Juara satu pengusaha muda syariah rajin puasa, salat dhuha, dan tahajjud

Ismail Bachtiar Founder Rektor Institute

TERKINI.id, MAKASSAR – Satu bulan  yang lalu, Ismail Bachtiar, Founder Rektor Institute menerima surat dari Bank Indonesia. Ismail dipanggil menjelaskan model bisnis yang selama ini dikerjakan.

“Saya kurang mengerti juga darimana referensi Bank Indonesia mengundang saya,” kata Ismail kepada makassarterkini.com, Senin 28 Agustus 2017.

Setelah presentasi dan menjawab beberapa pertanyaan dari dewan juri, Ismail terpilih sebagai pengusaha muda berbasis syariah untuk wilayah Sulawesi Selatan dan kawasan timur Indonesia. Mengalahkan belasan nominasi dari bermacam provinsi.

Rektor Institute adalah usaha bimbingan belajar, kata Ismail : tidak hanya mengejar keuntungan semata. Tapi harus ada misi membenahi karakter penerus bangsa.

“Dalam menjalankan usaha, kami memang rutin puasa senin kamis. Ada juga program salat dhuha dan tahajjud bagi karyawan yang bermalam di kantor,” kata Ismail, sarjana Fakultas Kesehatan Masyarakat Unhas.

Rektor Institute juga memiliki program Corporate Social Responsibility (CSR). Memberikan beasiswa bagi mahasiswa di Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Membayarkan SPP mahasiswa tidak mampu.

Rektor Institute juga mengajar anak-anak putus sekolah. “Kami juga ada program Rumah Tahfidz, juga memberikan uang bulanan SPP dan asrama,” katanya.

Rektor Institute tidak hanya beroperasi di Makassar. Ismail telah membuka cabang di Pulau Jawa. “Tidak lama lagi juga akan ada kantor perwakilan di Tiongkok,” kata Ismail.

Pemuda kelahiran Bone 3 Juli 1992 ini mendirikan Rektor Institute sejak tahun 2013. Sudah ribuan siswa yang diajar. “Sebelum ada Rektor Institute saya menggeluti banyak profesi. Pernah juga jual es teler,” kata Mail sapaan akrabnya.

Untuk keberlanjutan usaha, Ismail tidak lupa berinovasi. Menyesuaikan bisnis dengan iklim digital. ” Kami ada diversifikasi bisnis lain yang fokus ke digital dan berbasis aplikasi, baik di IOS ataupun android,” kata Ismail.

Ismail Bachtiar menjelaskan model bisnis Rektor Institute kepada dewan juri Festival Ekonomi Syariah 2017

Indonesia memiliki banyak pesantren dan lembaga pendidikan Islam lain. Tersebar di berbagai daerah.

Untuk Kawasan Timur Indonesia, berdasarkan data Kementerian Agama, terdapat 1.924 pondok pesantren yang tersebar di 19 provinsi.

Jika dioptimalkan, pesantren-pesantren dan lembaga pendidikan Islam lainnya dapat berperan sebagai pelaku, pendidik, dan penggiat ekonomi syariah yang handal.

Lembaga-lembaga pendidikan Islam ini tidak hanya memiliki potensi sumber daya insani yang besar, namun juga memiliki kemampuan distribusi yang luas. Melibatkan perekonomian masyarakat di sekitarnya hingga ke unit ekonomi yang terkecil.

Untuk dapat mewujudkan berbagai potensi dan menjawab tantangan ekonomi dan keuangan syariah, diperlukan strategi, kebijakan serta program pengembangan ekonomi dan keuangan syariah.

“Yang komprehensif, integratif, efektif, dan efisien,” kata Gubernur Bank Indonesia Agus D.W. Martowardojo dalam sambutan yang dibacakan Deputi Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, saat puncak pelaksanaan festival ekonomi syariah (FESyar) di Hotel The Rinra, Jumat 25 Agustus 2017.

Kepala Kantor Bank Indonesia Sulawesi Selatan Bambang Kusmiarso mengatakan, salah satu aspek pengembangan ekonomi syariah adalah kewirausahaan. Dengan memaksimalkan peran 28.691 pondok pesantren di Indonesia. Dengan jumlah santri 4,03 juta orang.

“Pesantren tersebut dapat dimanfaatkan sebagai pengembangan usaha mandiri,” kata Bambang.

Berita Terkait
Komentar
Terkini