Isu China gulingkan Najib, Jokowi bisa bernasib sama?

Mahathir dan Jokowi
Mahathir dan Jokowi

Terkini.id – Kemenangan mengejutkan Mahathir Mohamad dan barisan koalisinya, sangat bisa dimanfaatkan oleh kalangan oposisi Indonesia untuk menumbangkan Jokowi.

Meskipun kemenangan Mahathir dikatakan banyak pakar disebabkan karena Najib yang korup, namun ada beberapa kesamaan isu yang bisa menjadi pemicu kekalahan Jokowi.

Isu sama

Yang pertama, adalah kenaikan harga pokok dan pajak yang tinggi membuat rakyat Malaysia berpaling dari Najib. Mahathir bilang, akan menyetop harga BBM yang “naik setiap detik.” Bukankah ini juga isu yang digoreng oleh kelompok ganti presiden di Indonesia ?

Kedua, adalah investasi China dan pekerja China yang bekerja di proyek-proyek mereka di Malaysia. Ternyata juga sama dengan di Indonesia.

Pembelaan Najib bahwa Malaysia memerlukan investasi asing untuk menggerakkan ekonomi, tidak dipercaya orang Malaysia, meski dikatakan investasi China telah menyumbang 7 persen pemasukan negara. Dia diketawakan. Tujuh persen saja bangga. Bukankah Jokowi dinyinyiri habis soal ini?

Kharisma Mahathir

Mereka lebih percaya kepada Mahathir yang dikenal sebagai peletak dasar Malaysia yang modern dan berwibawa di Asia Tenggara.

Dialah satu-satunya pemimpin negara yang mematok ringgit terhadap dollar Amerika ketika krisis moneter melanda Asia tahun 1998. Dan meski berdarah-darah, tidak ada asset Malaysia yang dijual kepada asing melalui tangan IMF atau Bank Dunia.

Nasionalisme inilah yang sampai sekarang melekat di kalangan warga Malaysia, yang dibawah kepemimpinan Najib mereka merasa hidupnya lebih sulit.

Dan mereka melihat investasi China yang mendatangkan pekerja asal China sebagai ancaman serius. Fenomena yang sama dengan Indonesia.

Mahathir dan anti-investasi China

Inilah yang dikapitalisasi Mahathir. Ketika kampanye, dia mengatakan akan bertindak keras terhadap investasi China karena menimbulkan keresahan di dalam negeri.

Investasi dari China akan diterima baik di Malaysia jika perusahaan itu berkantor di Malaysia, mempekerjakan orang lokal dan membawa modal serta teknologi ke Malaysia.

Dan sekarang ini, tanda-tanda itu tidak ada. Malaysia tidak mendapat manfaat apa-apa dari investasi itu. Dan kita tidak bisa terima itu.

Mahathir menambahkan investasi China menimbulkan keprihatinan mengenai kedaulatan dan ketidakadilan ekonomi.

Mahathir menunjuk investasi komplek perumahan mewah yang sebijinya berharga 258,000 dollar di mana China menginvestasikan modalnya 100 miliar dolar AS.

Politikus andal ini mengatakan, “Tidak banyak orang Malaysia yang bisa membeli apartemen super mewah ini. Jadi yang beli nanti orang asing. Tidak ada satu negarapun yang membiarkan orang asing dalam jumlah besar datang ke wilayahnya.”

Kata Mahathir lagi, banyak orang Malaysia yang tidak suka investasi China. “ Kami orang Malaysia. Kami ingin membela hak-hak kami sebagai orang Malaysia. Kami tidak ingin menjual negara kami meski sejengkal kepada investor asing yang membangun sebuah kota. Kami tidak ada masalah dengan inisiatif China , China’s Belt and Road initiative (BRI). Namun Malaysia punya hak untuk merundingkan ulang aneka proyek investasi yang sudah berjalan.”

Jokowi bisa tumbang?

Dan berbekal dari sentimen anti investasi China itu, Mahathir menang. Bagi Indonesia, nampaknya isu investasi China bakal dipertajam oleh kalangan oposisi untuk menumbangkan Jokowi.

Namun bedanya, kalangan oposisi Indonesia tidak mempunyai figur sekuat Mahathir untuk mengkapitalisasi isu anti investasi China.

Kekurangan itu sifatnya struktural. Dan jikapun muncul figur itu, kemunculannya dipaksakan menjelang akhir pendaftaran calon presiden. Walhasil, figur macam tahu yang digoreng dadakan berpeluang besar kalah karena Jokowi ketika itu sudah maju puluhan langkah.

Dan seperti kata banyak pakar, Jokowi bisa kalah jika lengah. Termasuk karena kendornya pendukung Jokowi yang merasa jagoannya tidak bisa dikalahkan. Dan perilaku ini melupakan tugas paling penting mereka yakni merangkul mereka yang sampai sekarang belum menentukan pilihan.

Berita Terkait
Komentar
Terkini