Habib Bahar: Andaikan Presidennya Bapak Saya, Tetap Saya Bilangi Banci

Screenshot TVOne

Terkini.id, Makassar – Penceramah yang belakangan ditetapkan tersangka oleh kepolisian atas kasus ujaran kebencian dan penghinaan, Habib Bahar bin Smith buka-bukaan.

Melalui wawancara yang disiarkan TVOne, Habib Bahar menegaskan pernyataannya yang menyebut Jokowi Banci dalam sebuah ceramah tersebut benar adalah dirinya.

Habib Bahar mengungkapkan, pernyataan itu disampaikannya atas fakta-fakta yang dia temukan sejak Jokowi menjadi presiden.

“Banyak faktanya kalau mau dikumpulkan. Orang-orang yang dulu senang sekarang susah. Orang yang dulu perusahaannya bagus sekarang melorot. BBM naik, listrik naik,” kata Habib Bahar saat diwawancara.

Apresiasi Penyidik Polri

Habib Bahar mengaku penyidik Polri sangat kooperatif dan baik terhadap dirinya.

Menarik untuk Anda:

“Masya Allah, penyidik (polisi) profesional. Kita disambut baik. Status saya dinaikkan menjadi tersangka tapi tidak ditahan,” terang dia.

“Setiap masuk waktu salat, saya diizinkan salat,” katanya lagi. Habib diperiksa hingga lebih dari 20 jam.

Soal Kafir dan China

Habib Bahar mengaku, kalimat kafir yang dia ditujukan kepada kalangan tertentu, bukan untuk warga Tionghoa di Indonesia.

“Orang China yang saya maksud itu negara China. Orang-orang kafir barat. Kalau saya dibilang anti-China, abah saya punya perusahaan dan memberi banyak kepercayaan kepada Tionghoa. Bahkan sejak kecil sama saya (Tionghoa),” tambahnya lagi.

Presiden Banci

Terkait pernyataan presiden banci, Habib Bahar membenarkan itu pernyataannya dalam sebuah ceramah.

“Ceramah itu saya sampaikan dua tahun lalu. Saya sudah lupa tepatnya,” terang dia lagi.

Terkait dengan pernyataan Jokowi Banci, andaikan yang menjadi presiden adalah bapaknya, dan melakukan hal yang sama dengan Presiden Jokowi pada saat aksi 411 (Demo Ahok), dia juga akan menyebutnya banci.

“Andaikan dalam peristiwa 411 itu, presidennya bapak saya, saya bilang banci. Walaupun keluarga saya sendiri yang melakukan seperti itu (berlaku tidak benar), bakal saya kritik. Karena kita tidak akan membenarkan yang salah,” katanya.

Terakhir, Habib Bahar menyampaikan pesan, bahwa sebaik-baiknya Raja atau penguasa, adalah raja yang keputusannya bersandar pada pendapat ulama, hasil ijtihad, maupun fatwa para ulama.

Sementara, sejelek-jeleknya ulama, adalah mereka para ulama alim yang menjadikan ilmunya hingga mencari dalil untuk membenarkan keputusan penguasa yang salah.

Konten Bersponsor

Mungkin Anda Suka

Penjelasan Najwa Shihab Soal Kursi Kosong: Ini Sudah Dilakukan di Inggris dan Amerika

Wakil Ketua DPRD Jadi Tersangka karena Gelar Konser Dangdut, Dapat Bantuan Hukum

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar