Isu Jual Beli Jabatan Rp 5 Miliar, Rektor UIN Makassar dan UIN Jakarta Membantah

Rektor UIN Alauddin Makassar Prof Musafir Pababbari dan Rektor UIN Jakarta Amany Lubis.(ist)
Rektor UIN Alauddin Makassar Prof Musafir Pababbari dan Rektor UIN Jakarta Amany Lubis.(ist)

Terkini.id, Makassar – Tertangkapnya Ketua Umum PPP Romahurmuziy dalam kasus jual beli jabatan membuat KPK diminta mengusut tuntas kasus-kasus sama yang diduga terjadi di sejumlah instansi di bawah Kementerian Agama.

Dalam tayangan Indonesia Lawyer Club (ILC), Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Mahfud MD, bahkan menyinggung dugaan jual beli jabatan rektor di kampus UIN Alauddin Makassar dan UIN Jakarta.

Atas dugaan yang disampaikan Mahfud tersebut, Rektor UIN Alauddin Makassar dan Rektor UIN Jakarta sama-sama membantah.

Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, Amany Lubis misalnya menyampaikan, Rektor UIN Jakarta periode 2019-2023 dipilih secara objektif oleh Menteri Agama (Lukman Hakim Saifuddin) dan Komite Seleksi dengan mempertimbangkan kapasitas dan integritas.

“Rektor UIN Jakarta terpilih sesuai dengan prosedur, legal, dan konstitusional. Dalam pemilihan calon rektor (pilrek) tidak dikenal istilah ‘menang-kalah’, tapi dipilih Menteri Agama berdasarkan Peraturan Menteri Agama Nomor 68 Tahun 2015,” kata Amany seperti dikutip dari laman resmi www.uinjkt.ac.id.

Amany juga menuturkan tidak ada politik uang (money politics) dalam pilrek UIN Jakarta.

Dia meminta pihak luar tidak ikut campur untuk memperkeruh suasana, dan membangun opini negatif terhadap institusi UIN Jakarta.

Sementara itu, Rektor UIN Alauddin Makassar, Prof Musafir Pababbari mengungkapkan, pernyataan Mahfud MD terkait dugaan jual beli jabatan itu ngawur.

“Pernyataan pak Mahfud MD yang mengatakan harga kursi UIN seharga Rp 5 Milyar, itu pernyataan ngawur,” katanya seperti dilansir dari portal kampus UIN, washilah.com.

Musafir yang terpilih sebagai rektor pada 2015 silam, mengklaim tidak pernah dimintai uang Rp 5 miliar seperti yang diungkap Mahfud MD dalam tayangan ILC.

Seperti diketahui, Mahfud Md sebelumnya menyinggung Andi M. Faisal Bakti yang pernah terpilih dua kali sebagai rektor tapi tidak pernah dilantik.

Faisal Bakti pernah terpilih sebagai rektor UIN Alauddin Makassar pada 2014 lalu tapi tidak dilantik, dan tahun lalu terpilih rektor UIN Jakarta tapi tidak dilantik lagi.

Khusus UIN Alauddin, Andi tak dilantik sebagai rektor UIN Alauddin Makassar padahal menang pemilihan rektor tahun 2014 silam oleh Menag Lukman Hakim.

Kemenag, kata Mahfud membuat aturan yang mensyaratkan rektor UIN setempat wajib tinggal minimal selama enam bulan sebelum menempati jabatan tersebut.

Saat itu, Andi sempat menggugat ke pengadilan dan menang. Putusan pengadilan memerintahkan Lukman melantiknya sebagai rektor. Hasilnya inkrah. Akan tetapi, Lukman tetap tidak melantik Andi Faisal Bakti.

Pada tahun itu, Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin malah memerintahkan Prof Ahmad Thib Raya untuk melakukan pemilihan rektor ulang. Pada 2015 kemudian, UIN menggelar pemilihan rektor dan kemudian terpilihlah Prof Musafir Pababbari.

Berdasarkan informasi yang diterima Mahfud, Andi pernah didatangi seseorang dan dimintai uang sebesar Rp5 miliar bila ingin menduduki jabatan rektor.

Berita Terkait
Komentar
Terkini
Politik

Hasil Konferda, KSB PDIP Sulsel Dipertahankan

Terkini.id -- Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Provinsi Sulawesi Selatan baru saja menyelesaikan Konferensi Daerah (Konferda) di Hotel Claro Makassar,