Genjot 160 Juta Bibit Kakao, Kementan Adopsi Perkebunan Mars

Dirjen Perkebunan Kementan Kasdi Subagyono, berkunjung ke Mars Cocoa Research Centre (MCRC) Pangkep, Sabtu 18 mei 2019.(ist)
Dirjen Perkebunan Kementan Kasdi Subagyono, berkunjung ke Mars Cocoa Research Centre (MCRC) Pangkep, Sabtu 18 mei 2019.(ist)

Terkini.id, Pangkep – Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian RI, sedang menggenjot penanaman ratusan juta bibit unggul tanaman kakao di Indonesia.

Untuk menjalankan program itu, Dirjen Perkebunan Kementan Kasdi Subagyono datang ke Sulsel, melihat contoh-contoh bibit unggul dan melihat role model di kawasan perkebunan PT Mars Symbioscience, salah satu perusahaan yang mengolah kakao menjadi produk makanan.

“Kita mencari alternatif inovasi. Karena sudah ada contoh yang benar dan bagus di sini (Mars),” terang Kasdi saat berkunjung ke Kawasan Pusat Penelitian Kakao Mars (Mars Cocoa Research Center) di Pangkep, Sabtu 18 Mei 2019.

Secara keseluruhan, Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian RI, tengah menggenjot penanaman 500 juta batang bibit unggul untuk beberapa komoditas.

Program yang dikemas dalam tema ‘Bun 500’ itu, berlangsung dalam kurun waktu lima tahun (2019-2024).

“Dari 500 juta itu, sekitar sepertiga di antaranya adalah kakao (sekitar 160 juta bibit),” terang Kasdi lagi.

Saat ini, rata-rata produktivitas kakao di Indonesia cuma sekitar 700 hingga 800 kilogram per hektare.

“Dengan bibit unggul yang baru ini, maka kita mau replanting sekitar 140 ribu hektare. Dengan bibit unggul ini, produktivitasnya bisa dinaikkan jadi tiga kali lipat. Bisa sampai 2 ton per hektare,” terang dia.

Dia mengaku Kementerian Pertanian sudah punya pemetaan lahan-lahan yang akan di-replanting tersebut.

Masalah Pupuk

Dirjen Perkebunan Kementan Kasdi Subagyono, berkunjung ke Mars Cocoa Research Centre (MCRC) Pangkep, Sabtu 18 mei 2019.(ist)

Selain tanaman kakao yang sudah tua dan produktivitasnya berkurang, Direktorat Jenderal Perkebunan juga tengah membenahi masalah pupuk.

Hal ini lantaran pupuk bersubsidi yang disiapkan itu cuma untuk tanaman hortikultultura dan pangan.

Pemerintah kini telah menganggarkan subsidi pupuk untuk kakao. Namun jumlahnya belum cukup.

“Tidak bisa memenuhi kebutuhan. Kalau dihitung, anggaran untuk pupuk itu sampai Rp 69 triliun. Nah, pemerintah cuma alokasikan Rp 28 triliun,” katanya.

Dia menyebutkan, selain anggaran sedikit, kapasitas produksi pupuk juga sedikit.

“Produsennya cuma bisa produksi hingga 12 juta ton per tahun,” katanya. Sementara, kebutuhan pupuk seharusnya mencapai 22 juta ton per tahun.

Karena itu, dia melihat masalah pupuk itu di sisi distributor. “Kita sedang memperbaiki RDKK (Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok),” katanya.

Perlu Pusat Benih di Sulsel

Kepala Dinas Perkebunan Sulsel Andi Parenrengi mengungkapkan, produktivitas kakao di Sulsel juga cuma sekitar 700-800 kilogram per hektare.

“Salah satu masalah di sini karena memang petani belum tersentuh penerapan teknologi. Selain itu, sumber benih terlalu jauh. Kita harus ambil bibit (kakao) di Jawa,” terang Andi Parenrengi.

Menurut dia, pihaknya saat ini tengah mendorong agar ada pusat benih di Sulsel.

“Karena dengan produksi kakao 237 ribu ton nasional sekitar setengah di antaranya atau 124 ribu ton itu di Sulsel,” katanya.

Adopsi Perkebunan Mars

Dirjen Perkebunan menyampaikan, beberapa role model dari PT Mars akan digunakan untuk mengembangkan program Bun 500 tersebut.

“Role model di Mars ini kita akan adopsi. Jadi petani akan dibimbing, diberi bekal, ditraining sebelum dilepas. Nanti ada nursery, ada cacao doctor, dan lain-lain,” katanya.

Direktur Corporate Affairs Mars Indonesia Mars, Arie Nauvel Iskandar
menampaikan syukur karena mendapat kunjungan dari kementrian Pertanian.

“Hal ini merupakan salah satu bukti kerja sama yang telah terjalin erat selama ini. Kunjungan ini merupakan upaya membangun kerjasama kedepan didalam meningkatkan produktivitas dan kualitas biji kakao,” katanya.

Berita Terkait
Komentar
Terkini