Gubernur Baru, Harapan Baru

"Gubernur Baru, harapan Baru" oleh Puguh Wiyono (ASN pada Kanwil Kumham Sulsel)

Terkini.id – Saat hari pertama kita memiliki pemimpin baru, kita menyematkan harapan baru serta menunjukkan semangat baru. Demikian juga ketika Presiden Joko Widodo melantik Prof. H.M. Nurdin Abdulah-Andi Sudirman Sulaiman, ST sebagai gubernur dan wakil gubernur Sulawesi Selatan masa jabatan 2018-2023.

Masih teringat dibenak kita visi dan misi Prof Andalan pada saat kampanye pemilihan calon gubernur dan wakil gubernur beberapa waktu yang lalu. Prof. Andalan mengusung visi Sulawesi Selatan yang Inovatif, Produktif, Kompetetif, Inklusif dan Berkarakter.

Pemilihan kepala daerah termasuk Sulawesi Selatan bukan sekedar pemilihan gubernur belaka, tetapi lebih dari itu adalah sebuah momen untuk melahirkan harapan baru, visi baru dan semangat hidup yang baru. Lebih dari sekedar menentukan arah, visi juga seperti magnet yang bisa menarik kita ke kehidupan seperti visi itu sendiri.

Ketika kita memilih sebentuk visi sebenarnya kita sedang memilih sebuah masa depan. Sebagaimana banyak dibuktikan dalam catatan sejarah bahwa wajah masyarakat sangat dominan diwarnai oleh pimpinan puncaknya.

Ketika kita memilih pemimpin sebenarnya kita sedang membiarkan sebagian masa depan kita dibentuk oleh mimpi dan visi pemimpin yang kita pilih tadi.

Machiavelli pernah mengajukan sebuah pertanyaan “Apakah lebih baik dicintai atau ditakuti?”. Menurut Machiavelli “Lebih baik ditakuti daripada dicintai karena manusia itu mudah berubah sikap, plin plan, penakut dan perakus. Apabila kita ditakuti maka pasti kita tidak dicintai tetapi setidaknya tidak dibenci”.

Tentu kita boleh tidak sependapat dengan Machiavelli. Kita membutuhkan seorang pemimpin yang tidak saja dicintai tetapi juga sekaligus ditakuti. Karena kita sedang menitipkan sebagian masa depan kita kepada seorang pemimpin, tentu kita akan menitipkan kepada orang yang tepat yang sesuai dengan kepercayaan, keyakinan dan harapan akan masa depan. Pemimpin yang tepat untuk kita titipkan mimpi-mimpi kita adalah pemimpin yang visioner.

Seorang pemimpin yang visioner harus mempunyai keberanian bertindak. Keberanian bertindak merupakan pembeda terbesar antara pemimpin dan masyarakat biasa.

Dari keberanian bertindak dapat kita ketahui bahwa dia adalah berbeda dengan kita dan dia layak untuk memimpin kita. Seorang pemimpin yang visioner harus tegas dan berintegritas.

Setelah mempunyai keberanian untuk bertindak, harus didukung dengan tegas dan berintegritas. Ini adalah landasan yang kokoh untuk menopang segala kebijakan yang akan dilaksanakan.

Dan pemimpin yang visioner harus komitmen dan konsisten bahwa apa yang diucapkan itu yang harus dilakukan. Komitmen saja tidak cukup, dibutuhkan  keyakinan, gairah, kegigihan, keberanian dan tanggung jawab secara konsisten.

Namun banyak tercatat dalam sejarah bahwa harapan baru hanya tinggalah harapan, mimpi-mimpi tinggalah kenangan. Banyak pengalaman masa lalu yang mengingatkan bahwa harapan dan semangat baru pupus ditengah jalan. Perilaku lama muncul kembali. Kebiasaan lama terulang kembali. Seperti lagu lama terjadi lagi dan kisah lamapun terulang kembali.

Banyak kejadian yang tidak menggerakkan kita untuk hidup menjadi lebih baik lagi. Sehingga tidak heran apabila muncul istilah ‘Masih enak zamanku to’ atau ‘Mengapa zaman dahulu lebih baik daripada zaman sekarang’.

Patut kita menunggu langkah konkrit penjabaran dari kelima poin visi pasangan Prof Andalan ini sebagai jiwa/semangat bagi wujud program spesifik gubernur-wakil gubernur yang muaranya demi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat Provinsi Sulawesi Selatan.

Setiap pergantian pemimpin, sesungguhnya kita sedang berusaha menata dan menyegarkan visi kita, mimpi kita. Kita tidak mungkin membangun harapan dan visi yang baru tanpa membangun integritas kita yang baru.

Ada sebuah anekdot yang cerdas bahwa ‘Sepasukan rusa yang dipimpin oleh seekor singa akan lebih ditakuti dari pada sepasukan singa yang dipimpin oleh seekor rusa”. Dan Singa perkasa tidak akan pernah takut memimpin segerombolan rusa.

Sampai hari ini tidak ada orang yang ingin dipimpin oleh orang penakut, lemah dan peragu. Selamat datang pemimpin yang visioner. Selamat datang Harapan Baru.

Berita Terkait
Komentar
Terkini
Opini

Rekor 8 Menit di Bilik Suara

KORAN hampir mati. Tapi kertas suara masih lebih lebar dari koran. Zamannya digital. Generasinya millennial. Tapi coblosannya masih pakai paku.Itulah pemilihan umum Indonesia tahun
Opini

Kunci Partai Demokrat Ada di Megawati

HANYA dengan anggukan kepala tanpa kata dari Megawati, dalam hitungan detik Demokrat bakal dukung Jokowi. Tapi itu hampir muskil terjadi. Karena SBY begitu menyakiti
Opini

Dewasa dalam Berdemokrasi

DALAM sistem demokrasi, kekuatan politik itu bukan melulu berasal dari lembaga formal tetapi juga lembaga informal seperti media massa.Media massa adalah kekuatan keempat dalam
Opini

Dahlan Iskan: Move On

SIAPA pun yang menang, yang kalah adalah hoax.Yang juga kalah adalah fitnah.Begitu pemilu ini selesai, hoax pasti tidak begitu laku lagi. Lalu-lintas fitnah akan
Opini

Militansi Dalam Berdemokrasi

Terkini.id,Makassar - Saat momen politik seperti ini antusias masyarakat begitu sangat tinggi dalam mendukung calonnya masing-masing. Bahkan pada timgkatan tertentu masing-masing pendukung mengalami sebuah
Opini

Netralitas Mahfud MD

"SAYA perkirakan Pemilu besok akan bermuara di MK, karena itu saya harus netral," ujar Prof. Dr. Mahfud MD.Beliau adalah mantan Ketua Mahkamah Konstitusi. Yang
Opini

Mental Bangsa dan Revolusi Mental

SAYA provokasi cucu saya, Aufar agar dia makan yang banyak. Saya katakan, “Aufar kalau makannya banyak, nanti cepat gede. Kalau gede bisa pintar."Dia perhatikan
Opini

Politik dan Kebohongan

"Dusta itu penghulu segala kesalahan” (hadits).Konon kabarnya ketika seseorang berbohong dalam sebuah hal maka dia akan berbohong tentang hal lain. Ketika dia berbohong pada
Opini

Cara Tiongkok Membangun Ekonomi

PRABOWO meminta Jokowi belajar ke china bagaimana mengurangi kemiskinan. Kalaulah Prabowo memahami bagaimana Tiongkok membangun negeri dan mengurangi kemiskinan, tentu cera kampanye Prabowo aka