Keluarga Pasien Corona di Makassar Ungkap Kisah Haru di Balik Isolasi Sang Ibu

Pasien Covid-19/ ist

Terkini.id, Makassar – Seiring penyebaran wabah atau pandemi corona Covid-19 yang terus meluas hingga jumlah pasien pun terus bertambah, salah satu warga di kota Makassar menceritakan kisah haru di balik isolasi dirinya dan keluarganya untuk memutus penyebaran virus Corona.

Warga tersebut bernama Caecilia Kapojos. Menurut dia, ibunya sedang pemulihan Covid-19 isolasi mandiri di rumah setelah dirawat di RS Stella Maris Makassar, 23 hingga 30 Maret lalu.

Disebutkan juga bahwa masa isolasi mandiri ini, ibunya yang sedang berstatus (PDP) dalam pantauan Dinas Kesehatan Makassar yang telah dirujuk oleh RS. Ia beserta ART yang sehari-hari bersama PDP ikut dipantau selama 14 hari oleh Puskesmas yang ditunjuk oleh DinKes, terhitung dari tanggal 30 Maret 2020 lalu.

“Awalnya mama diopname di RS dengan keluhan sakit maag, tidak ada nafsu makan 23 Maret 2020, kemudian ada keluhan batuk pada 24 Maret 2020. Hasil cek dokter menyatakan Mama mengidap Pneumonia,” bebernya kepada terkini.id.

Ia juga menyampaikan saat sang ibunya sedang di rawat di RS Stella Maris Makassar, Cecelia mengaku masih Work From Home di Jakarta cemas bukan main, karena informasi mengenai Pneumonia itu riskan untuk terpapar virus Corona, apalagi bagi Lansia.

Menarik untuk Anda:

Bahkan Ia mengaku makin cemas karena dirinya tidak dibolehkan oleh suami dan keluarga di Jakarta untuk naik pesawat berkunjung ke Makassar menengok Mama karena potensinya sebagai carrier kuman-kuman dari bandara maupun pesawat untuk berdekatan dengan sang Mama.

Peraturan pemerintah mengenai perpanjangan pembatasan sosial bikin dirinya yang masih di Jakarta bertambah deg degan cemas kalau saja pemerintah menutup bandara lalu ia tidak bisa “terbang” ke Makassar.

“Di saat yang sama tanggal 26 Maret 2020 hasil cek RS menyatakan Mama positif terpapar Covid-19. Panik buying, saya langsung pesan tiket ke Makassar. Bukan hal mudah setiap saat berdekatan dengan PDP,” tegasnya.

Cara sederhana kata dia adalah Physical Distancing pun tidak bisa ia lakukan karena keadaan sang Mama masih lemah selama tiga hari yakni tidak ada nafsu makan, lidah terasa pahit, untuk bangun harus dipegang, bolak balik kamar mandi karena diare, ganti pampers.

“Saya bolak balik cuci tangan ganti masker. Sehari saya ganti masker empat kali serta sering ganti baju. Masa isolasi mandiri, saya batasin ruangan yang boleh dimasuki Mama. Perlengkapan makan saya pisahkan, cuci perlengkapan makan di air mengalir,” urainya

Ia juga bercerita sedang merasakan betapa berat pekerjaan garda depan paramedis di RS dan pekerjaan yang masih harus keluar rumah karena tidak bisa dilakukan WFH, beresiko juga untuk bertemu carrier Covid-19.

“Biar virus Corona ini lekas berkurang yang terpapar. Mari lawan Covid-19,” terangnya.

Terakhir, saat ditanya soal bagaimana sikap tetangganya di balik keluarganya melakukan isolasi mandiri di rumah, Ia mengaku sangat bersyukur dianugerahi tetangga saling menjaga dan perhatian.

“Tetangga melalui pak RT dan Ibu RW sarankan agar menjaga jarak fisik. Tetangga saling kirim doa dan perhatian setiap hari melalui WA. Kiriman makanan juga diberikan oleh tetangga. Bahkan di komplekku, pak RT langsung mendisinfektan area kompleks. Tukang sayur langganan saya berikan masker cuci pakai agar setiap melintas depan rumahku selalu memakai masker,” tutupnya.

Konten Bersponsor

Mungkin Anda Suka

BI Turunkan Suku Bunga Acuan 3,75 Persen, Ini Alasannya

Sindir Gus Miftah, Ustaz Maaher: Pengajian dengan Lonte Paling Menyenangkan

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar