Jarang Diketahui Orang, Inilah Asal Mula Tradisi Mudik Lebaran Ada di Indonesia

mudik
Antrian mudik menjelang hari Raya Idul Fitri. (foto/asenavi.com)

Terkini.id – Kebiasaan mudik di Hari Lebaran merupakan kebiasaan turun temurun masyarakat Indonesia. Saat momen mudik terjadi, masyarakat pun berbondong-bondong bahkan tak jarang harus berdesak-desakan akibat kemacetan selama perjalanan pulang, demi bertemu dengan kampung halaman dan keluarga masing-masing.

Menariknya lagi, mudik tidak dilakukan dalam skala kecil melainkan hampir seluruh orang dalam satu negara melakukan kegiatan ini. Lalu apa sebenarnya mudik itu? Bagaimana hal ini menjadi sebuah tradisi di Indonesia? Dilansir dari brilio, simak penjelasanya berikut ini.

1. Momen Mudik identik dengan pertumbuhan Ekonomi

mudik
Antrian mudik. (foto/rfa.org)

Pesatnya kemajuan ekonomi dan industri pada tahun 1970-an mengakibatkan banyaknya pendatang yang mencari peruntungan di kota-kota besar.  Mereka hanya memeroleh libur panjang saat Lebaran tiba.

Hal inilah yang mengakibatkan tradisi mudik menjelang Lebaran semakin mengakar dan tentunya libur panjang tersebut tidak disia-siakan untuk pulang kampung bertemu keluarga.

2. Mudik dalam berbagai bahasa adalah pulang

mudik
Kemacetan mudik. (foto/wartapilihan.com)

Dalam bahasa Jawa mudik adalah ‘mulih dilik’ yang diartikan pulang sebentar. Hal ini mencerminkan pola mudik yang memang para perantau pulang ke kampung halaman dalam beberapa hari saja umumnya antara satu minggu sebelum dan sesudah lebaran.

Setelah Lebaran mereka akan kembali ke kota rantau yang dinamakan dengan arus balik. Bahasa Betawi memiliki kata mudik berlawanan dengan kata ‘milir’. Milir adalah turunan dari belilir memiliki arti pergi (utara) sedangkan mudik adalah pulang (selatan).

Hal ini selaras dengan orang dahulu yang banyak berpindah ke utara khususnya Batavia dan Sunda Kelapa untuk bekerja dan menetap hingga kembali pulang ke kampung halaman saat Hari Raya Idul Fitri tiba. Maka, istilah mudik dalam Betawi dapat diartikan sebagai menuju selatan atau pulang kampung.

Selain itu, Bahasa Arab juga menjelaskan makna dari mudik seperti kata mudik yang berasal dari akar kata “adhoo-a” yang memiliki arti memberikan cahaya atau menerangi dan menghilangkan.

Akar dari kata mudik juga yaitu “adzaa-qo” yang berarti merasakan atau mencicipi. Jika digabungkan, kata terebut merepresentasikan orang yang kembali pulang untuk memberikan cahaya ke kampung halaman dengan bertemu keluarga maupun kawan lama untuk melepas rindu dan merasakan kembali suasana kampung beserta memori didalamnya.

3. Mudik merupakan bagian inkulturasi Islam terhadap budaya sebelumnya

mudik
Mudik bagian inkulturasi Islam. (foto/Tigapilarnews.com)

Pada masa sebelum Islam masuk di Indonesia telah berkembang berbagai ritual untuk mengingat Sang Pencipta, seperti ritual menyatukan diri, membersihkan makam, dan ritual untuk keselamatan desa dan sebagainya.

Ketika Islam telah memasuki Bangsa Indonesia, ritual ini tidak serta merta dihilangkan, namun mengalami penyesuaian yang menajdi cikal bakal dari tradisi nyekar saat pulang kampung dan mengirim makanan bagi sanak saudata yang umumnya dilakukan sebelum Hari Raya Idul Fitri tiba.

4. Mudik sebagai ruang aktualisasi diri

mudik
Momen Lebaran. (foto/netralnews.com)

Tradisi mudik juga tak lepas dari motivasi kultural yang dibuatnya. Ketika perantau yang bekerja di kota-kota pulang, mereka akan membagi-bagikan sejumlah uang untuk sanak saudara.

Hal ini dapat dibaca sebagai upaya aktualisasi diri tentang kesuksesan mereka di tanah rantau. Dari tahun ke tahun, membagi-bagikan uang telah menjadi salah satu tradisi yang semakin menyemarakan Lebaran di Indonesia.

Berita Terkait
Komentar
Terkini