Guakang Karaeng Galesong, Perekat Harmoni Masyarakat Takalar

Guakang Karaeng Galesong
Guakang Karaeng Galesong

Terkini.id – Guakang bukan hanya cikal bakal terbentuknya pemukiman dan pusat pemukiman masyarakat di Kabupaten Takalar, tetapi juga merupakan awal dari terbentuknya kepemimpinan dalam masyarakat sebagai satu kesatuan.

Balla Lompoa Galesong menjadi saksi peringatansetiap  hari ulang tahun (Tammu Taunna) Guakan Karaeng Galesong yang ke-248. Tradisi ini dilaksanakan secara turun temurun setiap tahun.

Peringatan Tamu Taunna ini diawali dengan ritual appalili, yaitu mengelilingi kampung yang mulai dari rumah kompleks adat menuju ke Bungung Barania.

Arak-arakan diiringi oleh rapak gendang khas Makassar serta tari pa’rappunganta yang menunjukkan empat simbol daerah seperti Makassar, Bugis, Tana Toraja dan Mandar.

Guakang Karaeng Galesong
Guakang Karaeng Galesong

Hal yang unik dalam ritual appalili ini adalah tiga gadis yang diusung dalam keranda serta seekor sapi yang berada di barisan paling depan rombongan.

Bungung Barania adalah sumur tua yang menjadi tempat mandi Karaeng Galesong dan diyakini oleh masyarakat bisa mendatangkan keberanian. Anehnya, lokasi sumur ini sangat dekat dengan laut, namun airnya tidak asin.

Air sumur ini diambil oleh pemangku adat dan dibawah ke Balla Lompoa Galesong untuk digunakan mencuci benda-benda pusaka kerajaan.

Rombongan kembali menuju Balla Lompoa Galesong melalui jalan yang berbeda, sesampai di Balla Lompoa, rombongan mengelilingi Balla Lompoa Galesong sebanyak tujuh kali, kemudian sapi yang ikut dalam arak-arakan disembelih di halaman Balla Lompoa.

Guakang Karaeng Galesong
Peringatan Guakang Karaeng Galesong

Asal mula keberadaan Guakang Karaeng Galesong bermula dari temuan gaib salah satu seorang papekang (pemancing), pada masa pemimpinan Karaeng Galesong III, Karaeng Bontomarannu yang diteruskan I djakkalangi Daeng Magassing.

Suatu ketika, pappekang tersebut menghadap ke salah seorang tokoh masyarakat, Daengta Lowa-Lowa, di kampung ujung sekitar pesisir Pantai Galesong bahwa dirinya telah dua kali diperlihatkan peristiwa gaib saat memancing di tengah laut. Peristiwa yang dialami oleh pappekang tersebut, dua jumat berturut-turut.

Temuan gaib pappekang itu berupa bunyi-bunyian dari suara khas gendang, royong, pui-pui, lesung, dan berbagai suara lainnya. Suara itu pun terkadang dirasakan sangat dekat dan adakalanya sayup-sayup.

Tanpa diketahuinya, seiring matahari terbit, dari utara sebuah benda anah semacam potongan bambu abu-abu tiba-tiba muncul dan kemudian hilang sekejap dari hadapapnnya.

Pappekang ini juga mengaku kalau bermacam-macam suara gaib yang didengarkan sontak menghilang. Dari laporan inilah, Daengta Lowa-Lowa kemudian mengklaim bahwa peristiwa tersebut kemungkinan rahmat dari Allah SWT yang ditujukan untuk keselamatan Galesong dan masyarakatnya.

Prof Dr Aminuddin Sale yang merupakan keturunan Karaeng Galesong mengatakan, peristiwa ini harus terus dilestarikan. Tanpa terkacuali, seluruh masyarakat di Kabupaten Takalar.

Penulis : Salmawati

Berita Terkait