Ini desa di Indonesia yang dihancurkan Tuhan karena doyan maksiat

Ilustrasi desa di Indonesia yang dihancurkan Tuhan karena doyan maksiat. (foto/matamaduranews.com)

Terkini.id, – Cerita kota Sodom dan Gomorah telah terkenal sejak zaman dulu sebagai kota paling maksiat dalam sejarah. Setiap waktu penduduk di kota ini gemar berbuat dosa, sampai melakukan hubungan intim sesama jenis. Karena sangat keterlaluan, Tuhan pun murka dan menghancurkan dua kota ini tanpa ampun.

Ditilik dari sejarah, kota-kota di belahan dunia lain juga ada yang hancur karena maksiatnya seperti halnya Sodom dan Gomorah. Misalnya Pompei atau India kuno. Nah, tak sampai situ saja, fenomena yang serupa ternyata juga pernah terjadi di Indonesia.

Ya, ini adalah tentang kampung Legetang yang ceritanya juga sejenis seperti Sodom Gomorah. Dalam semalam, desa ini hancur karena penduduknya sangat doyan maksiat.

Dulu sempat ada semacam ketidakpercayaan akan cerita tersebut. Namun, ternyata kisah miris tersebut benar terjadi. Bahkan dibangun semacam tugu untuk mengenang hal tersebut. Lebih dalam soal Legetang, berikut adalah kisah selengkapnya seperti dilansir dari terselubung.

Desa Lagetang. (foto/kaskus.com)

Sebuah desa surga bernama Legetang yang berdiri di daerah lembah pegunungan Dieng di Banjarnegara. Desa ini benar-benar luar biasa dan pantas disebut serga. Pemandangan hijau di mana-mana, petak-petak sawah yang indah, dan aliran sungai membelah desa dengan sempurna.

Baca :Kejari Jeneponto panggil 82 Kepala Desa

Tak hanya itu, sisi surgawi desa ini juga ditunjukkan dari makmurnya penduduk setempat. Ya, Legetang ini dulunya terkenal sebagai desa petani yang luar biasa kaya.

Tak pernah ada cerita-cerita miris soal wereng, banjir yang menghajar sawah-sawah, dan sebagainya. Semuanya sangat mulus dan sempurna.

Kehidupan desanya yang makmur seharusnya membuat orang-orang Legetang lebih banyak bersyukur. Namun, alih-alih melakukan hal itu, mereka malah seolah menikmati semua itu secara berlebihan. Berjudi, mabuk, adalah hal-hal yang jadi hobi mayoritas orang-orang sana.

Peta lokasi Desa Lagetang di Banjarnegara. (foto/kaskus.com)

Tak sampai disitu saja, dikatakan jika masyarakat Legetang juga doyan pesta yang berujung dengan memuaskan syahwat. Dalam pesta-pesta itu semua orang bebas melakukan apapun. Bahkan bercinta langsung dengan sinden-sinden yang ada. Semua orang berbaur dan menuruti nafsunya masing-masing.

Pada satu malam, seperti biasanya masyarakat Legetang melakukan pesta-pesta erotis mereka. Tak ada yang aneh sepanjang acara senang-senang ini, sampai akhirnya tanda-tanda pun mulai muncul.

Ya, tiba-tiba saja hujan turun dan bumi agak bergoncang sedikit. Namun, lama kelamaan kondisi ini makin hebat dan menakuti semua orang.

Baca :Laporkan Kades ke Kejari, Mantan Ketua BPD ini justru diduga gandakan stempel

Beberapa saat kemudian longsor yang begitu hebat terjadi dan mengubur desa ini dengan sangat mudahnya. Seluruh warga desa ini hanya bisa pasrah menikmati ajal mereka karena tak sempat lagi menyelamatkan diri. Tragedi ini menghapus Legetang dari peta. Satu desa lenyap beserta orang-orangnya.

Tugu Desa Lagetang. (foto/mindtalk.com)

Cerita tentang Legetang mungkin seperti dongeng saja, namun faktanya hal tersebut nyata. Buktinya adalah keberadaan sebuah tugu yang dikhususkan untuk mengenang desa Legetang dan orang-orang yang tewas.

Tugu tersebut tak hanya berupa bangunan saja, tapi juga memiliki tulisan yang bertuliskan, “TUGU PERINGATAN ATAS TEWASNJA 332 ORANG PENDUDUK DUKUH LEGETANG SERTA 19 ORANG TAMU DARI LAIN-LAIN DESA SEBAGAI AKIBAT LONGSORNJA GUNUNG PENGAMUN-AMUN PADA TG. 16/17-4-1955”.