Masuk

Kapolda Sulsel Perintahkan Anggota Polisi Tembak di Tempat Pelaku Pembusuran

Komentar

Terkini.id – Maraknya kejadian pembusuran di Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel), khususnya di kota Makassar, sangat meresahkan masyarakat.

Olehnya itu, Kapolda Sulsel, Irjen Pol Nana Sudjana memerintahkan semua anggotanya untuk menembak di tempat pelaku pembusuran.

Menurutnya, perlu tindakan tegas dan terukur untuk memberi efek jera bagi mereka.

Baca Juga: Polrestabes Makassar Berhasil Gagalkan Peredaran Sabu seberat 43,6 Kg

Hal tersebut dikatakan Nana saat merilis hasil operasi Pekat Lipu di Mapolda Sulsel, Rabu, 30 November 2022. Menurutnya, tembak di tempat akan dilakukan jika pelaku melawan saat akan ditangkap.

“Pelaku kejahatan yang meresahkan masyarakat seperti pembusuran, kami akan lakukan tindakan tegas dan terukur sampai pada tahapan tembak di tempat,” tegas Nana.

Polda Sulsel mencatat ada 49 kasus pembusuran yang dilaporkan masyarakat selama Operasi Pekat Lipu, dari 9-29 November 2022. Kasus ini adalah salah satu yang paling banyak ditangani polisi.

Baca Juga: Gubernur Sulsel Apresiasi Kapolda Sulsel Selamatkan Keuangan Negara Rp25 Miliar

Dalam aksinya, pelaku selalu membekali diri dengan senjata tajam berupa busur dan ketapel. Karena itu, Kapolda menginstruksikan agar anggota di lapangan memberi tindakan tegas kepada para pelaku dengan cara ditembak.

“Jika membahayakan dan mengancam jiwa orang lain atau petugas, saya memberikan imbauan untuk dilumpuhkan dengan ditembak di tempat,” ujarnya.

Tembak di tempat merupakan tindakan tegas agar para pelaku jera dan tidak mengulangi perbuatannya.

Kata Nana, pihaknya sebelumnya sudah berkoordinasi dengan tokoh agama dan tokoh masyarakat. Bahkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah mengeluarkan fatwa bahwa busur itu haram.

Baca Juga: Remaja Pelaku Pembusuran di Makassar Dihadiahi Timah Panas

Fatwa itu mengatur bahwa haram hukumnya menyimpan, membawa dan menggunakan senjata api. Apalagi jika digunakan untuk meneror dan melukai orang lain.

Polisi juga sudah bekerjasama dengan kejaksaan untuk penanganan hukum. Pelaku pembusuran akan dikenakan UU Darurat nomor 12 tahun 1951 dengan hukuman sekitar 10 tahun.

Maka kami imbau kepada orang tua yang punya anak usia remaja dan dewasa, ketika putranya punya busur dan ketapel, kami imbau untuk menyerahkan barang itu kepada kami,” pungkasnya.

Sumber: SuaraSulsel.id