Infografik: Bank Sulselbar Digoyang Pemilik Saham

Ilustrasi Bank Sulselbar.(terkini.id/hs), karikatur nurdin abdullah, bank sulselbar, komik nurdin abdullah
Ilustrasi Bank Sulselbar.(terkini.id/hs)

Terkini.id, Makassar – Bank Sulselbar mendapat sorotan dari pemilik saham pengendali, Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah.

Buntutnya adalah keputusan memberhentikan Andi Muhammad Rahmat dari posisi Direktur Utama dalam RUPS Luar Biasa yang berlangsung di Four Points by Sheraton Makassar, Rabu 4 September 2019.

Keputusan pemberhentian itu menjadi polemik, di tengah kinerja akselaratif perusahaan milik daerah tersebut.

“Mayoritas pemegang saham menginginkan penyegaran. Oleh karena itu, izinkan saya sebagai pemegang saham pengendali, saya berharap pada hari ini untuk memberhentikan direktur utama,” jelas Nurdin Abdullah yang memimpin RUPS Bank Sulselbar, Rabu lalu.

Beberapa alasan yang dikemukakan dalam RUPS, dinilai tidak memperhatikan prinsip-prinsip good corporate governance (gcg), tidak relevan bahkan terlalu mencampuri urusan teknis perusahaan.

Alasan tersebut misalnya kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) yang naik dari 0,6 menjadi 1,2 persen, penyerahan fisik CSR mobil ambulance BPD yang lambat, perekrutan karyawan tidak transparan, hingga proses menjadi bank devisa yang lelet.

Sejumlah pihak pun menjawab berbagai tudingan pemilik saham ke Bank Sulselbar.

Salah satunya datang dari Serikat Karyawan Bank Sulselbar (Sekawan).

Dalam pernyataan sikapnya, Sekawan menyebut pemilik saham tidak memperhatikan prinsip-prinsip GCG, yakni transparency, independency, hingga fairness.

“Sebelum Rabu 4 September, digelar RUPS RUPS LB pada 23 April 2019 dengan kesepakatan memberi masa evaluasi selama satu tahun hingga RUPS Tahunan 2020. Nyatanya, cuma terhitung 4 bulan setelahnya RUPS kembali digelar dengan memberhentikan Direktur Utama. Sehingga kami menilai bahwa Gubernur tidak memberikan jaminan perlakuan yang adil terhadap manajemen Bank Sulselbar,” jelas Andy Cakra Diputra, Ketua Umum Sekawan.

Selain itu, Sekawan juga menyoroti RUPS yang tidak transparan, di mana para direksi tidak dibolehkan masuk di ruang RUPS untuk menyanggah atau menjawab segala tuduhan dan sorotan terhadap kinerja Bank Sulselbar.

Berita Terkait