Jam ‘Kiamat’ Gak Gerak, Bumi Semakin Dekat di Titik Kehancuran?

Terkini.id, Jakarta- Jam “Kiamat” atau Doomsday Clock adalah jam yang dibuat oleh Bulletin of the Atomic Scientists (BAS) tahun 1947. Lembaga BAS tersebut didirikan oleh Albert Einstein dan mahasiswa dari Chicago University.

Melansir dari CNBC Indonesia, pada Selasa, 30 November 2021, jam ‘kiamat’ atau Doomsday Clock tersebut tahun ini semakin dekat ke tengah malam. Bulletin of the Atomic Scientists (BAS) membuat jam itu hanya 100 detik dari tengah malam.

Ketika pertama kali dibuat, jam tersebut diatur tujuh menit sebelum tengah malam. Jarak paling lama adalah 17 menit yang terjadi pada tahun 1991.

Baca Juga: Ajak Masyarakat Matikan Lampu, Anies Baswedan Dipuji Netizen: Siap Pak...

Saat itu, Presiden Amerika Serikat (AS), George Bush dan Presiden Uni Soviet, Mikhail Gorbachev mengumumkan pengurangan persenjataan nuklir di masing-masing negara

Doomsday Clock sendiri tidak berkaitan dengan akhir zaman. Namun, merupakan sebuah pengingat terhadap aksi manusia yang merusak bumi serta menghancurkan planet ini, dikutip dari CNBC Indonesia.

Baca Juga: Larang Ucap Bumi Pertiwi, Pendakwah Riza Basalamah: Artinya Itu Ada...

Dilansir dari laporan ABC News, kelompok yang terdiri atas pemimpin dunia dan peraih Nobel mengatakan keputusan itu, sebab pemimpin dunia merespons Covid-19 dengan lamban.

“Pandemi mengungkapkan betapa tidak siap dan tidak maunya negara-negara serta sistem internasional menangani keadaan darurat global dengan benar,” ungkap para ilmuwan.

Selain itu, dalam masa krisis, para pemerintah terlalu sering melepaskan tanggung jawab, mengabaikan nasihat ilmuwan, tidak bekerja sama atau berkomunikasi secara efektif.

Baca Juga: Larang Ucap Bumi Pertiwi, Pendakwah Riza Basalamah: Artinya Itu Ada...

Akibatnya, mereka gagal untuk melindungi kesehatan serta kesejahteraan warganya”, tutur para ilmuwan.

Sejumlah bencana merupakan hal yang menjadi sorotan para peneliti untuk jam ‘kiamat’ tersebut. Diantaranya, bahaya nuklir dan perubahan iklim.

Selain itu, terdapat juga hal-hal baru yang diinput, seperti disinformasi yang terjadi di dunia maya serta teori konspirasi yang dapat memicu perang nuklir.

Bagikan