Isu riba hingga fintech jadi ancaman besar perbankan di 2018

Ilustrasi karyawan bank

Terkini.id, Makassar – Bisnis perbankan di Indonesia khususnya di Sulawesi Selatan, sepertinya mendapat ancaman besar pada 2018 ini.

Tampaknya bukan hanya karena fintech (financial technology) yang menggerus sebagian pasarnya. Ada lagi satu yang menjadi ancaman besar: isu riba.

Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Selatan, pada 2017 lalu, merilis terjadinya perlambatan pertumbuhan perbankan Sulsel yang cukup tinggi.

Pada 2016, keuntungan perbankan yang dilihat dari value added yang tercipta, mencapai 16,02 persen. Lalu pada 2017, cuma 0,12 persen. Itu membuat pertumbuhan ekonomi Sulsel sedikit melambat dari 7,42 persen pada 2016, menjadi 7,23 persen pada 2017.

Menurunya pendapatan perbankan, diakui Direktur BI Sulsel, Amanlison Sembiring. “Perbankan cenderung merestrukturisasi kredit, karena NPL (non-performing loan) yang tinggi. Kondisi perekonomian melemah, dan pertumbuhan kredit melemah juga,” jelas dia.

Baca juga:

Lambatnya pertumbuhan perbankan juga seiring dengan gencarnya perkembangan fintech atau financial technology. Platform yang memberikan beberapa layanan seperti perbankan (pinjaman, tabungan, transaksi dst) lewat ponsel ini, mulai banyak dimanfaatkan masyarakat.

Selain itu, gencarnya gerakan untuk meninggalkan perbankan karena riba, juga cukup kencang.

Bank BRI, misalnya, yang harus mengeluarkan edaran ke kantor cabang untuk memperhatikan pengajian-pengajian di masjid kantor, dan memilih ustaz yang mengajarkan agama dengan berbagai sudut pandang.

Hal itu dilakukan, lantaran maraknya karyawan yang mengajukan pengunduran diri atas pemikiran dan keyakinan bahwa bank itu riba, sehingga haram.

Benarkah riba?

Meskipun didera isu riba’, salah satu tokoh Islam seperti Mahfud Md, menyebut, isu bank itu riba sebenarnya sudah basi. Sebab di negara lain, seperti Arab Saudi, hingga ormas Islam terbesar di Indonesia seperti NU dan Muhammadiyah tetap memanfaatkan bank konvensional untuk bertransaksi.

“Tidak ada logika lagi untuk bilang bank konvensional itu haram. Di Mesjidil Haram dan Nabawi saja pakai transaksi bank konvensional kok. Rekening-rekening institusi NU dan Muhammadiyah juga banyakan bank konvensional. Juga tokoh-tokoh NU dan Muhammadiyah. Sdh basi, kok dibahas terus sih,” komentar Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi itu.

Komentar

Rekomendasi

BPJamsostek Salurkan Sembako untuk Tenaga Kerja Terdampak COVID-19

Langkah OJK Menghindari Kebangkrutan dan PHK Massal

Bank Indonesia Sulsel Siapkan Uang Tunai Rp4,32 Triliun untuk Idul Fitri 2020

Iuran BPJS Batal Naik Per April, Ini Solusi untuk Warga yang Sudah Terlanjur Bayar

Bank Muamalat Padukan Benefit Finansial dan Donasi Sosial di Masa Pandemik

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar