Ini suku di dunia yang tidak pernah memakai busana

Ini suku di dunia yang tidak pernah memakai busana. (foto/hipwee.com)

Terkini.id, – Amerika Selatan selalu memiliki keunikan, tidak hanya melulu tentang pemandangan alamnya atau sungai Amazon saja, namun terdapat masyarakat yang hidup dengan kondisi yang jauh dari peradaban meskipun pada zaman modern.

Hutan Amazon adalah hutan tropis seluas 7 juta kilometer kilometer persegi dan membentang di sembilan naga di Benua Amerika Selatan masih menyimpan banyak misteri.

Salah satunya adalah tentang kehidupan, terutama suku- suku yang hidup di pedalaman hutannya dan sulit untuk di temukan. Mungkin anda pernah mendengar namanya, yakni suku Huorani.

Suku Huaorani adalah suku yang terisolasi pada pedalaman hutan Amazon dengan hidup tanpa busana, bergantung pada alam, dan makhluk paling ditakuti di hutan Amazon.

Suku Huaorani. (foto/idntodays.com)

Dilansir dari laman superadventure, suku Huaorani menempati kawasan di pedalaman hutan Amazon di sebelah timur Ekuador. Lebih spesifik, di sepanjang aliran Sungai Napo dan Sungai Curacay yang daerah ya dikenal dengan panggilan Quehueri’ono. Salah satu wilayah sulit dijangkau.

Apabila ditarik dari sejarah, Suku Huaorani sendiri telah menempati hutan Amazon sudah lebih dari seribu tahun. Suku ini pun tidak pernah keluar dari hutannya dan menolak untuk dikunjungi orang-orang asing.

Baca :Dihuni makhluk kerdil, 3 suku asli Indonesia ini masih jadi misteri

Mereka mengisolasi diri, hingga tidak memakai pakaian sama sekali. Hal unik lainnya adalah Suku Huaorani sangat tergantung pada alam. Orang- orang suku ini minum dari sungai Amazon, berburu di hutan dan memetik buah- buahan.

Karena telah seribu tahun tinggal di hutan ini, orang- orang suku ini telah mengetahui buah mana yang menyebabkan kematian atau sungai mana yang dipenuhi oleh predator atau buaya.

Suku Huaorani. (foto/youtube.com)

Suku Huaorani juga menjaga kepercayaan leluhur. Misalnya larangan berburu rusa karena dianggap matanya seperti mata manusia. Satu lagi, mereka dilarang membunuh ular sebab merupakan simbol pertanda buruk.

Ketika abad pertengahan, para pelayar berkebangsaan Eropa mendarat di dataran Amerika Selatan dan para tentara Bangsa Spanyol menjajah Ekuador, namun suku Huaorani berani untuk berperang.

Suku ini menolak untuk dipindahkan ke daerah kota dan menjaga hutannya agar tetap terjaga. Menurut cacatan sejarah, suku Huaorani tak pernah mengalami kekalahan perang, faktor utama hal ini adalah masyarakat suku ini sangat paham seluk beluk hutan Amazon. Ditambah, senjata andalannya adalah sumpit racun sepanjang 2 meter yang bernama Tapa.

Baca :Inilah 4 suku yang paling mistis dan misterius di Indonesia

Anak sumpitnya, diberi racun curare. Racun ini biasa diperoleh dari spesies tanaman Chondodendron tomentosum dan Strychnos toxifera, yang ternyata sudah menjadi senjata umum bagi suku-suku di Amazon lainnya.

Biasanya, mereka menggunakan racun tersebut untuk berburu hewan. Otot-otot hewan akan lemas seperti lumpuh jika terkena racun tersebut. Tapi kalau ‘target’ mereka adalah manusia, maka lain cerita. Jika terkena, maka orang yang terkena anak sumpitnya akan lumpuh dan lemas. Tak butuh waktu lama, detak jantungnya akan berhenti.

Suku Huaorani. (foto/portalsatu.com)

Para penebang luar di hutan Amazon pun merasakan seramnya suku Huaorani. Tidak jarang para penebang ini diserang saat sedang menebang pohon-pohon di hutan Amazon.

Tak heran, suku Huaorani sangat marah karena rumahnya sedang di rusak. Namun julukan suku paling berbahaya ini ditujukan kepada suku Huaorani.

Hingga tahun 1956, suku Huaorani melakukan kontak dengan dunia luar. Yang menjadi alasan utamanya adalah karena hutan Amazon yang semakin lama semakin dijarah melalui penebangan liar dan pembakaran hutan yang dapat mengancam hidup suku Huaorani.

Baca :Inilah suku primitif di Indonesia yang wanitanya mirip orang Eropa

Namun, menurut kabar yang beredar, terjadi konflik didalam suku Huaorani sendiri karena hal tersebut. Ada yang ingin melakukan kontak dengan dunia luar dan ada juga yang  tidak ingin. Mereka yang tidak mau, masuk ke dalam wilayah yang lebih terpencil di hutan.

Pemerintah Ekuador bersama organisasi atau lembaganya akhirnya langsung membuka mata dan mengambil langkah untuk menjaga keberlangsungan hidup suku Huaorani.