Intip yuuk… Kompetisi seduh kopi original di Enrekang

Agil dan Irman melayani pengunjung di stad miliknya. Keduanya membagikan kopi ke pengunjung Festival Massenrempulu 2017 di Enrekang, Sulsel./ Herman Kambuna

Terkini.id, Enrekang – Barista, Agil Valentino (27) terlihat asyik menyeduh kopi dan membagi-bagikan gelas plastik saat didatangi sekelompok anak kecil berbaur dengan orang-orang dewasa.

Itu dilakukan Agil dan Firman untuk memperkenalkan kopi asli Kabupaten Enrekang, Sulsel. Kepada pengunjung yang hadir di kegiatan lomba menyeduh kopi, salah satu jenis lomba di acara Festival Massenrempulu 2017.

Kegiatan digelar selama dua hari sejak Jumat lalu, 15 Desember 2017 yang puncaknya malam ini, Sabtu 16 Desember di Lapangan Baraka, Kecamatan Baraka, Enrekang. Tidak sedikit pengunjung dari berbagai tingkat usia memadati lapangan Baraka ini.

Mereka datang dari berbagai pelosok Enrekang menikmati sajian-sajian kegiatan di malam festival Massenrempulu termasuk menyaksikan lomba seduh kopi dan menikmati kopi original gratis dari stand yang ada.

Agil Valentino mengatakan, festival ini juga digelar secara komplit dengan mengahdirkan petani kopi. Dikatakan, Agil, kehadiran petani maupun pengusaha kopi istilahnya dari hulu ke hilir. Petani ke pengusaha kopi sampai ke konsumen seperti kafe atau warkop.

“Jadi festival ini banyak lomba dan pameran. Tapi khusus lomba menyeduk kopi itu dirangkaian secara komplit di acara ini. Yaitu dihadiri oleh petani kopi, pengelolah kopi, kedai atau kafe dan warkop,” kata Agil yang juga ketua pantia lomba menyeduh kopi.

Ia menyebutkan, peserta yang ikut berkompetisi sebanyak 16 orang. Yaitu 2 dari Pinrang, 1 dari Makassar, 1 Palopo 1 dari Nabire Papua, 11 warga lokal Enrekang yang juga memiliki kafe atau warung kopi.

“Sebenarnya ini kita mau pamerkan kopi hasil tani petani di festival Masserenpulu. Selain itu kebudayaan yang ada di Enrekang. Paling tidak orang bisa mengetahui kalau di Enrekang itu juga penghasil kopi,” jelasnya.

Aneka jenis kopi asli Enrekang yang dipamerkan./ Herman Kambuna

Saat ini, kata Agil, kualitas kopi asli Enrekang yang berasal dari lima Kecamatan di Enrekang sudah terdaftar di Indikasi Geografis yang dikeluarkan Kementerian Hukum dan Ham (Kemenkumham) RI sebagai Hak Kekayaan Intelktual (HaKi).

“Nah tujuannya HaKi untuk melindungi kopi Enrekang. Agar tidak ada yang mengklaim. Makanyan dipantenkan. Seperti contoh bahwa kopi kalosi itu kopi asli Kabupaten Enrekang. Melalui dengan rasanya juga dapat dikenali,” ungkap Agil.

Di Festival Massenrempulu ini juga diharapkan banyak memikat minat kalangan pemuda Enrekang untuk menyeduh kopi asli asal kampung sendiri.

Sementara panitia lomba kopi ini menghadirkan, perwakilan dari Kementerian Tenaga Kerja yaitu Balai Besar Pengembangan Pasar Kerja dan Perluasan Pasar Kerja untuk menilai. Selain itu panitia menghadirkan juri lokal yang pernah menjuarai lomba kopi di Enrekang,

“Kami hadirkan untuk menilai cara menyeduh, rasa kopi, kebersihan, dan penguasaan materi kopinya itu sendiri. Semoga petani termotivasi untuk menghasilkan kopi berkulitas. Mengembangkan minat pemuda di Enrekang untuk menyeduh kopi,” harap Agil sembari menyeduh kopi.

Pengunjung mendapat kopi gratis di Festival Massenrempulu 2017./ Herman Kambuna

Sehari sebelumnya, kata Agil, panitia lomba menyeduh kopi juga menggelar diskusi atau bincang-bincang kopi.

Dikatakan Agil, menghadirkan Asosiasi Ekspotir Kopi Indonesia, Arben Litha Brent sebagai pembicara sekaligus memberi motivasi kepada petani.

“Agar pokok masalah kopi ini dapat mengerucut. Seperti masalah harga kopi maupun kualitasnya,” terang Agil yang juga memliki usaha kafe di Enrekang.

Selain itu, petani juga dibekali dengan pelatihan atau penyuluhan cara bertani kopi dari Dinas Pertanian Enrekang. Seperti cara membasmi serangga hama.

“Ada juga penyuluhan kopi dari Dinas Pertanian Enrekang. Kan selama ini harga kopi itu harus dibarengi dengan kualitas. Jangan sampai petani mengharapkan harga tinggi padahal tidak sesuai kualitas. Dinas pertanina melakukan penyuluhan dengan memberikan bantuan memberantas hama. Sampai saat ini petani terus belajar menciptakan kopi berkualitas,” pungkas dia.

Berita Terkait
Direkomendasikan
Komentar
Terkini