosial seperti yang paling populer facebook dan twitter berakhir dengan mencampur adukkan peran dan kodrat antara laki-laki dan perempuan.

Jika mulai dengan pengertian paling umum tentang itu, berikut beberapa pengertian gender menurut beberapa ahli:

  1. Suprijadi dan Siskel (2004)

Gender adalah peran sosial di mana peran laki-laki dan peran perempuan ditentukan.

  1. Azwar (2001)

Gender adalah perbedaan peran dan tanggung jawab sosial bagi perempuan dan laki-laki yang dibentuk oleh budaya.

  1. Suryadi dan Idris (2004)

Gender adalah jenis kelamin sosial atau konotasi masyarakat untuk menentukan peran sosial berdasarkan jenis kelamin.

  1. WHO (2001)

Gender adalah perbedaan status dan peran antara perempuan dan laki-laki yang dibentuk oleh masyarakat sesuai dengan nilai budaya yang berlaku dalam periode waktu tertentu.

Jadi dapat disimpulkan, gender paling mendasar adalah tentang peran dan bukan kodrati/jenis kelamin sebagai laki-laki maupun perempuan.

Gender dan Sosial-Budaya

Keith Jacobs memberikan pengertian sosial secara umum adalah sesuatu yang dibangun dan terjadi dalam sebuah situs komunitas. Sementara menurut Koentjaraningrat budaya adalah suatu gagasan dan rasa, suatu tindakan dan juga karya yang merupakan sebuah hasil yang dihasilkan manusia dalam kehidupan masyarakat yang nantinya dijadikan kepunyaannya dengan belajar.

Untuk itu, perempuan memiliki peran untuk turut membangun suatu komunitas dengan gagasan dan rasa yang dimilikinya, juga melalui tindakan dan karya yang kemudian juga diakui sebagai pengembangan nilai-nilai budaya suatu lingkungan sosial/komunitas tempat perempuan itu berada.

Tidak dapat dipungkiri, inklusifitas gender dalam sosial budaya membuat ketidakadilan dalam kehidupan sosial budaya akhirnya muncul kepermukaan. Baik laki-laki dan perempuan merasa terintimidasi dengan nilai-nilai yang sudah ada sebelumnya.

Nilai-nilai itu contohnya, laki-laki sebagai kepala keluarga memikul tanggung jawab sebagai pencari nafkah, sementara perempuan mengurus rumah tangga. Munculnya gerakan-gerakan yang menyuarakan kesetaraan gender oleh aktivis-aktivis perempuan kemudian dipandang sebelah mata oleh beberapa orang yang tidak memahami konsep gender sebenarnya, bahkan dari kaum perempuan lain yang tumbuh besar dalam lingkungan yang konservatif.

Laki-laki yang tumbuh dalam lingkungan konservatif yang selama ini merasa memiliki peran penting sebagai pengambil keputusan dalam budaya masyarakat Indonesia kemudian melihat gerakan-gerakan kesetaraan gender sebagai perlawanan perempuan yang tidak seharusnya muncul.

Padahal, gender tidak harus dilihat dari sisi perempuan sebagai pihak yang meminta dan menginginkan “kesetaraan” sementara laki-laki sebagai pemberi “kesetaraan”.

Gender dalam kehidupan sosial budaya harus dilihat dari peran masing-masing dalam membangun nilai-nilai yang setara. Setara dalam mendapatkan kesempatan dan setara dalam mendapatkan penghargaan. Jika isu gender masih dilihat dari sisi yang konservatif, maka selamanya kesetaraan gender akan menjadi angan-angan dan perjuangan sepihak perempuan sebagai yang merasa terintimidasi dalam aturan-aturan dan nilai-nilai budaya.

Kesetaraan gender adalah upaya bersama antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki harus turut mengambil bagian dalam upaya memberikan keadilan bagi perempuan. Dalam banyak sektor, kehadiran perempuan masih dianggap sebelah mata. Intimidasi dan diskriminasi muncul dari berbagai pihak, begitu juga dari perempuan itu sendiri.

Dalam jurnal yang ditulis Nur Hasyim (2016), “Laki-Laki Sebagai Sekutu Gerakan Perempuan”, mengemukakan telah lahirnya kesadaran feminis dari kelompok laki-laki yang mendukung gerakan perempuan. Salah satunya yaitu gerakan aliansi laki-laki baru, sebuah gerakan laki-laki pro-perempuan Indonesia karena melihat penindasan yang dialami perempuan-perempuan Indonesia di sekitar mereka.

Peran laki-laki dalam gerakan ini sebenarnya ingin mengakhiri privilese atau kekuasaan laki-laki atas perempuan untuk selanjutnya mendorong laki-laki untuk berbagi privilese kekuasaan tersebut. Dengan kata lain, laki-laki menempatkan kepentingan perempuan sebagai kepentingan dirinya sendiri.

Gender dalam Pembangunan Manusia

Pembangunan manusia adalah sebuah proses pembangunan yang bertujuan agar mampu memiliki lebih banyak pilihan, khususnya dalam pendapatan, kesehatan, dan pendidikan. Pembangunan manusia sebagai ukuran kinerja pembangunan secara keseluruhan dibentuk melalui pendekatan tiga dimensi dasar. Dimensi tersebut mencakup umur panjang dan sehat; pengetahuan dan kehidupan yang layak dan masing-masing dimensi direpresentasikan oleh indikator (UNDP, 1990).

Tujuan utama pembangunan adalah menciptakan lingkungan yang memungkinkan rakyat untuk menikmati umur panjang, sehat, dan menjalankan kehidupan yang produktif (United Nation Development Progamme-UNDP). Pembangunan manusia didefinisikan sebagai proses perluasan pilihan bagi penduduk (a process of enlarging people’s choices).

Ul Haq (1998) juga telah menegaskan, manusia harus menjadi inti dari gagasan pembangunan, dan hal ini berarti semua sumberdaya yang diperlukan dalam pembangunan harus dikelola untuk meningkatkan kapabilitas manusia. Gagasan ini sejalan dengan pemikiran UNDP yang diterjemahkan ke dalam beberapa indikator sosial-ekonomi yang menggambarkan kualitas hidup dalam beberapa ukuran kuantitatif, seperti kemampuan ekonomi, kemampuan dalam pengetahuan dan keterampilan serta kemampuan untuk hidup lebih panjang dan sehat (Ranis, 2004:1).

Dalam Jurnal Pemodelan Indeks Pembangunan Gender oleh Nurul Fajriyyah dan I Nyomen Budiantara (2015), Indeks Pembangunan Gender (IPG) merupakan indeks pencapaian kemampuan dasar pembangunan manusia yang sama seperti Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dengan memperhatikan ketimpangan gender.

Indonesia memiliki IPG yang rendah jika dibandingkan negara lain seperti Malaysia dan Australia. Dalam hal pembangunan manusia sering dibahas mengenai perbedaan gender, di mana berfokus pada bagaimana mencapai kesetaraan gender dengan meningkatkan kualitas sumber daya manusia tanpa membedakan laki-laki dan perempuan. Hal ini terkait tujuan dari MDGs yaitu mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan.

Dari segi pendapatan, untuk satu sektor yang sama, perempuan cenderung mendapatkan upah yang lebih kecil dibandingkan yang didapatkan laki-laki. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, rata-rata upah/gaji buruh/pegawai/karyawan perempuan sebesar 2,21 juta rupiah per bulan, lebih rendah dibanding rata-rata upah/gaji buruh/pegawai/karyawan laki-laki yang mencapai 2,91 juta rupiah per bulan. Itu artinya, kesenjangan upah/gaji menurut gender (gender wages gap) di Tanah Air mencapai sekitar 32 persen.

Minimnya peran perempuan dalam pembangunan manusia, dapat dilihat sebagai hasil dari ketidakadilan atau belum adanya kesetaraan gender. Perempuan tidak mendapatkan kesempatan yang sama dengan laki-laki dalam pendidikan, ekonomi, politik dan sosial-budaya. Sehingga, akhirnya perempuan akan terus menerus menjadi sekadar pelengkap laki-laki dan menyumbang dalam skala kecil dalam pembangunan manusia.

Data Bank Dunia pada 2018 menunjukkan 50,7 persen perempuan Indonesia berusia 15 tahun ke atas berpartisipasi dalam angkatan kerja (baik bekerja atau mencari pekerjaan). Menurut standar internasional angka ini termasuk rendah. Yang menarik, Kamboja yang merupakan negara dengan Produk Domestik Bruto (PDB) terendah kedua di ASEAN justru memiliki angka partisipasi yang terbilang tinggi, yaitu sebesar 81,2 persen pada 2018.

Vietnam, negara berpenghasilan menengah ke bawah, memiliki tingkat yang sesuai standar internasional, yaitu 73,2 persen pada 2018. Thailand, diklasifikasikan sebagai negara berpenghasilan menengah, memiliki tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan 60,3 persen pada 2018 (Kata Data.co.id).

Rendahnya angka partisipasi angkatan kerja perempuan dapat dilatarbelakangi beberapa hal. Salah satunya yaitu rendahnya pendidikan sehingga menyebabkan tidak terbukanya kesempatan bekerja bagi perempuan Indonesia di sektor-sektor vital ekonomi.

Kesimpulan dan Saran

Gender tidak dapat dilihat sebagai jenis kelamin namun peran dari laki-laki dan perempuan. Perempuan dan laki-laki memiliki peran dalam sosial-budaya dan pembangunan manusia yang sama besarnya.

Untuk itu, perempuan harus memiliki kesempatan yang sama dalam mengembangkan dirinya dari segala aspek, pendidikan, ekonomi, politik dan sosial-budaya. Masyarakat dan lingkungan tempat perempuan berada harus turut menjamin kesetaraan gender sebagai kepentingan mereka bukan hanya kepentingan yang perlu dicapai perempuan saja.

Daftar Pustaka:

silontong.com/2018/06/21/pengertian-sosial-budaya/
santinorice.com/sosiologi-budaya/
katadata.co.id/
kompasiana.com/kadirsaja/
hdr.undp.org/sites/default/files/reports/219/hdr_1990_en_complete_nostats.pdf
Ranis, 2004. Human Development and Economic Growth.
Nurul Fajriyyah dan I Nyoman Budiantara (2015), Dalam Jurnal Pemodelan Indeks Pembangunan Gender.
Hasyim, Nur. 2016. Laki-laki Sebagai Sekutu Gerakan Perempuan.
Fahrudin, Muhammad Arif dkk. 2015. Dinamika Pembangunan Manusia Berbasis Gender di Indonesia.

Penulis adalah penulis lepas, tinggal di Kupang, Nusa Tenggara Timur

Komentar

Rekomendasi

Berita Lainnya

Belajar Berhitung

Pandemi yang Membuka Banyak Bobrok

Menyikapi Corona dan Hoax Melalui Intervensi Sosial

Corona oh Corona!

Mengharukan: Sepenggal Kisah Guru Pesantren di Tengah Covid-19

Dokter Tuhan

Opini: Jokowi Mendengar Saran Oposisi

SOP Salat Jumat Masjid ‘Jarang’

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar