Jadi Boleh nih? Ulama Besar Yaman Soal Ucapan Natal Bagi Muslim: Jika Provokasi Orang Tak Ucapkan, Itu Lewati Batas!

Terkini.id, Jakarta – Memasuki bulan Desember, itu artinya hanya tinggal menghitung hari umat Kristiani merayakan hari Natal.

Seperti diketahui, banyak beredar informasi bahwasanya seorang Muslim tak boleh memberikan ucapan tersebut.

Namun, ternyata hal berbeda diungkap oleh salah satu ulama besar Yaman, yakni Habib Ali Al-Jufri alam Al-Insaniyyah Qabl al-Tadayyun.

Baca Juga: Singgung Khilafah, Habib Ali Al Jufri: Tidak Wajib dalam Islam

Menurutnya, tanggal 25 Desember tidak lain merupakan hari kelahiran Nabi Isa AS sehingga ucapan selamat pada hari itu sebenarnya bisa diakomodasi sebagai rasa gembira atas lahirnya Nabi Isa as.

Habib Ali Al-Jufri menyayangkan bahwa di negara-negara yang agama masyarakatnya majemuk, penjelasan tentang hal itu seolah menjadi tindakan menakut-nakuti orang dari agama Islam.

Ia lantas menyampaikan mengenai hukum mengucapkan ‘selamat’ pada ahli kitab (Nasrani dan Yahudi), terlepas dari konteks apa pun, hal tersebut adalah hasil ijtihad yang tidak berdasar pada nash sharih, baik dari Alquran ataupun hadis, apakah hal itu boleh atau dilarang. Hal tersebut murni masalah ijtihadi, maka terdapat perbedaan dan perincian.

Katanya, memang ada ulama yang memperbolehkan mengucapkan selamat dalam urusan duniawi saja (seperti selamat atas suatu pencapaian dan prestasi).

Sementara itu, hari raya bukanlah urusan duniawi, melainkan urusan agama. Maka, mengucapkan selamat hari raya tidak diperbolehkan.

Lalu di sisi lain, Imam Ahmad dalam salah satu pendapatnya yang diriwayatkan Al-Mardawi dalam Kitab Al-Inshaf mengatakan boleh mengucapkan selamat kepada ahli kitab tanpa membatasinya dengan urusan duniawi saja.

“Ulama yang berpendapat tidak boleh mendasari pendapatnya bahwa ucapan selamat kepada mereka sama dengan menganggap benar agama mereka,” ujar Habib Ali, dikutip terkini.id melalui video ceramahnya yang diunggah oleh akun TikTok @panritaid via Jatimtimes pada Minggu, 5 Desember 2021.

“Alasan ini masuk akal pada peradaban masa itu (zaman dahulu) yang berpandangan bahwa ucapan selamat erat kaitannya dengan hal yang dirayakan, tapi hal ini sudah tidak ditemukan lagi di masa sekarang.”

Lebih lanjut, Habib Ali mengatakan bahwa peradaban modern, memandang ucapan selamat bukan sebagai pengakuan atas hal yang dirayakan, melainkan murni sebagai wujud menjaga hubungan baik.

Seorang Muslim yang mengucapkan selamat Natal sama sekali tidak meyakini bahwa agama Nasrani benar, yang ada dalam hatinya tidak lain hanya karena ingin berbuat baik dan menjaga keharmonisan antarsesama.

Oleh sebab itu, katanya akan terlihat rancu jika fatwa ulama yang tinggal di daerah yang hanya mengenal Islam diterapkan di negeri yang masyarakatnya majemuk seperti Indonesia.

Namun bagaimanapun, hal ini merupakan masalah khilafiyah, maka siapa pun dipersilakan mengikuti pendapat yang masing-masing diyakini.

“Bagi orang yang tidak ingin mengucapkan selamat tetangganya yang non-Muslim, ia punya hak atas sikapnya tersebut,” tegasnya.

“Tapi jika ia memprovokasi orang lain untuk tidak mengucapkan selamat atau bahkan ‘menyerang’ para ulama besar yang memperbolehkannya, seperti Syaikh Al-Azhar, mufti Mesir baik yang dulu atau sekarang, Imam Abdullah bin Bayyah, dan ulama-ulama lain, hal ini telah melewati batas dan tidak dapat diterima,” pungkas Habib Ali.

Bagikan