Jadilah bagian dari Kolomnis makassarterkini
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis makassarterkini.

‘Kami Trauma, Pak…’

Hisbullah Amin
Hisbullah Amin
Korban gempa NTB dirawat di halaman rumah sakit (facebook.com/hisbullah amin)

HINGGA H+3 Gempa Bumi di NTB, Rabu 8 Juli 2018, sebagian besar pasien masih di tenda-tenda lapangan parkir Rumah Sakit Umum (RSU) Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Mengapa mereka bertahan di tenda-tenda? apakah rumah sakit ini sdh penuh sesak di dalam? sama sekali tidak.

Di dalam RS, justru kosong melompong. Satu-satunya ruangan yang ada pasiennya di ruangan adalah hemodialisa (cuci darah). Karena tidak memungkinkan mesin HD di dorong ke luar.

Sebenarnya tim ahli sudah melakaukan survei dan menyatakan RS aman untuk ditempati. Namun, semua pasien takut dan trauma.

facebook.com/hisbullah amin

Setiap pasien yang kami bujuk, tidak mau dan cuma ini keluhannya: “Kami takut pak”. Sambil menangis ada yang berkata: “kami trauma pak!!”

Saya bisa memaklumi bahwa wajar mereka trauma. Tiba-tiba terjadi gempa susulan, sebagian tim kami pun terhentak, bangun tengah malam keluar kamar dengan pakaian seadanya.

Kemarin, memang masih sering terasa goyangan dan getaran. Di foto teman-teman facebook bisa melihat pasien-pasien yang berhamburan keluar memenuhi lapangan parkir RS.

Baca :Masjid Kuno Bayan, Masjid yang Tetap Kokoh Meski Digoyang Gempa 7 SR

Kebayang yah, gimana paniknya mereka tengah malam pukul 02.00 WITA, masing2 menyelamatkan diri, mengangkat botol infus, mendorong tempat tidur, dan menggendong anak.

Pokoknya, pasti suasana panik dan hiruk pikuk.
Hari Selasa, sebagian besar sudah mau kembali ke dalam rumah sakit. Tetapi tidak mau masuk ruang perawatan.

Mereka masih ngotot dan bertahan di pinggir-pinggir koridor yang berdekatan dengan lapangan untuk mengantisipasi. Jika ada gempa susulan, mereka dengan mudah menghambur ke luar.

Ada pemandangan yang membuat hati saya seperti tersayat. Sekumpulan bayi-bayi prematur dalam inkubator terpaksa tidak bisa ikut di dorong ke luar karena mereka butuh colokan listrik.

Terpaksalah mereka bertahan di ruang tunggu pendaftaran yang terdekat dari halaman RS karena cuma di situ ada aliran listrik.

Saat semua pasien dan keluarganya berhamburan keluar, tinggallah para perawat dengan perasaan was-was. Semoga gedung tempat mereka bernaung tidak runtuh.

Hari ini, H+3 bayi-bayi itu masih ada di situ. Saya tidak bisa bertahan lama di ruangan ini, tidak sampai hati mendengar tangisan bayi-bayi tersebut.

Baca :Detik-detik Jemaah Nyaris Tertimpa Atap Masjid Saat Gempa Lombok

Tak terasa bulir-bulir air bening membasahi kelopak mataku. Ya Allah yang menguasai kehidupan dan seluruh jagat raya ini, Ampunilah kami, lindungilah kami, lindungilah bayi-bayi ini, lindungilah dokter-dokter perawat yang bertahan merawat mereka.

Lindungilan seluruh pasien-pasien yang ada dalam Rumah Sakit ini, lindungilah keluarga pasien yg sekian hari tidak tidur dengan perasaan was-was, takut adanya gempa susulan.

Berikan mereka kekuatan, berikan kekuatan semua petugas medis di RS ini mulai dari direktur sampai cleaning service.

Ya Allah, engkau Maha Melihat, Maha Tahu segalagalanya, hari ini H+3 masih banyak saudara-saudara kami yang bertahan di tenda-tenda luar RS, tak terhitung jumlah keluarga pasien yg tidur di lapangan dgn beratapkan langit.

Berikan mereka ketabahan, kekuatan, berikan mereka petunjuk utk mau kembali ke dalam gedung. Ya Allah, gerakkan hati keluarga pasien agar mau mengikuti himbauan tim medis kembali ke ruang perawatan.

Ya Allah, Rabb semoga hari ini dan seterusnya tdk ada lagi gempa susulan, tdk ada lagi goyangan, tdk ada lagi gedung yg runtuh.
Kabulkan doa kami Yaaa Allah, Amin YRA…

Tulisan ini adalah kiriman dari kolumnis makasar terkini, isi dari tulisan ini adalah tanggungjawab penulis yang tertera, tidak menjadi bagian dan tanggungjawab redaksi makassar.terkini.id
Editor : Hasbi Zainuddin