Kampoeng Bambu Toddopulia desa wisata baru di Kabupaten Maros

Kampung Bambu Toddopulia di Dusun bungung-bungung, Desa Toddopulia, Kecamatan Tanralili, Kabupaten Maros / Wahyuddin Junus

Terkini.id, Maros – Sebuah desa wisata berhasil dibuat di Kabupaten Maros. Buka setiap hari minggu, desa ini diharapkan menjadi tujuan wisata alternatif. Meningkatkan perekonomian warga desa, dan membangkitkan semangat pemuda kembali membangun potensi desa.

Kampoeng Bambu Toddopulia berada di Desa Toddopulia, Kecamatan Tanralili, Maros. Hutan bambu dan hamparan sawah menjadikan desa ini pesona baru wisatawan.

“Kini masyarakat Desa Toddopulia menatap bambu dengan wajah ceria. Tak lagi melihatnya sebagai penopang bangunan semata. Tak ada lagi alasan ketidakmampuan mengolah bambu. Tidak tampak lagi pandangan yang meratapi kesunyian waktu bertani,” kata Wahyuddin Junus, Penggagas Kampung Bambu Toddopulia kepada Makassar Terkini, Senin 16 April 2018.

Menurut Wahyuddin, gasasan sebagai tempat wisata di Desa Toddopulia, sudah pernah dilakukan mahasiswa KKN Unhas di tahun 2017. Mahasiswa berpikir di lokasi KKN mereka bisa membuat taman wisata bambu. “Cuma belum terealisasi,” katanya.

Wahyuddin hadir melanjutkan mimpi mahasiswa dengan bantuan pengelola Pasar Papringan, Temanggung. “Dari sana inspirasi Kampoeng Bambu Toddopulia tercipta,” ungkapnya.

Jika Kampung Bambu diinisiasi oleh Wahyuddin bersama sejumlah komunitas, Pasar Papringan Temanggung diinisasi oleh komunitas sepeda pagi (spedagi). Sebagai satu komunitas global yang berpusat di Jepang.

“Dari situ diharapkan iklim kreatifnya bisa menyebar juga,” kata Wahyuddin.

Kebun bambu akan selalu dipelihara untuk bertumbuh. Tidak sekadar merasakan kesejukan di bawah sinar matahari.  Tapi juga menghadirkan olahan bambu dalam berbagai ornamen. Tentu saja dalam plan keterpilihan dan menjaga keseimbangan bumi. Desa tidak harus lemah dan menjadi beban negara.

Sudah saatnya desa mampu menyediakan sumber penghidupan, tanpa harus melepas tradisi lokal. Berproses memahami dan melepaskan ikatan parokial yang menjebak.

“Dua sisi kebangkitan budaya ini akan berkontribusi signifikan terhadap kemajuan desa. Maju tanpa harus meminggirkan tradisi lokal, sambil merawat tradisi tanpa harus ketinggalan zaman,” ungkap Wahyuddin.

Berita Terkait
Love
Haha
Wow
Sad
Angry
[tdcn-comments title="Komentar" post_id="81655" get="20" border="true" auto_load="true" order="ASC"]
Terkini