Ini Fakta Baru Keanehan Boeing 737 Max yang Diungkap oleh Pilot

Boeing 737 Max 8
Boeing 737 Max 8

Terkini.id – Kejadian jatuhnya pesawat Boeing 737 milik Ethiopian Airlines menjadi perhatian banyak pihak lantaran punya kemiripan dengan tragedi kecelakaan Lion Air di Indonesia, Oktober silam.

Atas masalah tersebut, baru-baru terungkap juga dua pilot Amerika yang membeberkan keanehan saat menggunakan pesawat jenis tersebut.

Untuk diketahui, Ethiopian Airlines merupakan salah satu maskapai penerbangan terbesar di benua Afrika berdasarkan ukuran armada.

Pesawat yang jatuh tersebut adalah satu dari 30 jet Boeing 737 MAX 8 yang telah dipesan oleh perusahaan maskapai yang tengah berkembang pesat tersebut.

Sejumlah negara kini melarang pesawat berjenis Boeing 737 Max untuk beroperasi di wilayahnya.

Apa saja keanehan dari Boeing 737 Max tersebut yang pernah diungkap pilot?

Alami Masalah, Pilot Pesawat Minta Kembali

Salah satu keanehan yang dirasakan pilot Ethiopian Airlines ET302 sama dengan pilot Lion Air JT610, yakni saat pilot meminta untuk kembali (Return to Base/RTB) beberapa saat setelah lepas landas.

Disebutkan, Ethiopian ET302 meminta kembali ke petugas ATC, dan diizinkan. Namun, sebelum kembali, pesawat tersebut sudah jatuh.

Pada Oktober 2018 lalu, Pilot Lion Air JT 610 tujuan Pangkalpinang, Babel, juga meminta kembali sekitar pukul 06.31 WIB ke Bandara Soetta, Senin 29 Oktober 2019. Beberapa saat setelah lepas landas.

Setelah diizinkan oleh petugas ACT, pesawat tersebut kemudian jatuh.

Diketahui, pilot Lion Air dan Ehiopian sama-sama mengungkapkan bahwa “dia mengalami kesulitan” dan ingin kembali.

Dilihat dari situs web pelacakan penerbangan Flightradar24, penerbangan Ethiopian disebutkan memiliki kecepatan vertikal yang tidak stabil setelah lepas landas.

Menukik Turun Tiba-tiba

Saat ini, sudah ada dua pilot penerbangan di AS yang melaporkan bahwa sistem otomatis tampaknya telah menyebabkan pesawat Boeing 737 MAX 8 yang mereka kemudikan menukik (tilt down) secara tiba-tiba.

Berdasarkan sejumlah laporan yang diajukan tahun lalu dalam database yang disusun oleh NASA, kedua pilot itu mengatakan tidak lama setelah mengaktifkan sistem autopilot di pesawat mereka, ‘hidung’ dari burung besi yang mereka awaki mengarah ke bawah dengan tajam.

Dalam kedua kasus tersebut, mereka berhasil memulihkan dengan cepat kondisi itu setelah mematikan sistem autopilot, kata mereka.

Masalah seperti yang dijelaskan oleh kedua pilot ini, bagaimanapun, tidak muncul terkait dengan sistem anti-stall (pesawat kehilangan daya angkat) otomatis baru yang diduga berkontribusi terhadap kasus kecelakaan mematikan yang terjadi pada Oktober lalu di Indonesia.

Seperti diketahui, 6 menit setelah lepas landas, Ethiopian Airlines menukik tajam ke bawah pada ketinggian 8.000 kaki atau 2.400 meter. Kejadian itu mirip dengan yang dialami Lion Air pada Oktober 2018 lalu.

Berita Terkait
Komentar
Terkini