Makassar Terkini
Masuk

OPINI | Jilbab Syar’I: Antara Fashion dan Komodifikasi

Fenomena berhijab muncul sejak tahun 2010-an diperkenalkan oleh beragam komunitas-komunitas baru yang menamakan diri mereka dengan komunitas hijabers. Komunitas inilah yang kemudian melahirkan gaya berhijab dengan style yang khas. Dimana komunitas ini memadukan hijab dengan segala hal yang saat ini dianggap booming di media, hal ini dilakukan agar muslimah tetap bisa modis tapi di satu sisi juga tetap syar’i.

Kendati demikian, tak dapat dipungkiri bahwa munculnya fenomena hijab syar’i di kalangan seleb saat ini memberikan pengertian baru tentang hijab. Dimana Hijab dalam Islam adalah repesentasi dari cahaya iman yang telah “diberi pakaian” taqwa. Hijab juga merupakan representasi dari akhlak yang mulia dan keikhlasan. Namun, dalam perkembangan saat ini, hampir di setiap lini kehidupan masyarakat makna hijab mulai mengalami pergeseran, hal itu disebabkan karena unsur-unsur peradaban yang semakin kompleks dan sistem kemasyarakatanpun mengarah kepada globalisasi.

Berdasrkan realita di atas, mahasiswa Magister Seni Rupa ITB Bandung, Ellya Zulaikha dalam studinya menemukan bahwa gaya desain jilbab saat ini (yang telah menjadi bagian dari dunia fashion, khususnya di Indonesia) sebagian besarnya merupakan fenomena perbaduan unsur-unsur yang lebih didasari oleh upaya pencitraan varian baru dalam jilbab, yang mana varian baru dalam berjilbab tersebut memiliki kecenderungan mengikuti gaya busana umum yang berlaku, dalam hal ini gaya tersebut dipengaruhi oleh dialektika antara budaya global khususnya gaya barat dan budaya tradisional/tradisi lokal. Nasaruddin Umar pun turut berpendapat dalam artikelnya “Fenomenologi Jibab” bahwa kadar poteksi dan ideologi di balik fenomena jilbab di Indonesia saat ini tidak terlalu menonjol. Lebih lanjut, umar berpendapat bahwa fenomena yang menonjol di Indonesia saat ini adalah jilbab sebagai tren, mode, dan privasi akibat akumulasi pembengkakan kualitas pendidikan agama dan dakhawah di masyarakat.

Bagiamanakah kontruksi komodifikasi dalam kerangka ekspresi keagamaan?

Sebagimana halnya yang dilakukan oleh komunitas hijabers, yaitu memadukan semangat untuk tetap berpenampilan syar’i dengan tidak meninggalkan tren modernitas dan lifestyle. Komunitas hijabers dalam memadukan kedua hal tersebut, dengan perkembangan zaman yang pada saat ini menunjukkan betapa globalisasi beserta dinamika tidak serta merta ditolak, akan tetapi secara kreatif komunitas hijabers ini memanfaatkan untuk menawarkan identitas dan “cara beragama”. Melihat keadaan masyarakat yang saat ini semakin kompleks, upaya yang dilakukan oleh komunitas hijabers di atas mampu menyodorkan identitas ber Islam yang trendi namun tetap syar’i.

Nadiya Utlina Latifatunnuri dalam Skripsinya Hijab Syar’i: Antara Trend Dan Ideologi (Analisis semiotika Roland Barthes), berpendapat bahwa hijab syar‟i saat ini tidak hanya menjadi simbol keagamaan namun juga sebagai budaya dan gaya hidup. Perempuan muslim saat ini justru mencoba mengaplikasikan antara agama dan gaya hidup ke dalam kehidupan mereka. Fenomena hijab yang disandingkan dengan fashion kemudian membuatnya ikut memiliki sifat postmodern dan mampu menembus dunia masyarakat konsumen. Keberagaman, kebaruan, dan perbedaan yang muncul dari hijab fashion telah menciptakan definisi kecantikan yang baru yakni yang Islami. Selama perbedaan dan perubahan selalu dimunculkan oleh fashion hijab, maka proses komodifikasi akan terus berlangsung karena perbedaan dan perubahanlah yang menjadi daya tarik utama perdagangan.

Hijab menjadi “komoditi atau fashion?”

Fashion merupakan salah satu hasil dari tuntutan gaya hidup yang diciptakan oleh manusia kemudian dikontruksikan sebagai salah satu bentuk pemenuhan bagi orang-orang yang hidup di budaya modern seperti sekarang ini. Tidak hanya pakaian, sepatu dan tas, kini hijab pun telah menjadi bagian dari industri fashion di Indonesia.

Abdul Aziz Faiz dalam bukunya Muslimah Perkotaan Globalizing Lifestyle, Religion and Identity, memandang lahirnya komunitas hijabers adalah fenomena yang unik. Alasannya karena pada tataran pergaulan anak muda muncul istilah yang bergeser dan terkesan menjadi klasifikasi makna dari “hijab” dan kata “jilbab” ketika kata tersebut dikonotasikan pada pemakainnya. Dimana hijabers dikalangan anak muda dipandang sebagai pakaian Islam yang lebih gaul dan lebih trendi dengan mengkomodasi kemoderenan. Sementara itu, istilah jilbabers dipandang sebagai pakaian Islam yang lebar dan panjang, dari atas ke bawah dengan kesan kuno yang tidak bermodel-model sebagaimana kelompok hijabers.

Paparan di atas dipandang dalam konteks komodifikasi nilai keagamaan yang mekanismenya adalah kesalehan dan komodifikasi nilai keagamaan yang menjadi patokan. Maka dalam artikel ini, hal tersebut dapat dilihat dalam konteks makro dan mikronya. Dimana konteks makro, Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki kecenderungan untuk mendasarkan aktivitas dan pandangannya pada nilai keagamaan. Kecenderungan ini diperkuat oleh kajian tentang kelas menengah yang menunjukan ciri perkembangan aktivitas yang berdasarkan nilai keagamaan, dalam hal ini Islam, namun kecenderungan yang serupa dapat dilihat dari perkembangan kegiatan keagamaan lainnya.

Kemudian dalam konteks mikro, melihat kecenderungan dari individu yang menjadi bagian dari kelas sosial kelas menengah, menyukai kegiatan komunitas, mereka mendukung demokrasi dan kesatuan dan mengutamakan kesejahteraan dan ikatan kekeluargaan. Dengan demikian tidak mengherankan aktivitas seperti Hijabers Community menjadi acuan dari individu untuk menggunakan hijab. Mereka melakukannya tidak lagi berkaitan dengan ideologi dan politik seperti pada tahun 80-an, melainkan merupakan ekspresi kesalehan yang didukung oleh komodifikasi fesyen muslimah.[*]

Penulis: Annisa (Mahasiswa Angkatan 2018 Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Fakultas Ushuludin dan Pemikiran Islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

Referensi:

Abd Aziz Faiz. 2016. Muslimah Perkotaan Globalizing Lifestyle, Religion and Identity. Yogyakarta: SUKA Press.

Cut munawara. 2017. Skripsi : Komodifikasi Hijab Islam dan Tren Fashion di Klangan Mahasiswi Universitas Islam Negeri Ar-Raniry. Banda Aceh :Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN AR-RANIRY DARUSSALAM.

Nadiya Utlina Latifatunnuri. 2018. Skripsi: Hijab Syar’i : Antara Trend Dan Ideologi (Analisis semiotika Roland Barthes). Semarang:Fakultas Ushuluddin dan Humaniora UIN Walisongo.