Hasil Forum Editor’s Day: Pariwisata dan Kopi Adalah Kuncinya

Ekonom Indef Bhima Yudhistiya Adhinegara (kanan), dan Kepala Grup Advisory dan Pengembangan Ekonomi BI Sulsel Dwityapoetra S Besar, di Editor's Day, di Four Points Hotel, Senin 13 Agustus 2018.

Terkini.id, Makassar – Bersama kalangan media, Bank Indonesia Sulawesi Selatan (BI Sulsel) menggelar diskusi Editor’s Day dengan membahas isu ekonomi terkini, yakni defisit transaksi berjalan pemerintah.

Diskusi digelar di Four Points by Sheraton Hotel, Senin 13 Agustus 2018.

Diskusi tersebut menghadirkan beberapa pembicara, antara lain Ekonom Indef Bhima Yudhistiya Adhinegara, Kepala Grup Advisory dan Pengembangan Ekonomi BI Sulsel Dwityapoetra S Besar, serta Wakil Ketua Dewan Pers Ahmad Djauhar.

Dalam diskusi ini, Dwityapoetra S Besar, mengemukakan, ekonomi Indonesia saat ini, yang terlihat dari pelemahan rupiah terhadap dolar, hingga defisit transaksi keuangan, banyak disebabkan oleh ketidakpastian global serta perang dagang antara AS dan Tiongkok.

“Kalau kita lihat, current account kita cenderung mengalami defisit sejak harga komoditas mengalami penurunan,” terang Dwityapoetra S Besar.

Menarik untuk Anda:

Current Account Defisit (CAD) itu terlihat dari makin besarnya nilai impor Indonesia, khususnya bahan baku dan barang modal. Di sisi lain, ekspor nonmigas Indonesia terus turun.

Current Account Defisit Indonesia, pada kuartal II 2018, meningkat hingga 3 persen dari kuartal I, menjadi USD 8 miliar. Angka itu sekitar 2,2 persen terhadap PDB.

“Untungnya, kita masih aman, karena masih di bawah 3 persen terhadap PDB,” terang Dwityapoetra.

Pengaruh Perang Dagang

Ekonom Indef, Bhima Yudhistiya Adhinegara, memberi ulasan lebih jauh.

Dia menyebut, perang dagang antara Amerika dan Tiongkok telah memberi efek bola salju hingga Indonesia.

“Kita mungkin tidak punya hubungan dagang ke Amerika, namun produk-produk ekspor kita banyak diekspor ke Tiongkok. Seperti batu bara,” terang dia.

Ketika Amerika memberlakukan tarif pajak yang terlalu tinggi terhadap produk-produk Tiongkok yang masuk ke Amerika, industri Tiongkok pun terganggu.

Maka, efeknya adalah bahan baku ekspor Indonesia ke Tiongkok seperti batu bara dan nikel juga ikut terganggu, atau menurun.

“Ekonomi Indonesia lebih sensitif ke China dibanding AS. Setiap penurunan pertumbuhan ekonomi China 1 persen, akan berdampak ke penurunan ekonomi Indonesia sebanyak 0,11 persen. Sementara 1 persen penurunan ekonomi AS, hanya berdampak 0,05 persen ekonomi Indonesia,” terang dia.

Hingga hari ini, 13 Agustus 2018, pelemahan rupiah terhadap dolar terus berlanjut, dan menyentuh hingga Rp 14.600 per dolar AS.

Meskipun, itu sebenarnya lebih disebabkan faktor eksternal, yakni penguatan dolar akibat mengalirnya dana-dana asing kembali ke Amerika.

“Rupiah sebenarnya cenderung masih stabil, dan lebih baik dari negara-negara lain,” terang dia.

Masalah-masalah ketidakpastian global, defisit transaksi keuangan berjalan, hingga perang dagang Amerika-Tiongkok, akan terus mempengaruhi Indonesia ke depan.

Rekomendasi

Untuk itu, baik Dwipoetra maupun Bhima, memberi rekomendasi: Indonesia harus memperkuat komoditas yang ‘anti’ atau punya ‘imun’ yang kuat atas kondisi global.

Apa itu?

“Salah satunya pariwisata. Dari semua sektor ekonomi kita (yang terkait perdagangan internasional) baik itu jasa transportasi, manufaktur, dan lain-lain, cuma jasa pariwisata (travel) yang cenderung surplus,” terang Dwityapoetra.

Makanya, daerah menjadi harapan untuk mengurangi defisit transaksi keuangan berjalan dengan melakukan berbagai upaya demi memikat para wisatawan.

Event yang akan dihelat, seperti Asian Games 2018, event IMF di Bali, hingga sepuluh destinasi baru yang setara Bali di Indonesia perlu terus mendapat perhatian.

Selain itu, Bhima menyebut, ada bebrapa komoditas yang punya ‘imun’ kuat tehadap pengaruh global.

“Komoditas leisure export. Seperti kopi, teh, kakao, minyak atsiri, hingga kacang mete,” terang dia.

Menurut dia, di berbagai negara seperti di khususnya Eropa, produk-produk itu cenderung stabil di pasaran, dan terus dikonsumsi masyarakat.

Konten Bersponsor

Mungkin Anda Suka

Dorong Digital Entrepreneurship, Mandiri Latih Ribuan Anak Muda

Geger 4 Persen Emas di China Diduga Palsu usai Skandal Pemalsuan Terbesar Diungkap

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar