Izinkan Anak 12 Tahun Nikah, Ini Tanggapan Pengadilan Agama Maros

Pernikahan anak
Ilustrasi. (foto: skmamanat.com)

Terkini.id, Maros – Tepat 23 Juli kemarin, masyarakat memperingati Hari Anak Nasional di seluruh penjuru Indonesia.

Menyentuh beberapa permasalahan tentang anak, salah satunya adalah kasus pernikahan pada anak usia dini. Persoalan tersebut ternyata masih terang terjadi di Indonesia, khususnya di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.

Abullah Modding sebagai Wakil Panitera Pengadilan Agama Maros membeberkan, tercatat ada sekitar 22 kasus pernikahan anak usia dini yang diajukan dispensasinya di Pengadilan Agama (PA) setempat pada tahun 2018 saat ini. Bahkan yang mengajukan ada yang masih berusia 12 tahun dan masih duduk di kelas 5 SD.

“Tahun ini, tercatat sudah ada 22 pasangan yang mengajukan dispensasi nikah ke pihak kami. Diantaranya ada perempuan yang masih 12 tahun. Dispensasi pernikahan ini diajukan karena mereka tidak mendapatkan izin nikah di KUA,” ucap Abdullah Modding, Selasa, 24 Juli 2017, dikutip dari detik.com.

Abdullah Modding melanjutkan, angka yang tertinggi ada pada bulan April dan bulan Juni 2018. Kata dia, ada yang dikabulkan dan ada juga yang ditolak oleh hakim. Akan tetapi kebanyakan dari permohonan tersebut hanya dikabulkan oleh hakim.

Untuk bulan Juli 2018, Pengadilan Agama baru menerima dua pengajuan untuk diberikan dispensasi, Yang terbaru adalah pasangan perempuan yang berumur 14 tahun dan laki-laki berumur 29 tahun.

“Angka tertinggi itu ada di bulan April dan bulan lalu. Ada yang dikabulkan ada juga yang ditolak. Tapi kebanyak itu dikabulkan oleh hakim. Untuk bulan ini kita baru terima dua pengajuan dispensasi. Terbaru umur perempuannya 14, laki-lakinya 29 tahun,” lanjut Abdullah.

Abdullah merasa kasus seperti ini masih banyak terjadi dan masih tidak terdata oleh PA. Dirinya menjelaskan, catatan kasus pernikahan dini yang masuk di PA Maros adalah di luar dari pernikahan dini yang dilaksanakan, namun tidak mengajukan dispensasi.

Seperti kasus pernikahan dini, keduanya tetap menikah tanpa ada izin dari pihak berwenang seperti yang terjadi di Desa Majannang, Kecamatan Maros Baru, Kabupaten Maros, pada Mei 2018 lalu

“Alasan yang mendasari juga cukup beragam, mulai dari saling cinta sampai sudah ada pasangan yang telah hamil duluan, sehingga hakim mau tidak mau mengabulkan permohonan mereka,” tambahnya.

Dari kacamata Psikolog yang juga Rektor Unhas, Dwia Aries Tina Pulubuhu, mengakui keberadaan berbagai macam faktor mulai hadir, yang paling utama adalah aspek kultur atau budaya.

“Sebenarnya banyak faktor. Mulai pendidikan, kemiskinan, pergaulan, sampai pemahaman. Tapi khusus di Sulsel ini, ada hubungannya dengan aspek kultur,” ungkapnya.

Lanjut Dwia, budaya malu atau Siri’ yang dikenal oleh masyarakat Sulsel juga terkadang menjadi pengaruh utama pernikahan pada anak.

“Yang menjaga siri’ itu keluarga besar, bisa jadi anak dipaksa menikah dini agar terhindar dari pergaulan bebas. Bisa jadi bukan keluarga inti yang memaksa, tapi keluarga besarnya yang menjaga martabat itu,” tambahnya.

Berita Terkait
Komentar
Terkini