Jadi Korban Aksi Penyerangan, Wiranto Dapat Kompensasi Puluhan Juta Rupiah

Terkini.id, Jakarta – Mantan Menko Polhukam Wiranto mendapat kompensasi sebesar Rp 37 juta akibat menjadi korban dari tindakan penyerangan dan aksi terorisme yang dilakukan terdakwa Abu Rara.

Kompensasi yang diberikan kepada Wiranto tersebut telah diatur dalam Pasal 7 UU Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).

Selain Wiranto, korban lainnya dalam aksi terorisme tersebut yakni Pemimpin Pesantren Mathla’ul Anwar, Fuad Syauqi, juga mendapat kompensasi sebesar Rp 28,2 juta.

Baca Juga: Bikin Melongo! Segini Harta Kekayaan Wiranto, Ketua Dewan Pertimbangan Presiden

Besaran kompensasi untuk Wiranto dan Fuad ditetapkan majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Barat (PN Jakbar) dalam putusan terhadap Abu Rara.

“Membebankan kepada negara melalui Menteri Keuangan untuk memberikan hak kompensasi bagi para korban yang perhitungan dan pengajuannya disampaikan melalui LPSK,” ujar Ketua Majelis Hakim Masrizal, Kamis, 25 Juni 2020 seperti dikutip dari Kumparancom.

Baca Juga: Penting! Wiranto Ingatkan Hal Ini Jelang Peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia

“Perhitungan kompensasi untuk korban atas nama Wiranto sebesar Rp 37 juta. Perhitungan kompensasi untuk korban atas nama Fuad Syauqi sebesar Rp 28,2 juta,” sambungnya.

Diketahui, dalam insiden penyerangan itu Wiranto ditusuk terdakwa Abu Rara dengan kunai sebanyak 2 kali pada bagian perut saat ia berkunjung ke Pandeglang, Banten, pada 10 Oktober 2019, silam.

Sementara Fuad, mengalami luka ringan di dada bagian kiri dan kanan akibat aksi penyerangan Abu Rara tersebut.

Baca Juga: Penting! Wiranto Ingatkan Hal Ini Jelang Peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia

Sebelumnya, PN Jakbar telah menjatuhkan vonis 12 tahun penjara terhadap terdakwa Abu Rara.

Pria bernama lengkap Syahrial Alamsyah ini dinyatakan terbukti bersalah melakukan tindak pidana terorisme terhadap Wiranto.

“Terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak terorisme dengan mengajak anak dan tindak terorisme sebagaimana dalam dakwaan satu dan dakwaan dua,” kata Ketua Majelis Hakim Masrizal, Kamis, 25 Juni 2020 seperti dikutip dari Tirtoid.

Majelis Hakim menyatakan bahwa terdakwa Abu Rara telah terbukti melanggar pasal 15 junto Pasal 6 junto pasal 16 Undang-Undang nomor 5 tahun 2018 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.

“Penetapan pidana terhadap terdakwa dikurangi seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan,” ujar Masrizal.

Adapun vonis majelis hakim tersebut diketahui lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) yakni 16 tahun penjara.

Terdakwa Abu Rara usai mendengar putusan majelis hakim, diberi kesempatan untuk mengajukan banding apabila merasa keberatan dengan putusan majelis hakim.

Namun, Abu Rara mengatakan menerima keputusan vonis dari majelis hakim tersebut terhadap dirinya.

“Bismillah saya terima putusan hakim tanpa cela,” ujar Abu Rara.

Sementara itu, salah seorang terdakwa lainnya yakni Istri Abu Rara, Fitri Diana, divonis selama sembilan tahun penjara.

Fitri Diana dinyatakan terbukti melakukan kegiatan tindak pidana terorisme dengan suaminya di Menes, Pandegelang, Banten pada Oktober 2019.

Bagikan