Kapolsek di Pinrang Ungkap Kronologi Kejadian Saat Bersimpuh Memohon Belas Kasihan Warga

Terkini.id, Pinrang – Aksi Kapolsek Cempa, Iptu Akbar, menghentikan tindak brutal massa di Kabupaten Pinrang menuai simpati banyak masyarakat.

Aksi yang dilakukan Iptu Akbar tersebut viral di media sosial pada Minggu, 10 November 2019, kemarin. Dari video yang beredar, terlihat aksi itu dilakukan di sebuah kebun, dan terdapat tanaman pohon pisang.

Sejumlah massa datang dengan membawa parang dan balok hendak menghabisi seorang petambang yang berlindung di pohong pisang tersebut. Namun, Iptu Akbar langsung melerai dan memohon belas kasihan warga untuk menghentikan aksi mereka.

Baca Juga: Lagi, Kapolsek Cempa Sabet Penghargaan

“Aja pak, aja kasi (jangan pak, jangan kasihan),” demikian suara Iptu Akbar yang terekam dalam video tersebut.

Iptu Akbar terlihat rela duduk bersimpuh dengan cakupan tangan untuk memohon kepada massa untuk tidak main hakim sendiri.

Baca Juga: Viral, Kapolsek Bersimpuh di Hadapan Massa yang Bawa Parang dan...

Ia akhirnya berhasil menyelamatkan petambang tersebut yang sudah tersungkur dan dikepung massa yang membawa bambu.

Kepada awak media, ia bercerita kronologi peristiwa itu. Iptu Akbar mengatakan aksinya itu merupakan tindakan spontan yang ia lakukan melihat kemarahan warga yang sudah tak terbendung.

“Kenapa saya langsung terduduk, karena masyarakat sudah dalam keadaan marah sekali, sudah nggak bisa dibendung emosinya. Tangan saya langsung bermohon,” cerita Iptu Akbar, seperti dilansir dari Detik, Senin, 11 November 2019.

Saat itu, kata Iptu Akbar, dirinya bersama 4 anggota polisi pergi ke lokasi kericuhan massa antara warga dengan petambang. Beberapa anggotanya diarahkan ke Desa Salipolo, sementara dirinya ke lokasi tambang pasir.

“Situasi saat itu sudah panas, para petambang sudah siap berhadapan dengan warga. Warga memang menolak aktivitas tambang di wilayahnya karena dinilai merusak lingkungan,” ujar Akbar.

Ketika tiba di lokasi kejadian, ia pun sempat mendatangi para petambang dan mencegah warga mendekat. Namun, kehadiran Iptu Akbar sebagai aparat kepolisian tidak dihiraukan oleh warga.

“Kami tidak dihiraukan, malah masyarakat merangsek masuk, maju sampai ke tempat ekskavator, di sana mereka melakukan aksi anarkis pembakaran. Yang menyerang duluan masyarakat desa yang tidak menginginkan ada kegiatan tambang di situ,” ungkap Akbar.

Saat proses negosiasi berlangsung, kericuhan tiba-tiba terjadi. Warga yang marah membawa bambu runcing, sementara para petambang menenteng parang.

Sponsored by adnow
Bagikan