Hasil Penelitian Ilmiah Sebut Omicron Serang Tenggorokan Daripada Paru-Paru, Ilmuwan: Cepat Menular dan Jangan Lengah!

Terkini.id, Jakarta – Banyaknya bukti varian Corona Omicron yang menginfeksi tenggorokan daripada paru-paru membuat para ilmuwan yakin bahwa varian ini lebih cepat menular dan tak begitu mematikan daripada varian virus Covid-19 lainnya.

Kabar terbaru ada enam penelitian yang diterbitkan sejak akhir Desember 2021 dan menemukan Omicron tidak merusak paru-paru orang separah Delta dan varian Covid sebelumnya.

Namun, studi ini belum ditinjau lebih jauh para ilmuwan lain sebagaimana dilansir terkini.ida dari cnnindonesia.

Baca Juga: Jubir Satgas : Indonesia Berhasil Melalui Puncak Omicron

Menurut Deenan Pillay, Profesor Virologi University College London menyebutkan bahwa hasil dari semua mutasi yang membuat Omicron berbeda dari varian sebelumnya adalah terdapat kemungkinan ia telah mengubah kemampuannya untuk menginfeksi berbagai jenis sel.

“Intinya, tampaknya lebih bisa menginfeksi saluran pernapasan bagian atas, sel-sel di tenggorokan. Jadi berkembang biak di sel-sel di sana lebih mudah daripada di sel-sel yang jauh di dalam paru-paru. Ini benar-benar awal tetapi studi menunjukkan arah yang sama,” kata Pillay mengutip The Guardians, Senin, 3 Januari 2022.

Baca Juga: Kemenkes Sebut Sinyal Pandemi Akan Segera Berakhir, Benarkah?

Menurut Deenan, jika virus menghasilkan lebih banyak sel pada tenggorokan, itu membuatnya semakin mudah menular.

Sebaliknya, virus yang menginfeksi jaringan paru-paru akan berpotensi lebih berbahaya tetapi kurang menular.

Para peneliti dari Grup Penelitian Virologi Molekuler University of Liverpool menerbitkan pra-cetak yang menyatakan Omicron menyebabkan penyakit yang tak terlalu parah pada tikus.

Baca Juga: Kemenkes Sebut Sinyal Pandemi Akan Segera Berakhir, Benarkah?

Dalam makalah tersebut menampilkan bahwa tikus yang terinfeksi Omicron kehilangan berat badan lebih sedikit, memiliki viral load lebih rendah dan mengalami pneumonia tidak terlalu parah.

Hal ini memang kabar baik, tetapi bukan sinyal untuk lengah. Karena jika Anda rentan secara klinis, tetap ada kematian akibat Omicron. Tidak semua orang bisa melepas masker dan berpesta,” ucapnya lagi.

Bagikan