Jadilah bagian dari Kolomnis makassarterkini
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis makassarterkini.

Jalan Tol Dalam Kota Makassar Bukan Solusi Berkelanjutan

tol layang makassar
Bangun Tol Layang, pohon di Jalan Pettarani ditebang

Boleh sepaham, boleh tidak. Jalan tol dalam kota bukanlah solusi jangka panjang berkelanjutan mengatasi kemacetan. Menambah ruas jalan sangat kontraproduktif dengan pembangunan berkelanjutan yang ramah lingkungan. Ia menjadi dis-insentif terhadap tercapainya target Sustainable Development Goals (SDGs).

Di saat yang bersamaan, ia  memberi insentif meningkatnya konsumsi energi fossil yang berakibat semakin tercemarnya udara perkotaan.

Jalan tol dalam kota dengan infrastruktur fisik yang kokoh membutuhkan bahan bangunan dengan volume besar; semen, pasir, kerikil atau gravel, besi dan baja. Bahan tersebut berasal dari sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui (unrenewable resources).

Di samping itu, pembangunan tol memberi kesan kuat pemihakan pembangunan bagi golongan ekonomi kelas menengah atas. Sebagaimana umumnya jalan tol, ia hanya diakses oleh kendaraan roda empat. Kendaraan roda dua (sepeda dan motor) tidak diberi akses untuk melintas.

Mengapa pemerintah begitu yakin kalau jalan tol dalam kota dapat mengurai kemacetan? Saya kira argumen sederhananya adalah jalanan terlalu sempit untuk mengakomodir jumlah kendaraan yang beredar setiap harinya.

Baca :Demonstrasi ganti rugi jalan tol Makassar terus berlanjut 

Tapi sampai selebar dan sebanyak apa ruas jalan dalam kota yang mampu memuat jumlah kendaraan yang terus bertambah? Bukankah ruang kota semakin sempit dan terbatas sementara peningkatan jumlah kendaraan pribadi semakin sulit dibendung?

Dengan demikian, jalan tol dalam kota bukanlah solusi berkelanjutan mengatasi kemacetan. Pengalaman kota-kota besar di Eropa dalam mengatasi kemacetan bersumber pada asumsi bahwa mengurangi jumlah kendaraan pribadi yang beredar di jalan raya adalah sebuah keharusan dalam mengatasi kemacetan.

Kota seperti Stockholm, Zurich, Praha mengurai kemacetan kotanya melalui transportasi publik yang nyaman, aman, cepat dengan harga terjangkau. Kota-kota ini juga mengembangkan transportasi publik yang ramah lingkungan.

Mereka berkomitmen bahwa seluruh transportasi publik akan menggunakan energi bio-fuel atau listrik yang diproduksi dari sampah kota yang didaur ulang.

Saya kira MRT (Mass Rapid Transit) atau LRT (Light Rail Transit) dapat menjadi solusi jangka panjang mengatasi kemacetan di samping angkutan bus dalam kota yang ramah lingkungan. Tentu tidak ada cara mudah dalam mengurai kemacetan.

Baca :Pembangunan tol dalam kota, Wali Kota Danny minta swasta segera beri masukan

Tetapi melalui upaya jangka panjang yang integratif, konsisten dengan blueprint yang futuristik, kita dapat optimis menghuni kota masa depan yang lebih nyaman dan bersahabat.

Again..jalan tol dalam kota akan menjadi “monumen ironis” kemajuan kota yang semakin tidak bersahabat terhadap warganya. Jalan tol dalam kota sudah pasti tidak dapat dilalui pengendara sepeda dan pejalan kaki.

Keduanya semakin terpinggirkan dan termarginalkan. Tak seperti kota-kota dunia lainnya, pejalan kaki dan pengendara sepeda mendapat tempat yang layak, nyaman dan aman bagi keduanya.

Makassar kota dunia sebentar lagi memiliki jalan tol dalam kota bertingkat tiga, tetapi tidak memiliki trotoar (sidewalks) yang manusiawi bagi pejalan kaki yang setia manapakinya.

Penulis adalah Dosen Sosiologi Unhas

 

Tulisan ini adalah kiriman dari kolumnis makasar terkini, isi dari tulisan ini adalah tanggungjawab penulis yang tertera, tidak menjadi bagian dan tanggungjawab redaksi makassar.terkini.id
Editor : Muhammad Yunus