Hati-hati, Mata Pada Bayi Prematur Bisa Buta Jika Tidak Segera Dideteksi

Bayi
Ilustrasi Bayi. (foto: ist)

Terkini.id, Makassar – Organ tubuh pada bayi yang lahir prematur pada dasarnya belum sempurna sepenuhnya. Salah satu organ tubuh yang mesti diperiksa dengan seksama adalah bagian mata.

Pasalnya, sekitar 15-20 persen bayi prematur berpotensi mengidap retinopati prematuritas atau ROP.

“Untuk itu orang tua harus melakukan pemeriksaan satu bulan sejak kelahirannya,” kata dr. Marlyanti Nur Rahmah Akib di Gedung IPTEKS Unhas, Kamis, 19 Desember 2019.

Marlyanti mengingatkan, orang tua yang melahirkan bayi prematur harus membawa bayinya untuk melakukan pemeriksaan.

“Tak boleh lebih dari satu bulan karena penyakit ROP bisa terkena pada bayi yang lahir di usia 3 minggu sampai 4 minggu pasca kelahiran,” urainya.

Menarik untuk Anda:

Pada usia itu, penyakit ROP sudah bisa terdeteksi. Menurut dia, kalau penyakit ini tidak ditangani dengan baik maka bisa menyebabkan kebutaan permanen pada bayi.

“Namun, bila dilakukan skrining maka kebutaan pada bayi bisa dicegah dengan cara memberikan obat ke dalam matanya,” ujar Marlyanti.

Dia mengungkapkan bahwa dengan hanya menggunakan mata telanjang penyakit ROP tidak bisa terdeteksi. Untuk itu harus melalui pemeriksaan dengan alat tertentu.

Kendati begitu, ia mengatakan tidak semua bayi prematur bisa terkena penyakit ROP.

Sustainability Manager dan Community Engagement Corporate Affairs – Standard Chartered Bank, Lie Sri Rejeki, mengatakan kasus angka kebutaan di Indonesia terbilang masih tinggi.

“Indonesia berada pada urutan ke-4 angka kebutaan,” kata Lie.

Untuk itu, kata dia, pihaknya berfokus pada pencegahan kebutaan yang bisa dihindari. program tersebut telah terlaksana sejak tahun 2016.

Ia mengatakan sebelum memberi edukasi terhadap orang tua bayi, juga harus memberi edukasi terhadap dokter.

Lie menilai, kadang kala dokter anak tidak memahami gejala penyakit tersebut. Yang mereka tahu adalah berat bayi prematur tidak normal.

“Jadi kecenderungan hanya gizinya yang dipenuhi,”¬†ujarnya.

Padahal, kata dia, deteksi dini terhadap kebutaan pada bayi prematur harus dilakukan. Selain itu, ia berharap ada juga edukasi terhadap Posyandu.

“Karena masyarakat yang di bawah pasti belum mengenali yang namanya ROP karena penyakit ini masih langka dan edukasinya harus menyeluruh,” pungkasnya.

Konten Bersponsor

Mungkin Anda Suka

Lakukan Langkah ini Agar Terhindar dari DBD di Masa Pandemi Covid-19

Tahukah Anda? Klaster Kencan, Pesta dan Klinik Gigi Tertinggi Tularkan Covid-19

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar