Karya sastra Sinrilik, prosa sejuta mitos

Sinrilik, prosa yang di lagukan

TERKINI.ID, – Karya sastra dalam budaya Makassar cukup kaya dan beragam. Ada yang berbentuk syair atau puisi, seperti Syair Pakkio Bunting, Syair Pa’doangang, Syair Angngaru dan lain-lain. Ada juga karya sastra yang berbentuk prosa yang disampaikan dengan cara dilagukan secara berirama yaitu Sinrilik.

Berdasarkan isi dan cara melagukannya, sinrilik dibagi atas dua macam, yaitu sinrilik pakesok – kesok dan sinrilik bositimurung. Sinrilik pakesok – kesok adalah sinrilik yang dilagukan dengan iringan kesok – kesok (rebab). Isinya melukiskan tentang sejarah perjuangan dan kepahlawanan seorang tokoh. Adapun naskah sinrilik yang dapat diiringi dengan kesok – kesok, diantaranya Sinrilik Kappalak Tallumbatua dan Sinrilik I Makdik Daeng Rimakka.

Sastra bositimurung adalah sinrilik yang dilagukan tanpa diiringi alat musik kesok – kesok, dan biasanya dilantunkan pada tempat yang sunyi di kala orang yang berada di sekelilingnya sedang tidur nyenyak. Sinrilik bositimurung pada dasarnya berisi hal – hal tentang kecantikan seorang gadis, merindukan kekasih, beriba hati dan kesedihan seorang istri yang ditinggal oleh suaminya.

Baca :Mengenal Lebih Dekat Mattojang, Tradisi Bugis yang Unik

Konon, dari cerita mulut ke mulut, sinrilik mulai dikenal orang sekitar tahun 1545. Saat itu Raja Gowa ke-10, Tumapa’risi Kalonna, membuat sebuah perjanjian dengan Raja Bone, Laulio Bottoe. Kurang jelas memang perjanjian macam apa itu, namun seorang seniman sinrilik H. Sirajuddin Bantang pernah mengakui, sekitar abad ke-16 itulah pertama kalinya sinrilik tampil sebagai kesenian kerajaan.

Seorang ahli bahasa dari Belanda bernama B.F. Matthes yang diyakini sebagai orang pertama yang berjasa mencatat sinrilik dalam teks tertulis. Sebuah buku berjudul Makassaarsche Chrestomathie, yang ia terbitkan pada 1860, Matthes telah mentranskrip dan menerjemahkan sinrilik I Datu Museng dan juga sinrilik Kappalak Tallumbatua. Dari catatan Matthes inilah sinrilik dikenal banyak orang.

Tetapi apabila ditelusuri lebih jauh, ternyata catatannya menyimpan pertanyaan besar. Betulkah catatan-catatan transkrip dan terjemahan itu mencerminkan hati dan pikiran rakyat Makassar waktu itu? Atau jangan-jangan justru bercampur dengan imajinasi kolonial negeri tempatnya berasal.

Adakah karya sastra ini masih dikumandangkan sampai sekarang, lestarikan budaya, sayang jika budaya ini dilupakan.

Baca :Menghormati Tamu Suku Bugis dengan Menggunakan Sarung

Sumber-MT