Hari Laut Sedunia, Bro Rivai : Laut Harus Bebas dari Sampah Plastik

Bro Rivai
Founder BRORIVAI Center, Abdul Rivai Ras

Terkini.id, Makassar – Pentingnya laut yang bersih merupakan kebutuhan yang tidak terpisahkan bagi kehidupan. Bagi flora dan fauna tertentu, laut harus terbebas dari polusi sebagai tempat berlangsungnya ekosistem.

Sementara itu, bagi manusia, laut bisa menjadi salah satu sumber mata pencaharian untuk memenuhi kebutuhan hidup. Para nelayan bisa mendapatkan keuntungan dari menangkap ikan di laut.

Kalangan lainnya bisa mendapatkan keuntungan dari membuka area wisata bertema laut dan sekaligus menjadi media perhubungan, pertahanan, dan penelitian bio-diversity.

Karena pentingnya laut bagi banyak pihak, menurut Founder Brorivai Center, Abdul Rivai Ras (Bro Rivai), saatnya semua kalangan yang terkait ikut memikirkan konsep pengembangan keamanan maritim dan lingkungan laut dalam upaya menanggulangi pencemaran akibat sampah plastik yang terbuang ke laut yang volumenya semakin meningkat.

“Sampah yang terbawa ke laut merupakan sampah anorganik yang sulit diurai, akibatnya kondisi air laut menjadi kotor bahkan berbau. Selain itu, ikan tangkapan nelayan pernah hidup dalam ekosistem yang tercemar oleh limbah plastik (mikroplastik), kemudian dicerna oleh ikan dan berlanjut dikonsumsi manusia. Tentu ini berbahaya bagi kehidupan manusia,” imbuhnya Rivai Ras.

World Ocean Day. (foto/Brorivai Center)

Bro Rivai : Indonesia kini menjadi “Surga Plastik”

Baca juga:

Lanjut Rivai, Indonesia kini menjadi ‘surga plastik’, dimana berada pada peringkat kedua dunia penghasil sampah plastik ke laut setelah Tiongkok.

“Plastik yang terbuang ke laut sesungguhnya akan terurai menjadi fragmen lebih kecil yang awet selama berabad-abad. Dari data Jambeck, 2015, produk sampah plastik Indonesia yang terbuang ke laut mencapai sebesar 187,2 juta ton, sedangkan Tiongkok mencapai 262,9 juta ton,” ungkapnya.

Salah satu Pendiri Universitas Pertahanan (UNHAN) ini juga mengungkapkan, sampah plastik menjadi isu global menyusul sampah ini bermunculan di Pulau Henderson, kawasan Samudera Pasifik sebagai tempat pembuangan sampah akhir (TPA global). Disinyalir ada 88 benda yang yang berlabel ditemukan lebih dari sepertiga berasal dari negara-negara di Asia.

“Plastik itu adalah warisan Perang Dunia Kedua. Kekurangan materi alami selama perang mendorong pencarian alternatif sintetis – dan lonjakan pesat produksi plastik yang berlanjut hingga kini,” pungkas Bro Rivai yang juga pakar Pertahanan ini.

Komentar

Rekomendasi

Ada Tambahan, Uang Negara Keluar Rp 677 Triliun untuk Penanganan Corona

JK: Jaga Jarak Sangat Bisa Dilakukan di Masjid, Beda dengan Pasar atau Mal

Video: Detik-detik Ruslan Buton Cium Tangan Ibunya Sebelum Dijemput Polisi

New Normal, JK Minta Rumah Ibadah Dibuka Lebih Dulu lalu Mal dan Kantor

Heboh Kemunculan Bulan Bercincin di Banyuwangi, Ini Penjelasan Peneliti Bosscha

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar