Ini pria-pria dibalik kesuksesan perfilman Makassar

Sutradara film Lolai Cinta diatas Awan, Andreuw Parinussa

Terkini.id, – Harapan besar tumbuh untuk perfilman di Makassar. Industri perfilman di Makassar seolah baru bangun dari tidur panjangnya. Para anak muda Makassar kembali bersemangat untuk belajar bagaimana caranya membuat film-film yang bermutu.

Kebangkitan film karya sineas Makassar dimulai dengan kemunculan sebuah film drama fiksi produksi kelompok Art2tonic berjudul Bombe (2014) yang berhasil memperoleh layar di jaringan bioskop Tanah Air, XXI. Film Bombe’ mendapat apresiasi luar biasa dari masyarakat Makassar.

Menyusul kemudian film Uang Panai’ (2016) produksi Makkita Cinema Production yang sukses memukau lebih dari 562.000 penonton, kemudian film Athirah (2016) produksi Miles Films, disusul Silariang : Menggapai Keabadian Cinta (2017) produksi Paramedia Indonesia, film-film buatan anak muda Makassar berhasil mendulang kejayaannya.

Di tahun 2018 ini, beberapa film karya sineas Makassar akan kembali menghiasi layar bioskop tanah air, sebut saja Maipa Dipati Datu Museng produksi Paramedia Indonesia, Lolai Cinta diatas Awan produksi Timur Pictures, dan Silariang : Cinta Yang [Tak] Direstui produksi Inipasti Communika dan Indonesia Sinema Persada.

Salah satu faktor penentu dari keberhasilan produksi film-film tersebut tidak terlepas dari kecermelangan sang sutradara meramu jalannya naskah cerita dan mengarahkan film sesuai dengan naskah/skrip yang telah dibuat.

Berikut ini para sutradara yang menjadi tokoh dibalik keberhasilan produksi perfilman Makassar.

Riri Riza

Riri Riza. (Foto : Bisnis Jakarta)

Mohammad Rivai Riza atau yang lebih dikenal dengan nama Riri Riza, lahir di Makassar, 2 Oktober 1970. Ia muncul pertama kali sebagai sutradara melalui film Kuldesak pada tahun 1998. Lulusan Institut Kesenian Jakarta (IKJ) ini sering berkolaborasi dengan sahabatnya, Mira Lesmana dalam pembuatan film.

Beberapa film garapannya berhasil menuai sukses di tanah belantika perfilman Indonesia antara lain, Petualangan Sherina (2000), Gie (2005), Laskar Pelangi (2008), Sang Pemimpi (2009), Ada Apa Dengan Cinta 2 (2010), dan Athirah (2016).

Syahrir Arsyad Dini ‘Rere Art2tonic’

Rere Art2tonic. (Foto : Klik Wajo)

Syahrir Arsyad Dini yang akrab disapa Rere merupakan musisi band Makassar ‘Art2tonic’ yang telah merilis beberapa lagu yang cukup populer di telinga warga Makassar seperti ‘Makassar Bisa Tonji’ dan ‘Bacco-Becce’.

Beberapa film bertema lokalitas budaya di Sulawesi Selatan yang berhasil diproduksi berkat kepiawaiannya sebagai sutradara antara lain, Bombe’ (2014), Silariang : Menggapai Keabadian Cinta (2017) dan Maipa Dipati Datu Museng (2018).

Halim Gani Safia

Halim Gani Safia. (Foto : BookMyShow)

Halim Gani Safia adalah sutradara film Uang Panai’ = Maha(r)l. Film Indonesia yang dibuat di Kota Makassar, dirilis pada tanggal 25 Agustus 2016. Para pemainnya antara lain Ikram Noer, Nur Fadillah, serta Tumming dan Abu. Film ini merupakan debut film bagi duo aktor Sosmed terkenal asal Makassar, Tumming dan Abu.

Andreuw Parinussa

Andreuw Parinussa. (Foto : FB Andreuw Parinussa)

Andreuw Parinussa memulai debut filmnya dengan menggarap film pendek Adoption (2013), yang sukses menjuarai festival film internasional di Jepang.  Kemudian di awal tahun 2018 ini, Ia menggarap film Lolai Cinta diatas Awan di bawah naungan rumah produksi Timur Pictures.

Lolai Cinta diatas Awan merupakan film drama keluarga yang berkisah tentang seorang anak perempuan bernama Tara, seorang penulis remaja dengan karyanya yang sedang populer. Sayangnya, di tengah popularitasnya sebagai penulis, Tara harus kehilangan ayahnya.

Wisnu Adi

Wisnu Adi (tengah) bersama para pemain film Miracle. (Foto : WowKeren)

Wisnu Adi memulai debut sutradaranya di film Miracle (2008). Setelah itu Ia menggarap film Silariang : Cinta Yang [Tak] Direstui yang tayang bulan Januari 2018 ini. film Silariang garapan Wisnu Adi berbeda dengan film Silariang garapan Rere Art2tonic.

Film Silariang : Cinta Yang [Tak] Direstui garapan Wisnu Adi mengisahkan sebuah potret tentang cinta, adat dan hubungan orang tua, dengan latar belakang keindahan panorama Makassar dan Rammang Rammang sebuah lokasi wisata unggulan di Sulawesi Selatan.

Kelima pria-pria tersebut berhasil menyuguhkan tontonan film yang menarik dan berkualitas bagi masyarakat Indonesia khususnya warga kota Makassar melalui kreativitas dan totalitas mereka sebagai pemain dibalik layar.

Berita Terkait