Kalimat-kalimat kontroversial Rocky Gerung, dari IQ sekolam hingga kata dungu

Terkini.id – Dosen UI, Rocky Gerung resmi dilaporkan ke polisi lantaran pernyataannya yang menyebut kitab suci sebagai fiksi.

Tiga orang mewakili tiga agama, antara lain Islam, Kristen dan Buddha, resmi melaporkan dosen filsafat tersebut, pada Kamis 12 April 2018.

Menurut Permadi Arya, mewakili pelapor, pihaknya mengacu pada KBBI terkait penyataan pendapat Rocky Gerung.

“Rocky Gerung tidak bisa berkelit, dia tidak menyebut spesifik AlQuran, karena kata ‘Kitab Suci’ dalam KBBI merujuk ke AlQuran, Injil, dll. Sedangkan fiksi menurut KBBI itu artinya rekaan, khayalan, bukan kenyataan,” jelas Permadi Arya, saat melapor ke Polda Metro Jaya, Rabu 11 April 2018.

Pernyataan Rocky Gerung yang kontroversial bukan yang pertama kalinya. Beberapa pernyataannya sering disebar para haters Jokowi untuk mengeritik pemerintah.

Apa saja pernyataannya?

Sementara itu, penggiat medsos, Budi Setiawan, merangkum poin poin penting pernyataan Rocky Gerung yang disampaikan saat ILC TVONE:

POINT PENTING

  1. Kitab suci itu fiksi bukan fakta.
  2. Kitab suci, Babad Tanah Jawa, Mahabarata adalah fiksi
  3. Doa mengantar manusia masuk dalam energi fiksional memupuk harapan.
  4. Dalam agama, fiksi itu adalah keyakinan
  5. Reaksi tubuh ketika berdoa dan membaca novel sama.
  6. Gerung sebut Jokowi bereaksi palsu terhadap fiksi.

FIKSI ITU BAGUS

Asal usul dari masalah ini adalah soal fiksi atau fakta. Dan ini permulaan yang buruk. Karena waktu kita sebut fiksi, di kepala kita adalah fiktif. Fiction itu kata benda. Yaitu literatur dalam kata fiksi. Tapi karena diucapkan dalam satu forum politik, maka dia dianggap sebagai buruk. Fiksi itu sangat bagus. Dia adalah energy untuk mengaktifkan imajinisasi. Itu fungsi dari fiksi. Dan kita hidup dalam dunia fiksi lebih banyak dari dunia realitas. Fiksi lawannya realitas. Bukan Fakta. Jadi kalau anda bilang itu fiksi lalu kata itu jadi pejorative. Itu artinya kita menginginkan anak-anak kita tidak lagi membaca fiksi. Karena udah-udah bilang ini fiksi. Itu menjadi kata yang buruk.

KITAB SUCI ADALAH FIKSI

Kitab suci itu fiksi atau bukan? Siapa yang berani jawab. Kalau saya pakai definisi bahwa fiksi itu mengaktifkan imajinasi, kitab suci itu adalah fiksi. Karena belum selesai. Belum tiba itu. Babad Tanah Jawa itu adalah fiksi. Anda sebut apa aja. Jadi ada fungsi dari fiksi untuk mengaktifkan imajinasi. Menuntun kearah berfikir lebih imajinatif. Sekarang kata itu dibunuh.. dibunuh oleh politisi.. bayangin..

APAKAH FIKSI ITU PREDIKSI ?

Lebih dari itu. Bahkan bukan untuk prediksi tapi destinasi. Jauh lebih dari itu. Bukan sekedar anda bikin prediksi. Anda percaya pada fiksi. Dan anda dituntun oleh kepercayaan itu. Bisa tiba . Bisa nggak tiba. Gimana caranya? Itu fungsi Kitab Suci. Anda percaya Kitab Suci? Kenapa anda abaikan sifat fictional dari kitab suci. Kan itu bukan factual. Belum terjadi. Dan Anda dituntun oleh dalil-dalil dari kitab suci. Bukan sekedar prediksi. Dan saya mau terangkan ini supaya kita selalu punya semacam stok argumentasi sebelum disesatkan pembullyian politik.

FIKSI VS FIKTIF

Jadi sekarang fiksi itu baik. Yang buruk fiktif. Bisa bedain gak tuh. Diada-adain. Diakal-akalin. Kalau saya bilang Kitab Suci itu fiktif, bisa-bisa saya dipenjara. Tapi kalau saya bilang itu fiksi, saya punya argument. Karena saya berharap terhadap eskatologi dari kitab suci.

KITAB SUCI ITU FIKSI BUKAN FAKTA

Jangan sampai nanti ini menjadi satu hal yang menjadi kesalahpahaman. Karena itu saya terangkan supaya gak jadi dicari-cari jadi delik. Saya ngerti dari awal problem itu. Kalau saya Kitab Suci itu fiksi atau fakta? Anda mau jawab apa? Is is factual? Nggak. Jadi kesalahan kita , kita memakai kata fiksi itu dibully sehingga seolah-olah fiksi itu buruk.

KENAPA HARUS TAKUT BILANG KITAB SUCI ITU FIKSI

Kenapa kata fiksi itu kemudian anda takut diucapkan terhadap kita suci? Karena selama ini kata fiksi itu dibebani oleh kebohongan. Seolah fiksi itu bohong. Tadi saya katakan, bohong itu fiktif. Dalam Bahasa Indonesia, itu angka fiktif. Bohong. Tapi fiksi, energy untuk tiba ke Telos. Yang didepan itu. Kita ingin tiba di Telos itu. Kitab suci selalu ingin tiba di Telos. Ujung dari Kitab suci itu adalah harapan, janji. Dan itu sifatnya fiksi. Baik atau buruk? Baik. Jadi saya jelaskan itu supaya kita berhenti dengan debat fiksi atau fakta. Kalau mau berdebat itu fiksi atau fiktif. Bukan fiksi atau fakta. Selama ini, twitter itu di media sosial, kita dibuat dungu oleh mereka yang tidak paham tentang makna dari kata fiksi. Fiction. Mahabarata itu fiksi. Bukan fiktif.

FIKSI DALAM AGAMA ADALAH KEYAKINAN

Bagi saya, fiksi itu kreatif. Sama dengan orang yang beragama. Kreatif. Dia menunggu eskatonnya. Dia menunggu telosnya. Anda ucapkan doa, sebetulnya anda masuk dalam energy fiksional dan anda pupuk harapan. Bahwa dengan untaian doa itu, Anda akan tiba di tempat yang indah. Begitu fiksi bekerja. Lalu apakah fiksi itu adalah keyakinan? Bisa. Dalam agama, fiksi itu adalah keyakinan. Dalam litelatur, fiksi adalah energy untuk mengaktifkan imajinasi. Kimianya sama orang berdoa dan baca novel. Didalam tubuh sama. Jenis hormon yang diproduksi sama. Itu soalnya.

FIKSI DAN REAKSI PALSU JOKOWI

Jadi ini pengantar untuk menertibkan kekacauan publik yag dibuat oleh politsi. Yang kedua adalah soal adu meme di medsos. Jokowi Vs Prabowo. Saya ikuti itu. Saya ikuti reaksi presiden terhadap pidato Prabowo. Tetapi adalah yang palsu dalam cara Presiden bereaksi itu. Dia pasti palsu karena dia bereaksi terhadap pidato. Jadi Presiden tidak berpidato. Dia bereaksi pada pidato. Reaksi pertama terhadap kaos dengan hastaq apa itu.. 2019 ganti presiden. Lah hastaq itu adalah kan fiksi? Ngapain bereaksi terhadap fiksi ? kan belum terjadi. 2019. Pergantian presiden.

FIKSI DAN STABILITAS PSIKIS ( KEJIWAAN)

Jadi siapa yang ngajarin Presiden bereaksi terhadap fiksi itu. Reaksi terhadap fiksi, fiksi juga akhirnya. Tetapi kita bisa baca bahwa kalau orang bereaksi terlalu keras terhadap sesuatu yang fictional, itu adalah problem dalam stabilitas psikisnya.

Berita Terkait
Komentar
Terkini
Opini

Tanda-tanda Resesi

17 Agustus tahun ini.Tiga hari sebelumnya.Jam 6 pagi waktu New York.Itulah hari pertama kurva terbalik: yield bond jangka panjang lebih rendah dari yield bond
Opini

74 Tahun Indonesia, Merdeka dalam Penindasan

TANGGAL 17 Agustus 2019, bangsa Indonesia dari Sabang sampai Marauke memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-74 tahun.Berbagai macam bentuk kegiatanpun dilakukan dalam rangka
Opini

Memaknai Kemerdekaan Bukan Sekedar Simbolik

TUJUH belas Agustus merupakan momentum bersejarah sepanjang rentetan peristiwa, yang turut menghiasi dalam konsep Indonesia.Euforia kemerdekaan menggema dari berbagai penjuru mendengar teks proklamasi di
Opini

Aktivis Repotlusioner

SEJARAH gerakan mahasiswa secara heroik menggambarkan kecerdasan dan militansi perjuangan mahasiswa dalam menciptakan gerakan massa dengan tujuan memperbaiki kebobrokan tatanan yang ada di Indonesia.Bagi
Opini

Mengapa Pemadaman Listrik Begitu Lama?

DI mana-mana terjadi mati listrik. Di Amerika, Eropa apalagi Indonesia. Penyebabnya yang berbeda.Persoalannya: Seberapa sering.Seberapa luas.Seberapa lama.Ada kalanya sering mati lampu. Itu karena produksi
Opini

Mensegerakan Revisi PP No. 44 Tahun 2015

KEHADIRAN program Jaminan Sosial Ketenagakerjaan yang dikelola oleh BPJS Ketenagakerjaan terus memberikan manfaat bagi pekerja kita. Khusus untuk Program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan
Opini

Aspal Buton sebagai Aspal Berongga

Buku hasil adaptasi dari disertasi penulis  yang diselesaikan pada program studi Teknik Sipil Universitas Hasanuddin pada tahun 2018 lalu.Buku ini menganalisis pengaruh penambahan bahan
Opini

Titanium Megawati

"Tulis dong soal pidato Bu Mega di Bali"."Tidak mau"."Menarik lho pak. Apalagi kalau DI's Way yang menulis"."Politik. Sensitif," balas saya."Soal Sengon 1 Triliun itu
Opini

Cara BUMN Tiongkok Berkembang

PADA tahun 2015, pemerintah China melakukan reformasi radikal terhadap BUMN. Dari total 117 BUMN, disusutkan menjadi 98 BUMN saja. Dampaknya bukan hanya pengurangan jumlah BUMN