Heboh ABK Indonesia Korban Eksploitasi di Kapal Asing, 3 Jasad Dibuang ke Laut

Terkini.id, Busan – Peristiwa mengenaskan yang terjadi di sebuah kapal penangkap ikan ramai diberitakan di Korea Selatan.

Media Korea Selatan, MBC menayangkan sebuah video yang memperlihatkan kekejaman terhadap anak buah kapal (ABK) Indonesia di sebuah kapal nelayan China.

Berita tersebut diberi judul “Eksklusif, 18 jam sehari kerja. Jika jatuh sakit dan meninggal, lempar ke laut”.

Video tersebut diunggah lewat akun youtube stasiun TV MBC.

Youtuber asal Korea Jang Hansol membahas video tersebut dalam akun youtubenya, Korea Reomit. Hingga saat ini, video youtuber tersebut sudah ditonton hingga 1,5 juta kali.

Dalam videonya, Hansol menerjemahkan berita yang dirilis oleh MBC tersebut.

Menurut Hansol, di kapal nelayan milik China tersebut, telah terjadi perbudakan manusia.

Menurut interpretasinya, para awak kapal Indonesia tersebut harus bekerja selama 30 jam, dan istirahat selama 6 jam.

“Tiga puluh jam berdiri kerja, dan diselingi waktu 6 jam alias waktu makan, dan itu yang dihitung sebagai waktu istirahat,” ujar Hansol dalam videonya.

Bukan cuma itu, Hansol juga menyebutkan ABK Indonesia tersebut juga tak memiliki akses terhadap air mineral.

Padahal, kapal tersebut membawa dan menyimpan air mineral.

“Mereka itu sebenarnya bawa air mineral, tapi yang minum air mineral itu cuma nelayan China. Sedangkan untuk nelayan Indonesia disuruh minum air laut yang difilterasi,” kata Hansol sambil membuka video tayangan MBC tersebut.

Dalam video MBC, terlihat Ari (24), seorang ABK Indonesia meninggal setelah sebulan sebelumnya diketahui sakit. 

Ia sakit diduga karena meminum air laut yang difilter.

Setelah meninggal, jasad Ari langsung dibuang ke laut. Menurut informasi, sebelum meninggal Ari mengalami keram pada kaki lalu terjadi pembengkakan.

Padahal, menurut perjanjian, apabila ABK meninggal ketika bekerja, maka jenazahnya akan dikremasi.

Ahli waris yang ditinggalkan juga  berhak mendapatkan asuransi sebesar 10 ribu dolar Amerika.

Hansol juga menjelaskan, upah yang diterima oleh para ABK ini juga tak layak.

“Lima di antara nelayannya, setelah bekerja 13 bulan, hanya dibayar 120 US dolar, berarti sekitar 1,7 Juta rupiah” kata Hansol.

Para ABK tersebut sempat berpikir untuk melarikan diri. Namun, mereka telah terikat kontrak kerja. Sementara itu,  paspor mereka juga ikut ditahan.

“Paspornya kemungkinan besar juga dirampas, udah gitu mereka ga punya deposit dengan nominal yang besar, jadi mereka ga bisa kabur. Akibat hal seperti itu, tidak mudah untuk pekerja disitu melarikan diri”

Tiga Jasad WNI Dibuang ke Laut

Dalam laporan MBC tersebut, pihaknya menyampaikan bahwa ada empat dari 18 WNI anak buah kapal (ABK) yang bekerja di Kapal bernamal Longxing 629 China tersebut yang meninggal dunia.

Sedangkan 14 lainnya diesbutkan mengalami pelanggaran hak asasi manusia. MBC pun dalam laporannya mendesak adanya investigasi internasional atas pelanggaran HAM di atas kapal tersebut.

Disebutkan, laporan MBC terkait masalah eksploitasi itu awalnya terungkap saat kru kapal meminta bantuan pemerintah Korea untuk memasuki Pelabuhan Busan.

Dikutip dari MBC, tiga ABK yang meninggal dunia itu bernama Al Fattah, Sefri, dan Ari. Ketiga jasad mereka terpaksa dibuang ke laut lepas. Seorang lainnya bernama Effendi meninggal saat berada di rumah sakit.

Padahal ketiga jenazah itu dijanjikan akan dikirim ke Indonesia setelah dilakukan kremasi. Perlakuan itu membuat 14 ABK asal Indonesia lainnya syok.

Salah seorang ABK bersaksi bahwa kondisi di kapal tersebut buruk dan eksploitasi terus berlanjut, hingga membuat para ABK yang telah meninggal sempat mengeluh tentang penyakit mereka selama sekitar satu bulan.

Akan tetapi, kapten kapal menolak untuk kembali dan memberikan perawatan kepada para nelayan yang sakit.

“Rekan-rekan yang mati merasakan mati rasa di kaki-kaki pada awalnya, dan kaki-kaki itu mulai membengkak. Saya membengkak di tubuh saya dan sulit bernapas,” ujar salah seorang ABK asal Indonesia kepada MBC, Rabu, 6 Mei 2020.

Perlakuan berbeda juga dirasakan oleh ABK asal Indonesia sebab ABK China minum dari air kemasan sedangkan ABK Indonesia harus minun air laut hingga jatuh sakit.

“Saya tidak minum air laut yang disaring pada awalnya. Saya pusing. Kemudian, dahak mulai keluar dari tenggorokan saya,” kata ABK Indonesia lainnya dalam wawancara tersebut.

ABK Indonesia di kapal itu juga sangat menderita sebab mereka harus bekerja keras selama 18 jam sehari. “Kadang-kadang saya harus berdiri dan bekerja selama 30 jam berturut-turut, dan saya tidak bisa duduk kecuali ketika makan setiap enam jam,” katanya.

ABK asal Indonesia dengan total 18 orang itu berangkat dari Indonesia menuju Korea Selatan lalu dijemput dengan kapal tersebut setahun lalu. Rencananya, 14 ABK Indonesia lainnya akan dipulangkan ke Indonesia.

Bagikan