Instruksi Jaksa Agung: Jangan Lagi Ada Kasus Ambil Kayu Sebatang Kalian Pidanakan

Terkini.id, Jakarta – Jaksa Agung ST Burhanuddin kembali mengingatkan para jajarannya untuk menjaga integritas dalam bertugas. Dia pun menyinggung masalah sepele, seperti nenek curi sebatang kayu lalu dipidanakan.

Dia tidak ingin, perilaku dan keputusan jaksa justru merugikan penegakan hukum, bahkan masyarakat.

Dalam kunjungannya ke Benua Etam, Kalimantan Timur, 8 Agustus lalu, Burhanuddin menekankan kepada anak buahnya, untuk mengawal program pemerintah dalam refokusing anggaran penanganan Covid-19. Kejaksaan harus mendukung percepatan penanganan Covid-19.

Hal tersebut diungkapkan Burhanuddin saat menghadiri acara Ground Breaking pembangunan Kantor Kejaksaan Tinggi (Kejati) Kaltim di Samarinda, dalam siaran pers yang diterima, Senin 10 Agustus 2020

Mungkin Anda menyukai ini:

Burhanuddin juga menyinggung tentang surat edaran yang telah dibuat agar penuntutan didasarkan rasa keadilan. Sehingga, tak ada lagi tuntutan yang tak sebanding dengan perbuatan.

Baca Juga: Mahfud Ajak Masyarakat Kawal Kasus Kebakaran Kejagung: Silahkan Cari Datanya

“Saya tidak menghendaki kalian melakukan penuntutan asal-asalan, tanpa melihat rasa keadilan di masyarakat. 

Ingat, rasa keadilan itu tidak ada dalam KUHP. Tidak ada dalam KUHAP. Tapi ada dalam hati nurani kalian. Camkan itu. Saya sudah terbitkan surat edaran itu. Camkan dan patuhi itu. 

Saya tidak menginginkan, nanti ada rakyat pencari keadilan atau apapun yang dilukai kalian. Tidak ada lagi yang mengambil batang kayu sebatang, kalian pidanakan. Kalau kalian melakukan itu, kalian yang saya pidanakan,” tegasnya dikutuip dari merdekacom.

Baca Juga: Kebakaran 10 Jam di Kejaksaan Agung, Bagaimana Nasib Berkas Perkara...

Dalam kesempatan itu, Burhanuddin, juga mengingatkan tentang pendampingan terhadap kepala desa dalam mengelola dana desa. Kemudian pendampingan terhadap pengelolaan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).

“Guru-guru kita yang ada, dididik untuk menjadi guru, bagaimana menjadi guru yang baik. Tiba-tiba disuruh mengelola keuangan. Apa yang terjadi? 
Mereka juga bingung. Untuk itu, saya minta Kejati melakukan pendampingan kepada kepala sekolah yang mengelola dana BOS. Tolong itu,” terang Burhanuddin

Burhanuddin menekankan, anak buahnya tak melulu mengedepankan penindakan dalam menegakkan hukum. Tapi, diberikan pendampingan terlebih dahulu.

Apabila telah diberikan pendampingan, masih terjadi penyalahgunaan, jajaran Kejati/Kejari harus melihat motifnya.

“Ada niatan apa mereka. Tolong jangan asal menentukan mereka sebagai tersangka. Apabila mereka memang niatnya (korupsi) sudah begitu. Apa boleh buat (harus ditindak),” katanya.

Bagikan