Hanya di Bulukumba, Tradisi Anyorong Lopi Masih Dilakukan

Tradisi Anyorong Lopi di Kabupaten Bulukumba

Terkini.id, Bulukumba – Salah satu tradisi yang hingga saat ini masih dijaga masyarakat Bulukumba, khususnya yang berada di lokasi pembuatan Perahu Pinisi di Kelurahan Tanah Lemo, Kecamatan Bonto Bahari yakni tradisi “Anyorong Lopi”.

Tradisi Anyorong Lopi ini tidak menggunakan alat berat, tidak ada katrol, hanya mengandalkan tenaga manusia dengan menggunakan tali yang ditarik ratusan orang dibibir pantai.

Biasanya kegiatan Anyorong ini dilakukan hingga berjam jam, berhari hari, ataupun berminggu-minggu, tergantung besar kecilnya kapal yang akan diturunkan ke Pantai.

Seperti kegiatan Anyorong Lopi yang dilakukan ratusan warga Tanah Lemo Bontobahari pada Kamis 13 September 2018, yang memerlukan waktu sekitar 3 jam untuk menarik dan mendorong perahu berukuran 30 meter ke bibir pantai.

Tradisi Anyorong Lopi

Biasanya untuk memicu semangat para penarik kapal seorang pemandu yang akan membawakan “Appatara Taju” yang mana berisi nyanyian-nyanyian orang dulu yang berisi cerita-cerita lucu yang membuat gelak tawa, sehingga nyanyian ini dipercaya mampu menghilangkan rasa lelah bagi warga yang ikut kegiatan Anyorong Lopi tersebut.

Baca :Gadis ini membuktikan 'Uang Panaik' lebih Berat dari rindunya Dilan

Appatara Taju juga merupakan aba-aba seperti halnya ketukan kapan akan menarik tali, kapan jeda sehingga ada keselarasan dalam menghentakkan tali yang ditarik.

Sebelumnya kegiatan ini dilakukan ada beberapa prosesi yang wajib dilakukan pemilik kapal dan juga tukang, yakni ritual Ammoci di mana ritual ini sang guru spiritual yang ditunjuk sang pemilik kapal akan memasukkan emas ke dalam mulutnya(tidak ditelan), dan saat itu sang guru memulai Ammoci atau melubangi lunas dengan bor. Emas itu nantinya akan diambil oleh sang guru sebagai upah dari sang pemilik kapal.

“Tergantung si pemilik kapal biasanya emasnya beratnya 1 hingga lima gram,” jelas H Kardi, salah seorang saudagar perahu Pinisi di Bontobahari.

Setelah itu adalah ritual Songka Bala. Ritual ini adalah sesajen yang ditata di atas kapal terdiri dari daging sapi atau kambing, songkolo, onde onde, baje dan kue kue khas tradisional yang umumnya memakai gula aren.

Makna dari gula aren disini adalah agar kehidupan yang dijalani sang pemilik kapal akan selalu manis dalam artian bahagia dan semua penumpang kapalnya juga demikian.

Baca :Terancam punah, 3 budaya Bugis-Makassar ini harus dilestarikan

“Makna dari gula aren ini pada umumnya adalah agar sang pemilik kapal senantiasa mendapat berkah dan kesejahteraan,” ujar H Kardi.

Tradisi Anyorong Lopi

Tradisi yang turun temurun ini masih terus terjaga oleh para pewarisnya, khususnya di kawasan pembuatan perahu Pinisi dan akhirnya tradisi ini mendapat pengakuan dunia dengan dijadikannya sebagai warisan dunia tak benda oleh UNESCO tahun 2017 lalu.

Prosesi Annyorong Lopi atau peluncuran perahu/kapal yang sarat dengan kearifan lokal juga menjadi salah satu event yang tiap tahun diadakan sebagai rangkaian dari Festival Pinisi.

Festival Pinisi ini sendiri masuk dalam kalender 100 event Wonderful Festival Nasional dari Kementrian Pariwisata.

Wakil Bupati Bulukumba, Tomy Satria, yang ikut berperan dalam meloloskan tradisi Pinisi masuk dalam warisan tak benda dunia dari UNESCO, mengatakan, Annyorong Lopi adalah kearifan lokal milik masyarakat Bulukumba, Bontobahari, yang harus terus dilestarikan.

Dimana Pinisi, kata dia, bukan hanya hanya dilihat dalam bentuk konstruksi kapal yang unik, namun di dalamnya ada segala macam kebudayaan dan kearifan lokal yang menjadi pengetahuan masyarakat Bontobahari dan harus terus terjaga.

Baca :Assuro maca, tradisi berdoa bersama sambut Ramadhan

“Ini adalah bukti nyata tentang semangat kebersamaan, gotong royong dan etos kerja yang luar biasa dari masyarakat Bulukumba,” ujarnya.