HPN 2019, Kebebasan Pers Masih Dirundung Awan Gelap

Terkini.id, Makassar – Di Hari Pers Nasional yang jatuh pada 9 Februari 2019, masih banyak hal penting yang menjadi perhatian.

Salah satunya adalah upaya untuk mewujudkan kebebasan pers, sebagai salah satu tujuan demokrasi di Indonesia.

Hanya saja, sejauh ini masih banyak Jurnalis yang menjadi korban pembunuhan.

Ironisnya, di tahun ini, pelaku pembunuhan jurnalis malah bisa menikmati remisi dari pemerintah.

Salah satu yang menjadi perhatian adalah terpidana pembunuhan terhadap wartawan Radar Bali, AA Gde Bagus Narendra Prabangsa, yakni I Nyoman Susrama.

Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) menegaskan, pembunuh seorang jurnalis masih bisa menikmati remisi.

“Kebebasan pers tanah air dirundung awan gelap. Pembunuh seorang jurnalis masih bisa menikmati remisi. Padahal jejak-jejak pembantaiannya terus menggores luka keluarga korban dan kalangan jurnalis,” tulis AJI melalui rilis yang diterima terkini.id.

AJI pun meminta agar Presiden Joko Widodo mencabut remisi untuk pembunuh jurnalis tersebut.

“Presiden Jokowi bukan cuma kepala negara, tetapi dia kepala pemerintahan. Ia punya hak penuh untuk mencabut remisi pembunuh jurnalis,” tambahnya.

Hingga saat ini, publik telah mengumpulkan hampir 50 ribu tanda tangan petisi menolak remisi Susrama yang telah divonis sebagai membunuh Jurnalis Radar Bali, AA Prabangsa.

“Perjuangan untuk menolak remisi adalah perjuangan keadilan bagi mereka yang dibunuh karena pemberitaan,” tambahnya.

Selain Prabangsa, siapa saja wartawan yang menjadi korban pembunuhan? Berikut di antaranya:

Fuad Syafruddin

Agus Mulyawan

Naimullah

Ardiansyah

Herliyanto

Ersa Siregar

Jamaluddin

Alfred Mirulewan

Berita Terkait
Komentar
Terkini