Jadilah bagian dari Kolomnis makassarterkini
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis makassarterkini.

Hoax dan rudal menyerang Suriah

Eko Kuntadhi
Eko Kuntadhi
Suriah

Terkini.id – Goutha Timur hampir bisa dikuasai pemerintah Suriah. Para pemberontak yang dipasok dari berbagai negara mulai terpojok. ISIS sudah duluan babak belur. Rakyat Suriah bergembira ketika sebentar lagi negerinya akan terlepas dari cengkraman kaum bigot yang memanipulasi nama Allah untuk merusak peradaban.

Tapi kegembiraan itu sirna. Seperti biasa, ketika kemenangan pasukan pemerintah menghadapi para penjajah dan pemberontak sudah terwujud dengan kembali berkibarnya bendera nasional Suriah di Douma, mulai dimainkan skenario busuk: senjata kimia.

Polanya sama seperti ketika AS dam NATO ingin menumbangkan Saddam Hisein di Irak. Tuduhan Irak memiliki senjata kimia. Sampai Sadam tumbang dan Irak hancur lebur, tidak ditemukan senjata kimia di sana. Kita tahu, intervensi militer di Irak adalah serangan yang didasarkan pada hoax.

Akibatnya dahsyat. ISIS memasuki Irak, menyembelih banyak ulama dam warga yang tidak berdosa.

Di Suriah, hoax yang sama akan dimainkan lagi. Bedanya kali ini mengunakan kampanye video buatan. Melalui tangan White Helmet –organisasi partisan berkedok LSM– tuduhan pemerintah Suriah menggunakan serangan senjata kimia itu disebarkan.

Apa tujuannya? Agar AS, Saudi Arabia dan Nato punya alasan untuk langsung menyerang Suriah. Membombardir Suriah dengan rudal dan kekuatan penuh. Membunuhi rakyat Suriah tanpa pilih-pilih lokasi.

Hari-hari belakangan ini, misil dan rudal sedang ditembakkan AS dan sekutunya untuk menghancurkan Suriah. Perancis yang pertama teriak soal senjata kimia, sampai sekarang belum juga menyodorkan bukti konkrit. Tapi penghancuran sudah dilakukan.

Bisa dipastikan serangan itu akan melemahkan pasukan pemerintah. Lalu kaum pemberontak akan dibangkitkan lagi. ISIS yang sudah terkaing-kaing di Suriah punya peluang lagi untuk menyusun kekacauan baru. Al Qaedah akan merajalela lagi. Dan rakyat Suriah akan menderita lagi.

Di Indonesia, seperti biasanya ketika ISIS, kaum jihadis dan lemberontak sedang mengalami kekalahan di Suriah, kelompok simpatisan mereka akan membangun narasi untuk membelanya. Tagar save-savean dinaikkan. Para penjaja sedekah mulai berkeliaran.

Saat Aleppo dibebaskan dari tangan ISIS dan para jihadis, di Indonesia bertebar spanduk save Aleppo. Saat Ghouta sebentar lagi dikuasai rakyat dan pasukan pemerintah Suriah, beredar juga save Ghouta.

Logika para penjaja sedekah itu persis seperti AS dan sekutunya. Kalau ISIS dan pemberontak terdesak, dengan segala cara mereka akan membantu. Bukan membantu rakyat tapi justru menyokong para pengacau yang menbuat sengsara rakyat Suriah.

Kini Damaskus sedang dihujani rudal. AS, Inggris dan Perancis bernafsu meluluhlantakan negeri itu. Mereka dibantu Israel dan Saudi Arabia. Jerit tangis dan kesengsaraan rakyat terdengar lagi.

Setelah pasukan bonekanya berhasil didesak mundur oleh pemerintah Suriah, tangan AS dan sekutunya makin gatal. Kini mereka sendiri yang turun menghajar Bashar Asaad.

Di Indonesia, kepentingan AS dan sekutunya itu juga disuarakan orang-orang sejenis Somad dan Bahtiar Nasir. Sama seperti Donald Trump, Somad juga membenci dengan Bashar Assad. Trump memerintahkan pasukannya menghujani Suriah dengan rudal. Somad menembakkan rudal fitnah kepada Bashar Asaad.

Kata orang, kambing memang hanya cocok berkumpul dengan kambing.

www.ekokuntadhi.com

Tulisan ini adalah kiriman dari kolumnis makasar terkini, isi dari tulisan ini adalah tanggungjawab penulis yang tertera, tidak menjadi bagian dan tanggungjawab redaksi makassar.terkini.id
Editor :

Komentar

  • Kontak Informasi Makassarterkini
  • Redaksi: redaksi@makassarterkini.com
  • Iklan: iklan@makassarterkini.com